Kresna Duta

Setelah selesai 12 tahun penderitaannya, Pendawa Lima dan Drupadi menetap di Wirata. Yudistira telah mengirim surat ke Pancala untuk memberitahu Prabu Drupada bahwa Drupadi dalam keadaan sehat di Wirata dan memohon kedatangannya karena Drupadi sangat rindu kepada orangtuanya. Ketika Pendawa sedang berkumpul di istana bersama prabu Matsyapati, dari langit turun Gatotkaca yang mendengar berita bahwa Pendawa berada di Wirata. Kedatangan Gatotkaca seperti biasa disambut ayahnya yang berdiri diluar. Yudistira meminta Gatotkaca untuk mengundang kedatangan Sri Kresna. Gatotkaca segera melesat ke udara menuju Dwaraka. Di Dwaraka, Sri Kresna sedang berbincang dengan Subadra dan Abimanyu. Mereka berdua ingin berangkat ke Wirata untuk bertemu Arjuna namun oleh Sri Kresna disuruh menunggu undangan dulu dari Wirata karena Sri Kresna tahu bahwa Gatotkaca sedang dalam perjalanan untuk mengundang kedatangannya.

Ketika Gatotkaca tiba, Sri Kresna telah mengetahui niatnya. Subadra dan Abimanyu segera berangkat dengan kereta kuda yang sudah disiapkan Sri Kresna. Gatotkaca kemudian disuruh kembali ke Pringgondani karena dirinya juga mempunyai tanggung jawab yang besar. Setelah memberi instruksi kepada Sencaki sebagai pengganti Sri Kresna selama dirinya tidak ditempat, Sri Kresnapun melesat ke angkasa. Tak lama kemudian dirinya telah mengejar kereta kuda yang membawa Subadra dan Abimanyu. Mendekati Wirata, Sri Kresna melihat kereta kuda dari Pancala. Ketika sampai di Wirata, kedatangan Sri Kresna disambut oleh para Pendawa. Oleh Sri Kresna diceritakan bahwa kereta dari Pancala sedang mendekati Wirata sementara Subadra dan Abimanyu dalam perjalanan, Yudistira bersyukur karena Drupadi dapat segera bertemu dengan orangtuanya, sementara Arjuna bergembira karena dirinya kangen kepada Subadra dan Abimanyu. Kereta kerajaan Pancala pun tiba dan tak lama kemudian datang kereta Subadra dan Abimanyu. Semuanya disambut dengan hangat oleh Prabu Matsyapati. Prabu Matsyapati mengusulkan agar Abimanyu dinikahkan dengan putrinya Utari. Arjuna setuju dengan usulan sang Prabu dan meminta persetujuan dari Yudistira dan Sri Kresna. Yudistira juga menyetujui karena dirinya merasa berhutang budi kepada Prabu Matsyapati atas perlindungannya sementara Sri Kresna setuju karena pernikahan ini akan mempererat persaudaraan.

Setelah disetujui, maka undangan2 pun dikirim untuk menghadiri pernikahan Abimanyu dan Utari, diantaranya adalah undangan yang dikirim ke Mandura dan Hastina untuk mengundang kedatangan Prabu Baladewa dan tetua2 Hastina beserta para Kurawa sekalian. Prabu Baladewa tentu saja senang mendegar bahwa keponakannya Abimanyu akan menikah dan segala menuju ke Wirata. Di Hastina suasananya agak berbeda, Duryudana dan para Kurawa tidak berniat datang maka oleh Sangkuni diberi alasan bahwa mereka sedang sibuk dengan urusan kerajaan Hastina sehingga tidak bisa menghampiri. Sementara Resi Dorna yang tidak ingin bertemu dengan Prabu Drupada memberi alasan bahwa dirinya sudah tua dan tidak cocok untuk berjalan jauh. Sehingga dari Hastina hanya Eyang Bisma, Arya Widura dan Ibu Kunti yang berangkat ke Wirata. Ketika sampai ketiga tetua Hastina segera diterima dengan hangat dan penuh hormat. Kedatangan Prabu Baladewa juga diterima dengan hormat oleh Sri Kresna dan Baladewa mengujarkan penyesalannya karena dirinya tak sering melihat Abimanyu karena Abimanyu lebih sering tinggal di Dwaraka. Sri Kresna mengerti bahwa abangnya hanya bercanda menjawab bahwa Abimanyu tidak dipaksa harus tinggal di Dwaraka tapi karena Subadra lebih senang tinggal dengan Sri Kresna maka Abimanyu juga tinggal di Dwaraka bersama ibunya.

Setelah upacara pernikahan selesai para tamu undangan pulang ke tempat masing, kecuali tamu2 kehormatan. Sri Kresna maju kemuka dan bertanya apa rencana adik2 Pendawa sekalian. Yudisitira berkata bahwa dirinya akan meminta haknya kembali atas Indrapasta karena “hukumannya” telah selesai. Sri Kresna pun lanjut bertanya apa yang akan dilakukan jika Duryudana menolak untuk mengembalikan Indrapasta. Yudistira sebagai orang yang jujur dan cinta damai menjawab bahwa dirinya tidak ingin membuat kerusuhan yang menebar bibit dendam antara Pendawa dan Kurawa maka dirinya bersedia untuk mengembara saja jika Indrapasta tidak dikembalikan. Sri Kresna kemudian menasehati bahwa jika itu keinginan Yudistira maka dia tidak akan mencegahnya, namun sebagai saudara tertua Yudistira harus memikirkan kesejahteraan saudara2nya dan juga Drupadi istrinya. Apakah mereka akan dibawa mengembara juga selamanya, apa tidak kasihan kepada Drupadi. Yudisitira terdiam mendengar ucapan Sri Kresna, sementara Bima yang memang sudah panas menjawab dengan tegas “Kita hantam saja dan rebut kembali dengan paksa !”. Saat itu Prabu Baladewa berdiri dan berkata bahwa dirinya tidak ingin ikut campur dengan urusan Pandawa dan Kurawa, dirinya datang untuk menghadiri pernikahan Abimanyu dan karena sekarang telah selesai dirinya mengundurkan diri, setelah berkata Prabu Baladewa bergerak keluar dan pulang ke Mandura. Para Raja yang hadir terkejut dengan tindakan Baladewa, Prabu Drupada pun berkata bahwa jika Baladewa yang dalam keadaan seperti itu pasti dirinya tidak basa basi lagi langsung menyerang Hastina.

Sri Kresna yang paham sikap abangnya segera membela dengan berkata bahwa Baladewa orangnya jujur dan terus terang serta berpendirian untuk tidak ikut campur dengan urusan orang lain. Eyang Bisma kemudian menegahi bahwa sebaiknya masalah ini dibicarakan dulu kepada Kurawa di Hastina, para Pendawa sebaiknya mengirim seorang duta untuk membicarakan masalah ini. Arya Widura kemudian berkata bahwa sebaiknya Sri Kresnalah yang diutus sebagai duta karena dirinya orang yang adil bijaksana dan juga pandai. Semua hadirin setuju dengan usul tersebut dan para Pendawa memohon kesediaan Sri Kresna sebagai Duta Pendawa ke Hastina. Sri Kresna sebenarnya tahu bahwa tugasnya kali ini akan mengalami kegagalan karena di masa depan akan terjadi perang Bharatayuda tetapi tetap menyanggupi karena tugasnya sebagai duta juga bagian dari rencana dewata.

Setelah diputuskan Sri Kresna sebagai duta, Eyang Bisma , Arya Widura dan Ibu Kunti kembali ke Hastina untuk memberitahu pihak Hastina dan menyiapkan kedatangan Sri Kresna. Sri Kresna kemudian melesat ke angkasa kembali ke Dwaraka. Tak lama kemudian terlihat Sri Kresna berangkat dengan kereta kerajaan yang dikusiri oleh Sencaki. Bagi Sri Kresna lebih gampang jika jalan udara tapi karena tugasnya sebagai duta akan terlihat tidak sopan maka dia memilih untuk jalan darat. Ketika tiba di Hastina, kereta Sri Kresna segera menuju ke tempat Arya Widura untuk memberi hormat kepada Ibu Kunti dan paman Widura. Sementara itu semua pembesar Hastina telah berkumpul di sebuah gedung besar menunggu kedatangan Sri Kresna dan terdengar hiruk pikuk dari Kurawa yang jumlahnya 100. Ketika Sri Kresna memasuki gedung, suasana menjadi sunyi senyap. Sri Kresna kemudian mengatakan bahwa kedatangannya kali ini ialah sebagai duta dari para Pendawa yang telah menjalani hukumannya dan kini meminta kembali haknya atas Indrapasta.

Duryudana dan para Kurawa telah bertekad untuk tidak mengembalikan Indrapasta telah mendapat “latihan” dari Sangkuni berbagai alasan untuk tidak mengembalikan Indrapasta. Duryudana berkata bahwa tindakan Pendawa melakukan upacara Rajasuya menunjukkan bahwa Pendawa mengangungkan diri mereka sendiri. Sri Kresna menjawab bahwa Rajasuya itu bukan keputusan Yudistira melainkan merupakan kesepakatan raja raja yang mengakui Yudistira sebagai raja yang arif bijaksana. Duryudana tidak mau kalah dan memberi alasan lain bahwa para Pendawa telah melanggar hukumannya ketika terjadi perselisihan antara Hastina dengan Wirata, karena para Pendawa telah menampakkan diri dan bahkan mengangkat senjata terhadap para Kurawa saudaranya sendiri. Sri Kresna membalas dengan berkata bahwa saat itu menurut hitungannya, para Pendawa sudah terlepas dari masa hukuman mereka dan mereka mengangkat senjata karena saat itu mereka sedang mengabdi di Wirata dan sebagai penduduk Wirata merupakan kewajiban mereka untuk mengangkat senjata demi membela negara.

Sri Kresna kemudian melanjutkan bahwa jika memang Pendawa ingin mencederai para Kurawa bisa dilakukan dengan gampang ketika para Kurawa sedang tak berdaya di dalam hutan tapi sebaliknya Pendawa malah menolong Kurawa**. Duryudana kemudian berkata bahwa para Pendawa semestinya menolong Kurawa ketika dalam kesulitan, tidak setelah mereka dipermalukan. Sri Kresna menjawab bahwa rimba itu sangat luas dan saat itu Pendawa sedang menjalani hukuman sehingga mereka sengaja menyingkir supaya tidak menganggu para Kurawa yang sedang bersenang2. Duryudana kembali berkata, bahwa tindakan Pendawa merupakan bukti bahwa Pendawa menanggap diri mereka lebih baik daripada para Kurawa dan dalam hati mereka mentertawakan Kurawa yang sedang dalam kesusahan sehingga para Kurawa menjadi terhina. Eyang Bisma berusaha menengahi bahwa sebagai saudara sudah seharusnya saling membantu tanpa pamrih dan jangan menyimpan dendam antar saudara. Duryudana kemudian menjawab bahwa Eyang Bisma memang dari dulu lebih memilih Pendawa daripada Kurawa. Arya Widura yang kesal atas jawaban Duryudana berkata dengan keras “Duryudana, perkataanmu sudah keterlaluan dan bukan tindakan seorang raja aku tidak akan merestui semua tindakanmu”. Dengan ketus Duryudana menjawab “Saya juga tidak ingin restu dari paman”. Melihat tindakan Duryudana yang melanggar norma2 terhadap Bisma dan Widura, Sri Kresna bertanya terakhir kalinya apakah Duryudana akan mengembalikan hak Indrapasta. Duryudana menjawab, “Para Pendawa telah menghina keluarga Hastina terutama para Kurawa. Semua Kurawa telah bersepakat tidak akan duduk setingkat dengan para Pendawa dan tidak akan mengembalikan Indrapasta”. Jawaban ini membuat Sri Kresna kesal dan berkata “Duryudana, para tetua disini akan menjadi saksi atas perkataanmu, perkataanmu ini harus kau pertanggungjawabkan di kemudian hari. Aku akan memberitahukan keputusanmu kepada Pendawa!”.

Sri Kresna kemudian meninggalkan gedung pertemuan tetapi tidak langsung menuju ke tempat paman Widura. Sri Kresna menuju kesebuah taman di dalam istana Hastina. Sri Kresna kemudian berdiri ditengah2 taman itu, tampak matanya bersinar tanda amarahnya yang telah memuncak. Kemudian muncul sebuah raksasa sebesar gunung yang merupakan tiwikrama Betara Wisnu jika amarahnya tak tertahankan lagi. Kehadiran raksasa ini membuat seluruh Hastina gempar dan ketakutan. Para Kurawa dan Sangkuni mencari tempat yang gelap untuk bersembunyi di dalam gedung pertemuan. Sementara Resi Dorna juga merasa ketakutan dan tidak berani meninggalkan gedung. Sementara Eyang Bisma dan Arya Widura dengan tenang meninggalkan gedung pertemuan seakan2 tidak terjadi apa. Kemudian Karna juga keluar dari gedung pertemuan tanpa rasa takut. Tiwikrama juga membuat kegemparan di kahyangan, para dewa menjadi khawatir dan segera turun untuk melihat Sri Kresna yang bertiwikrama.

Betara Indra dan Betara Bayu berada diantara dewa yang turun dan Betara Bayu berkata kepada Betara Indra, “Saudara Indra, kita harus melakukan sesuatu, lihatlah angin panas akibat napas Tiwikrama”. Betara Indra menjawab, “Entahlah, rasanya diriku tak dapat melawan kesaktiannya”. Betara Bayu kemudian berkata, “Tidak ada kesaktian yang dapat melawannya, seluruh dewa yang ada disini tidak akan dapat menghentikan tiwikrama. Kita tidak boleh melawan dengan kekerasan tapi harus dengan kelembutan. Hanya Betara Dharma yang dapat menenangkan kemarahan Tiwikrama.” Salah seorang dewa kemudian segara berangkat untuk menjemput Betara Dharma. Betara Dharma merupakan dewa kebijaksanaan dan kesabaran walau tidak sesakti Betara Indra atau Bayu, Tiwikrama hanya kembali menjadi Sri Kresna jika amarahnya telah hilang sehingga memerlukan aji kesabaran Betara Dharma. Setelah datang ke mayapada dan menyaksikan Tiwikrama, Betara Darma pelan2 mendekati Tiwikrama. Ketika dekat Betara Dharma memberi hormat kepada sang Tiwikrama. Tiwikrama menjawab dengan sebuah peringatan, “Grrr jangan dekat dekat Dharma jika tidak ingin kucabik2 tubuhmu”. Betara Dharma dengan tenang menjawab, “Aku bukanlah musuhmu wahai Tiwikrama, bahkan aku bersedia membantumu untuk mengalahkan musuhmu”. Sang Tiwikrama menjawab, “Aku tidak butuh bantuanmu untuk menghancurkan Kurawa Kurawa sombong ini”. Betara Dharma kemudian menuturkan, “Sesakti itukah para Kurawa sehingga perlu dihancurkan oleh Tiwikarama ? Apakah kejahatan mereka mengguncang mayapada seperti Rahwana ? Apakah perlu Tiwikrama yang sakti sebagai wakil dewata untuk turun tangan langsung menghancurkan kejahatan Kurawa? Saudara Wisnu mohon ingat bahwa jika Kurawa dihancurkan oleh Tiwikrama ini akan membawa kemaluan bagi seluruh Dewata. Apakah para Pendawa tak dapat membela diri mereka sendiri sehingga memerlukan bantuan para dewata? Mohon adik Wisnu memperhitungkan lagi tindakan adik ini yang akan mencoreng muka seluruh dewata dan juga memalukan para Pendawa”.

Perkataan Betara Dharma disertai oleh aji kesabaran dan dalam sekejap Tiwikrama itu telah menghilang dan kembali sebagai Sri Kresna. Sri Kresna kemudian bergerak menuju tempat paman Widura dan setelah memberi hormat kepada Arya Widura dan Ibu Kunti naik ke kereta kudanya meninggalkan Hastina. Di tengah perjalanan, Sri Kresna meninggalkan Sencaki dan keretanya yang menuju ke Dwaraka sementara dirinya terbang menuju Wirata untuk menyampaikan berita kepada para Pendawa.

Sekianlah akhir dari tugas Sri Kresna sebagai duta Pendawa dan juga pertanda dimulainya perang Bharatayuda antara kebaikan dan kejahatan.


** Di awal hukuman Pendawa, para Kurawa masuk ke rimba untuk berpesta pora menghina para Pendawa. Namun mereka menjadi mabuk dan diserang oleh gerombolan raksasa. Para Kurawa dalam keadaan mabuk tidak dapat melawan raksasa2 tersebut dan akhirnya diikat sementara para raksasa berpesta pora atas keberhasilan mereka. Saat itulah para Pendawa datang menolong para Kurawa dan membasmi gerombolan Raksasa tersebut. Tanpa berkata apa2, Para Pendawa melepaskan ikatan Sangkuni, Duryadana dan Dursanana para Pendawa kemudian melanjutkan hukuman mereka dibuang di dalam hutan.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: