Palasara Kawin Dengan Dewi Lara Amis Di Tengah Kali

Kisah Palasara, Lara Amis dan Abiyasa ini penuh dengan simbolisme dan mistisme. Minggu lalu diceritakan tentang Gunung kawin dengan sungai kemudian melahirkan manusia. Dilihat secara lahiriah dan harfiah, kelihatan sangat aneh sekali. Tetapi kalu dilihat secara intuitif dan simbologis atau dengan bahasa pujangga, memang demikianlah seharusnya. Karena gunung itu melambangkan lingga atau kejantanan,s edangkan sungai melambangkan lingga atau kejantanan, sedangkan sungai melambangkan kesuburan atau yoni atau kewanitaan. Di kota Jakarta, kita juga dapat melihat lambing lingga dengan yoni dalam satu tempat, yaitu tugu Monas. Tugunya melambangkan lingga, sedang cekung dan ruang tenang dibawah tugu melambangkan yoni. Tentunya lambang Monas tersebut dimaksudkan sebagai keabadian yang turun menurun sepanjang zaman.

Dalam Mahabharata disebutkan bahwa setelah sungai suktimati hamil berhentilah aliran sungai. Memang benar bahwa kehamilan itu menghentikan pengaliran. Mengapa dipilih gunung dan sungai? Karena memang gunung dan sungai sudah jodohnya dan mengandung empat anasir, yaitu: tanah, air, api dan angina. Tidak ada gunung tanpa sungai, sebaliknya tidak ada sungai tanpa (dari) gunung. Dalam (tanah) gunung ada apinya, sedang dalam (air) sungai ada udaranya. Simbolisme proses cinta atau proses “turun-temurun” ini bukanlah “othak-athik” dan akalnya orang sekarang saja, tetapi sudah ada sejak filsafat Empedokles dari Yunani (490-530 SM). Silahkan baca “Alam Pikiran Yunani” jilid I hal 35, karya Bung Hatta atau karya Dr. K. Bertens.

Alam itu pada mulanya adalah satu yang disatukan oleh cinta atau “phitotes”. Cinta adalah suatu kodrat yang membawa minat bersatu dan bercampur. Tetapi sebaliknya alam yang menjadikan pokok perpisahan dan perceraian. Dalam wayang yang sudah berumur 3500 tahun itupun terdapat juga lambang proses cinta (philotes0 yang menyebabkan kelahiran itu.

Coba perhatikan, sebelum ada lawon wayang, yang ada pertama kali adalah kelir putih kosong (awing-uwung) yang ditengahnya ada dua buah gunung, yaitu gunung jantan dan betina yang berimpit menjadi satu. Karena persatuan tersebut. (setelah dalang menarik gunungan itu ke bawah) mulailah ada lakon atau hidup atau kelahiran. Munculnya tokoh wayang raja dalam kelir itu melambangkan munculnya atau lahirnya jabang bayi.

Nah, jelaslah uraian simbologi di atas. Marilah sekarang kita mengungkap tokoh Palasara dan kelahiran Abiyasa secara metafisis. Tentu saja akan saya batasi hal-hal yang dapat dibaca oleh umum.

Syahdan, di Saptarengga yang juga disebut Dieng, ada seorang pendeta bernama manumanasa berputera Sakutrem, kemudian Sakri berputra Palasara. Resi Palasara inilah yang digubah dalam kitab Pustaka Raja Purwa sedemikian rupa sehingga menjadi pencipta negara Astina. Mengapa? Demikianlah ceritanya:

Di kala resi Palasara sedang bertapa, ada sepasang burung emprit bersarang dan bertelur sampai menetaskan telurnya di atas kepala Palasara. Tiba-tiba suami isteri burung emprit itu tak mau lagi memberi makan kepada anak-anaknya. Ini semua adalah godaan tetapi juga jalan (laku). Hampir setiap hari Palasara mendengar tangis anak burung yang kelaparan itu, sedangkan ayah dan ibunya malahan sibuk bercumbu-cumbuan di muka hidung Palasara. Namun Palasara tidak boleh marah. Maka Palasara mencoba membawa ank burung itu kepada ayah ibu-nya. Tetapi sepasang burung emprit itu seperti meledek dan menjauhi Palasara, seolah-olah mereka tak mau bertanggung jawab. Perjalanan Palasara terhalang oleh sungai Jamuna. Tak ada seorang pun yang kelihatan kecuali seorang wanita pendayng perahu bernama Durgandini. Maka sapanya:

“Hai wanita canti”, tegur Palasara, “Bawalah aku ke seberang sungai agar aku dapat menyusulkan anak burung emprit ini kepada induknya”>

Maka Palasara naik perahu dan Durgandini mendayng ke seberang. Basah kuyup keringat Durgandini. Ia kelihatan sangat lelah sekali mendayung perahunya. Ketika perahu sampai ditengah sungai, ada angina yang nakal menyingkap kain Durgandini dan keluarlah bau amis dari badannya. Melihat kejadian ini Palasara merasa iba, tidak merasa terganggu oleh bau amis, bahkan tertarik akan kecantikan Dewi Durgandini. Maka diusapnyalah keringat Lara Amis yang bercucuran itu dan perahu bergoyang-goyang. Tiba-tiba perahu dayung itu pecah dan belah menjadi dua. Mereka tenggelam dalam alunan air, terengah-engah menuju ke tepi pulau. Konon ceritanya mereka terdampar di ssebuah pulau, sedangkan kedua belah perahu itu berubah menjadi manusia kembar bernama Kencarupa dan Rupakenca, sedang penyakit atau “malanya” menjadi Rajamala dan bakteri atau “set”nya menjadi Seta. Pendek kata Lara Amis kemudian mengandung dan melahirkan Abiyasa di tengah pulau itu. Oleh karenanya Abiyasa juga bernama Dwipayana yang artinya “Manusia lahir di pulau”. Sedangkan bau amis yang diderita Durgandini hilang dan berubah menjadi bau harum yang dapat tercium sejauh 100 yojana, oleh karenanya Durgandini juga bernama Satayojanagandi.

Kita tentu mengerti apa yang dimaksud dengan naik “perahu” belah menjadi dua, mendayung, keluar keringat, bau amis dan kemudian kelahiran”.

Mulai dari sinilah letak perbedaannya. Menurut Adiparwa, Palasara lalu melanjutkan perjalanannya dan Satayojanagandi memperoleh “keperawanannya” kembali atas kesaktiannya. Sedang dalam Pustaka Raja Purwa, Palasara dengan kesaktiannya merubah pulau dan hutan di sekitarnya itu menjadi negara Astinapura.

Nah, pertanyaannya sekarang, mengapa digubah demikian? Baiklah kita ikuti kisah selanjutnya …..

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: