Pandu Dikutuk Resi Kimindana, Karena Mengganggu Orang Yang Sedang Bermesraan

Tiga putra Wiyasa, yaitu Destarastra, Pandu dan Yamawidura oleh Bisma diasuh dan dididik sesuai dengan derajat kesatriaannya agar kelak menajdi satria utama. Berhubung Destarastra mempunyai cacat buta mata, maka pandulah yang dinobatkan menjadi Raja di Astina Negara Kurujanggala atau Astinapura atau Gojah Oya yang disebut juga Limanbenawi dengan gelar: “Pandudewanata Binatara Nyakrawati Mahadiningrat”.

Tersebutlah di Negara Mandura, Prabu Kuntiboja mengadakan sayembara “pilih” siapa saja boleh ikut serta. Pengemuman ini mempunyai nilai politis, yaitu “show” demokrasi dalam pewayangan. Baik Raja, Senopati, prajurit atau orang hina papa yang dipilih oleh Dewi Kunti akan berhak menjadi suaminya. Jadi bukan laki-laki yang memilih calon istri, tetapi wanitalah yang memilih calon suaminya.

Hal ini tidak aneh, karena disamping “judeg” melayani lamaran yang begitu banyak, Dewi Kunti adalah seorang dewi yang cantik dan anak seorang raja yang kaya raya. Tetapi sebenarnya bukan Dewi Kunti yang memilih, karena mati, jodoh dan kemuliaan itu bukanlah urusan manusia, melainkan takdir Ilahi. Jadi sayembara ini hanya sebagai sarana untuk mempertemukan dua insan calon ayah dan ibu daripada satria besar sepanjang jaman, yaitu Pandawa bersaudara.

Pendek kata Dewi Prita yang memancarkan cahaya keayuannya itu diboyong ke Astina oleh Pandu. Dasar laki-laki dan yang wanita cantik rupawan, sehingga pada saat pesta pernikahan dua mempelai tersebut laksana Sang Hyang Nakawat dan Batari Polumi yang sedang “ngejawantah”.

Pada waktu Pandu berhasil memenangkan sayembara, datanglah seorang pemuda “brangasan” bernama Narasoma bersama dengan adik perempuannya, Dewi Madrim namanya. Sebetulnya Narasoma juga ingin mengikuti sayembara, tetapi saying sudah terlambat. Karena itu Narasoma naik pitam dan menantang Pandu untuk “ber-duel”. Ia menyangka Pandu akan dapat dikalahkan oleh kesaktian dan ajinya Candrabirawa. Tetapi apa yang terjadi?

Dasar ilmu “karang” yang berasal dari kekuatan gaib itu hanya laksana “boreh” belaka, kalau berjumpa dengan malapetaka tidak dapat diandalkan (kepentoking pancabaya ubayane mbalenjani). Apalagi ditambah dengan kesombongan dan kecongkakan (sumangah sesongaran, karem reh parawiran, hadigeng-hadigung hadiguna) tentu akhirnya akan hanya kecewa belaka tak dapat menandingi Pandu yang bersenjatakan budi luhur.

Inilah yang dinamakan “Suradira Jayanikanangrat Swuh brasta tekaping ulah Dharmastuti”.

Artinya, betapapun sura, sakti kalau untuk tujuan yang tidak benar, sombong dan congkak pasti akhirnya akan lebur oleh budi rahayu. Akhirnya Narasoma bukannya mendapatkan Dewi Kunti, tetapi justru ia memberikan Dewi Madrim kepada Pandu. Pendek kata Pandu kemudian naik tahta di kerajaan Astina dengan didampingi oleh kedua permaisurinya, Dewi Kunti yang ayu penuh sifat keibuan, setia, bekti, setiti, nastiti dan hati-hati. Sedang Dewi Madrim seorang wanita cantik yang menawan hati.

Pada suatu hari, Pandu ingin ber “week end” sambil berburu di hutan. Kedua istrinya di ajak turut serta. Tiba-tiba Prabu Pandu melihat dua ekor rusa yang sedang bermesra-mesraan “berpacaran”. Maka ditariknya busur, dan lepaslah anak panah tepat mengenai rusa yang jantan, sehingga mati rebah tak berkutik lagi. Tetapi tiba-tiba rusa lenyap dari pandangan mata dan berubah menjadi seorang Begawan yang bernama Resi Kimindana. Sang Resi mengutuk dan memberikan “upata” kepada Pandu dan suaranya menggema diangkasa:

“Hai, Prabu Pandu, kau raja yang tak berperikemanusiaan, tak tahu sopan santun. Senang mengganggu ketentraman orang lain. Oleh karena itu hati-hatilah, dikala engkau sedang bercumbu rayu dengan istrimu, disitulah sampai ajalmu. Kemudian ketahuilah hai Pandu, kau telah membunuh seorang Brahmana tanpa dosa, tunggulah saatnya tiba”.

Mendengar upata Resi Kimindana, Pandu rebah seketika itu juga, lemah lunglai tak berdaya. Maka setelah sadar berkatalah Pandu:

“Yayi, yayi Kunti dan yayi Madrim yang kucintai. Inilah yang dinamakan tidak waspada dan tidak berhati-hati. Nafsu membuah lengah, kelengahan dapat membawa malapetaka, aku harus menerima hukuman itu. Oleh karena itu mulai saat ini aku akan hidup sebagai Brahmacarya. Tak akan menyentuh wanita siapapun yang berada “di hadapanku”.

Kedua permaisurinya merayu agar Pandu mau membatalkan, niatnya, namun usaha mereka sia-sia belaka. Apakah hakekat sebenarnya dari fenomena dan peristiwa itu semuanya? Baiklah kita tangguhkan terlebih dahulu. Yang jelas, dari cerita ini, bahwa yang menganjurkan kepada manusia agar tidak saling mengganggu kesenangan orang lain, apabila orang tersebut sedang berpacaran dan menikmati kemesraannya sebagai eksistensi.

Bahkan sebagian orang menganggap, lakon pandu itu menganjurkan kepada manusia, agar supaya orang tidak selalu menuruti angkara dan harus senantiasa melatih kesabaran. Karena peristiwa Pandu membunuh Kijang tersebut, maka ada sebagian orang yang tidak mau memakan daging agar supaya dapat mengekang diri dan mengurangi nafsu angkaranya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: