Pandu Mati Mendadak Dan Masuk Neraka, Karena Terlalu Menuruti Keinginan Dewi Madrim Yang Sedang Ngidam

Ceritera Pandu dan isterinya dapat melahirkan anak “tanpa hubungan” dengan lima Dewa itu aneh dan tidak lazim disini, sehingga menimbulkan kesan bahwa Dewi Kunti yang Hiperseks. Maka di dalam pakeliran oleh dalang digubah dan disanggit sedemikian rupa, sehingga selaras dengan filsafat hidupnya dan tidak menimbulkan rasa dan pikran yang janggal. Karena itu pembunuhan rusa (kijang) disanggit terjadi setelah kelima putranya lahir. Demikianlah jalan ceritanya.

Di kala Dewi Madrim sedang hamil, maka datanglah ia bersimpuh di hadapan sang Prabu sambil berkata:

“Duh paduka yang mulia, Prabu Pandu yang hamba hormati dan yang sangat hamba cintai. Bayi yang sedang hamba kandung ini menyebabkan badan hamba menjadi lungkrah, mual rasa perut hamba, rasanya ingin muntah-muntah saja. Minum air serasa duri, makan nasi serasa pecahan kaca. Yang hamba inginkan hanya bertamasya di Taman Kadilengen dan naik Lembu Andini, yaitu kendaraan Sang Hyang Jagad Girinata. Tetapi bukan di Taman Kadilengen yang sekarang ada, hamba minta Taman Kadilengen dirubah seindah Taman Ekacakra di Kaendran”.

Tanpa pikir panjang sang Prabu memerintahkan Yamawidura untuk merubah Taman Kadilengen sedemikian rupa sehingga seindah Taman Ekacakra di Kaendran. Sedang Prabu Pandu sendiri berangkat ke Ujung Giri Salaka (Junggring Salaka) menghadap Dewanya Dewa, yaitu Sang Jagad Girinata untuk meminjam Lembu Andini hanya untuk menuruti keinginan isterinya. Ia yakin pasti akan berhasil karena merasa pernah menjadi “jagoning dewa”.

Batara Guru dan para Dewa lainnya sangat tercengang melihat tingkah laku dan keberanian Pandu yang tidak semestinya itu. Tetapi karena alasannya untuk orang yang sedang “ngidam”, maka tidak ada jalan lain kecuali mengabulkan permintaan Pandu.

Maka dengan penuh kegembiraan Pandu menerima Lembu Andini. Tetapi sungguh aneh tingkah laku Pandu waktu itu. Timbullah “kekurang-ajarannya” ketika ia menerima Lembu Andini. Pada saat itu pula Pandu di depan Batara Guru naik kegigir Lembu Andini. Maka seketika itu bersabdalah sang Girinata:

“Sungguh Pandu orang tengeng tak dapat menoleh (kepada dirinya sendiri). Hukuman yang setimpal hanyalah Neraka untukmu”.

Jagad berhenti beredar sejenak, angin berhenti menghembus, bumi bergoyang, gunung meletus, laut berombak, gempa bumi dahsyat, sungai-sungai banjir tiada sebab. Inilah yang dinamakan gara-gara. Seolah-olah alam turut serta menyaksikan dan ikut menyetujui upata Sang Jagad Girinata terhadap Pandu yang sudah lupa “daratan”.

Beberapa hari kemudian lahirlah anak Dewi Madrim yang kembar bernama Nakula dan Sadewa. Sedangkan Taman Kadilengen telah disulap seindah Taman Ekacakra di Kaendran. Oleh Yamawidura telah ditangkap dan kemudian dipersembahkan kepada Prabu Pandu, seekor rusa (kijang) kencana dan seekor kijang wulung. Pendeknya Taman Kadilengen indahnya seribu kali “kandang menjangan” seperti yang di kartasura. Bahkan laksana kebon binatang (margasatwa) modern.

Kedua kijang tersebut juga menjadi penghuni Kadilengen. Dan ketika kijang itu berada di hadapan sang pandu dapat berbicara serta memaki-maki Prabu Pandu. Mereka sangat menyesalkan perbuatan Prabu Pandu yang menawan makhluk tanpa berdosa. Setelah Prabu Pandu mendengar ucapan tersebut sangat murka, sehingga kedua kijang tersebut dibunuhnya seketika itu juga.

Mayat kijang yang terkulai itu berubah menjadi Resi Suhatra dan Rara Rago yang dalam sekejap mata mukswa beserta raganya. (dalam majalah “Jawa” tahun 1909).

Empat puluh hari kemudian Dewi Madrim bersama Prabu Pandu bercengkerama di Taman Kadilengen. Dasar wanita cantik, habis melahirkan jabang bayi, wajah Dewi Madrim kelihatan memancarkan cahaya dan tampak lebih cantik dari biasanya. Melihat hal itu Prabu Pandu timbul birahinya, sehingga lupa upata dari Sang Resi. Sang Prabu dengan mesranya “merungrum” Dewi Madrim sambil membelai-belai rambutnya. Tetapi malanglah saat itu pula Batara Yamadipati telah datang membawa surat perintah dari sang Hyang Maha Dewa guna mencabut nyawa Prabu Pandu dan langsung dimasukkan ke Nereka Jahanam. Kalau sekarang pasti dikatakan beliau wafat karena serangan jantung atau angin duduk. Padahal sebenarnya adalah untuk menebus dosanya.

Inilah yang dinamakan hukum karma, “ngunduh wohing panggawe”, memetik buah atau akibat perbuatannya sendiri.

Disamping itu dalam cerita tersebut diatas digambarkan bahwa: Jika orang mengejar sesuatu dengan nafsu sampai diluar batas kemampuannya dan tanpa kewaspadaan, maka apa yang dianggapnya akan membahagiakan dirinya itu justru akan mendatangkan malapetaka.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: