Patih Sakuni, Kalau Bicara Klemak-Klemek Tapi Jadi Tukang Fitnah

Sakuni adalah patih negeri Astina. Badannya kurus, mukanya pucat kebiru-biruan seperti pemadat candu. Caranya berbicara “klemak-klemek” menjengkelkan. Nama Sakuni berasal dari suku kata “Saka” dan “Uni”. Kata “Saka” berarti “dari” sedang “Uni” berarti “ucapan”. Jadi Sakuni itu melambangkan manusia yang sifatnya senang memfitnah, menghasut dan mencelakakan orang lain, tetapi akhirnya ia terpaksa atau termakan oleh ucapannya sendiri.

Menurut silsilah keluarga, ia sebenarnya dapat mewarisi tahta kerajaan ayahnya di Negara kecil Palasa Jenar. Tapi ia lebih senang mengikuti dewi Gendari permaisuri Prabu Destarastra, raja Astina yang mempunya cacat buta matanya sejak dilahirkan. Kebutaan ini sebetulnya hanyalah merupakan lambar dari manusia yang berwatak: tidak (mau) tahu ; apa, siapa, dan bagaimanapun keadaan di sekitarnya. Ia hanya tahu kepentingannya sendiri. Ia tidak mau tahu baik dan buruk, jahat dan benar. Pendek kata (membabi) buta dalam melampiaskan hawa nafsunya. Coba bayangkan, anaknya saja sampai 100 orang.

Nah sekarang kita tahu bahwa Kurawa yang berjumlah 100 orang itu kecuali dahulu memang belum ada K.B juga merupakan lambang dari berbagai macam nafsu jahat dari manusia (Destarastra). Jadi secara simbolis Sakuni-lah yang menjadi corong dan pengasuh yang serba tamak, jahat (dur) dan cengeng yang 100 macam itu : Ia “kuwalahan”, habis sudah akalnya untuk mengatur tingkah laku Kurawa yang menjurus ke perbuatan criminal. Maka untuk menjaga kelangsungan hidup Kurawa, Sakuni harus memutar otak dengan ilmu fitnahnya untuk menyingkirkan pandawa yang sebenarnya pewaris tahta kerajaan Astina. Dalam lakon “Bale Sigala-gala” Pandawa dibakar hidup-hidup. Tapi Tuhan masih melindungi Pandawa dan mereka terhindar dari bahaya maut. Bahkan dengan kekuatannya sendiri Pandawa berhasil membangun Negara Indraprasta, yang konon indahnya seperdelapan kerajaan Dewa Indra.

Keberhasilan Pandawa tersebut, membuat Sakuni terpaksa menjalankan ilmu fitnahnya lagi dengan menghasut Duryudana dan Gendari. Kali ini siasat licik yang dijalankan adalah mengadakan permainan judi dadu. Pandawa kalah.

Kemenangan Kurawa membuat Sakuni mabuk kepayang, sehingga theori “Sum Kuning” dicobanya. Maka oleh Sakuni ditariklah kain Drupadi, sehingga jatuh sempoyongan di Sitihinggil Astina. Sambil merintih kesakitan, Drupadi membetulkan kain yang hampir lepas dari tubuhnya.

“Ngunduh wohing panggawe”, dimana kelak Sakuni harus menebus karmanya. Ia disobek mulutnya dan dikupas kulit tubuhnya oleh Bima dalam perang besar Bharatayudha.

Karena kejahatannya, sampai kini tak ada seorangpun yang mau disamakan dengan tokoh Sakuni. Bahkan walaupun ia hanya berupa kulit, bagi yang percaya, kalau pagelaran wayang kulit lakon “Bharatayudha”, wayang Sakuni pada akhir pagelaran dibungkus dengan kain putih kemudian “dilabuh” diserahkan kepada Nyai Rara Kidul.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: