Prabu Yayati, Nenek Moyang Pandawa Berubah Menjadi Tua Keriput, Karena Kewalad Isterinya!

Siapakah sebenarnya nenek moyang Pandawa dan Kurawa itu? Memang banyak versi, kalau tidak cermat bisa kisruh dan bingung. Menurut versi Mahabarata, cikal bakal nenek moyang para Pandawa dan Kurawa adalah Prabu Nahusa. Ia mempunyai seorang putra bernama Prabu Yayati. Yayati adalah seorang priya yang tampan dan sakti. Ia memerintah Astina dengan adil paramarta dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ia mempunyai seorang permaisuri bernama Dewayani, anak seorang pendeta bernama Resi Sukra. Dewayani mempunyai seorang dayang (pengiring) wanita yang bernama Sarmista. Walaupun ia hanya seorang pengiring, tetapi ia genit dan “kemayu”. Pendek kata punya sexappeal, mampu membuat orang menelan ludah dan memang menggiurkan. Bahkan mata dan senyumnya mempunyai daya tarik magnit, seolah-olah mampu menggerayangi indera setiap orang yang melihatnya.

Tentu saja orang yang tidak teguh imannya, atau memang mata keranjang akan jatuh hati “kerlip” fall in love.

Syahdan pada suatu malam yang sunyi Prabu Yayati mengadakan “date” secara rahasia dengan dayang Sarmista.

Satu dua kali memang tidak “konangan”, tetapi toh suatu perbuatan yang menyeleweng, betapapun rapat disimpannya akhirnya terbongkar juga. Bahkan sampai tertangkap basah oleh permaisurinya (Dewayani). Tentu saja menjadi geger dan rebut. Dewayani tak tahan melihat suaminya bermain cinta dengan wanita lain dihadapan hidungnya.

Dewayani menjerit, menangis dengan menutup muka sambil lari mencari ayahnya Resi Sukra untuk melaporkan segala perbuatan Prabu Yayati dengan dayangnya sendiri (Sarsmita). Resi Sukra memang dapat menahan emosi dan tuntutan lahiriahnya. Tetapi suara batinnya dan ucapannya tetap masih merupakan “kutuk pasu” dan cukup manjur. Berkatalah Resi Sukra kepada Prabu Yayati:

“Wahai Sang Maha Raja tuanku Prabu Yayati. Ternyata paduka telah kehilangan kehormatan paduka, kemegahan bahkan keremajaan paduka”.

Bukan main ampuhnya kutuk Resi Sukra. Seketika itu juga Prabu Yayati yang semula tampan dan gagah perkasa itu, tiba-tiba menjadi seorang tua, keriput dan kempot. Yayati menerima kutuk tersebut, jatuh tertelungkup menangis dan bersujud memohon ampun kepada Resi Sukra. Tetapi apa jawabnya:

“Wahai paduka yang mulia, Maha Raja Yayati. “Kutuk Pasu” itu tidak bisa dibatalkan, kecuali ada seseorang yang mau menukarkan ketuaanmu dengan kemudaannya”.

Benar-benar remuk redamlah hati Sang Prabu. Ia tertimpa perasaan yang cemas, ngeri dan hina. Ia masih menginginkan keberahian, kemewahan dan kekuasaan. Karena itu dipanggilnya kelima anaknya laki-laki, katanya:

“Hai anak-anakku, aku masih ingin kekuasaan, kemudaan, kebirahian, kemegahan, karena itu salah seorang dari kau semua, harus memikul penderitaanku dengan cara mengambil ketuaanku dan memberikan keremajaanmu kepadaku”.

Setelah putra-putranya mendengar permintaan ayahnya, mereka sangat terkejut, Bahkan yang tertua dengan lantang menjawab:

“Oh ayahanda, hambapun masih ingin menikmati keremajaan, kalau wujud hamba menjadi tua, siapa gadis yang mau mendekati hamba? Coba saja tanyakan kepada adik-adik hamba betapa bisanya ayahanda lebih mencintai mereka dari pada diri hamba”.

Maka tibalah anak yang kedua, ketiga, dan keempat semuia sama jawabannya. Semua menolak untuk menjadi tua. Sekarang tinggal putranya bungsu (yang kelima) bernama “Puru”. Putra bungsu inilah yang tak sampai hati melihat penderitaan ayahnya, maka sambil bersujud ia berkata:

“Oh ayahanda Raja Agung Binatara di Astina, hamba dengan senang hati memberikan kepada ayah kemudaan hamba, agar ayahanda terbebas dari penderitaan dan cengkeraman segala kepedihan, ayahanda berkuasalah dan berbahagialah memerintah di negeri Astina”.

Dengan tanpa berkata Prabu Yayati loncat dan memeluk anaknya menciumi sejadi-jadinya. Dan begitu ia menyentuh anaknya, saat itu pul;a ia menjadi muda belia pulih sdeperti sedia kala. Sedangkan putra bungsu “Puru” berubah menjadi seorang tua yang kampong-perot “thuyuk-thuyuk” tak sesuai sama sekali dengan usianya.

Pendeknya Prabu Yayati kembali menikmati hidup keremajaan dan melampiaskan amarah dan hawa nafsunya. Tidak itu saja. Ia membuat harem dan berpesta pora hamper setiap malam. Bertahun-tahun ia telah melampiaskan hawa nafsu dan sifat angkara murkanya, namun toh tak dapat mencapai kepuasaan juga.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: