Arimbi, Raseksi yang berubah Menjadi Putri

Cinta adalah urusan hati. karena itu tidak mengenal kelas tinggi rendahnya derajat, kaya miskin, suku bahkan yang berlainan bangsa. Bila cinta telah bersemi dalam dua hati sulit untuk dipisahkan. Walaupun demikian bukan berarti tidak ada batas kewajaran ketentuan yang hak dan non hak, baik menurut ketentuan adat istiadat maupun azas peradaban manusia.

Tetapi yang namanya cinta terkadang melanggar peradaban hak azasi seperti makhluk raksesa jatuh cinta kepada bangsa manusia. Tentu saja itu hanya terjadi dalam cerita seperti cerita pewayangan raksesi Arimbi jatuh cinta kepada Bima sebagai simbol manusia. Tetapi itu pun hanya merupakan lambang semata.

Awal terjadinya cinta itu ketika kaum Pandawa sedang menjalani hukum buang akibat kalah main judi dengan Kurawa hingga harus menderita merana di hutan belantara. Ketika itu Pandawa bersama ibunya sedang meneduh di bawah sebuah pohon yang daunnya amat rindang. Karena kelelahan yang amat sangat, mereka tertidur dengan lelap hanya Bima yang menjaga menolak bahaya yang mungkin datang. Ternyata mereka berada di daerah kekuasaan raja raseksa yang ganas beranma Arimba penguasa kerajaan Pringgandani.

Si raja itu mengetahui bahwa ada beberapa orang sedang meneduh di daerah kekuasaannya. Segera diperintahkan adiknya raseksi Arimbi untuk membunuh orang-orang itu. Berangkatlah si raseksi yang sama ganasnya itu menuju tempat para Pandawa sedang beristirahat.

Tetapi apa yang terjadi? Begitu si raseksi melihat Bima yang gagah dan tampan rupawan, mendadak dalam hatinya timbul rasa cinta terhadap sang pengawal itu. Buyarlah niat ingin membantai dan tanpa sadar terlepas kata-kata: “Duh, biang, biang, cukup banyak laki-laki yang telah kutemui, tapi tak setampan dan segagah dia. Tubuhnya yang jantan bertenaga rahasia, gerak-gerikanya menarik menyeret hati. Duhai Dewa Asmara lepaskan anak panahmu agar mengenai jantungnya, bakarlah naluri kejantanannya.”

Maklum adat raseksi yang tidak tahu malu, didatangilah Bima dan dirayunya bahkan mengajak kawin. Tentu saja Bima menjadi marah dan Arimbi hendak dibunuhnya, tapi secepat kilat si raseksi menjatuhkan diri dan sujud di hadapan Dewi Kunti seraya mohon tolong. Seketika Kunti pun terbangun serta mencegah niat sang Bima hendak membunuh raseksi itu.

Tiba-tiba muncul raseksa Arimba serta mengetahui apa yang sedang terjadi dengan adiknya. Tentu saja raseksa itu dengan amat murkanya hendak membantai para Pandawa. Tetapi dengan sigap pula Bima menghadang dan terjadilah pertarungan dahsyat antara Bima dengan Arimba yang berakhir dengan terbunuhnya raja Pringgandani itu. Belum puas membunuh Arimba, Bima berbalik hendak menjambak Arimbi tetapi dengan sigap pula si raseksi merangkul Dewi Kunti untuk minta dilindungi dan menyatakan cintanya kepada sang Bima. Sang Dewi seperti digerakkan hatinya seketika timbul rasa kasihnya. Sambil memelai-belai rambut gimbalnya bagai kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya, serta dengan kata-kata memuji kecantikan si raseksi, agaknya kata-kata pujian itu sudah dikehendaki Dewata, karena tiba-tiba wujud raseksi yang menjijikkan itu seketika berubah menjadi seorang putri yang benar-benar cantik jelita. Sang ibu yang bjak dan manusiawi itu minta agar Bima mau mengawini raseksi yang telah berubah menjadi seorang putri yang cantik itu.

Demikianlah keadilan dan kasih sayang Tuhan terhadap umatnya tanpa membedakan golongan, maka hal yang tidak masuk akal pun atas kehendaknya dapat terwujud. Bagi Pandawa persitiwa ini merupakan nilai tambah di tengah derita yang dialami masih sempat berbuat amal menolong makhluk raseksi yang dengan kejujuran dan keikhlasannya, ingin menjadi makhluk yang baik dan berbudi luhur.

Secara rohaniah perkawinan Bima dengan raseksi Arimbi merupakan lambang, bahwa Bima mampu mengendalikan nafsu angkaranya untuk tidak membunuh Arimbi. Dari hasil perkawinan itu lahirlah seorang putra diberi nama Gatotkaca yang kelak akan menjadi seorang pahlawan pembela keadilan dan kebenaran. Sedangkan Arimbi akhirnya menjadi ratu negara Pringgandani menggantikan kedudukan Braja Arimba.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: