Bisma Rela Berkorban Demi Sang Ayah

Ayah mengawinkan anak hal yang biasa. Tetapi anak mengawinkan ayah adalah hal yang aneh, unik dan tak biasa meskipun dapat saja terjadi. Tetapi Bisma mengawinkan ayahnya Santanu kepada Durgandini bukan saja aneh tetapi juga berlatar belakang politis. Masalahnya mas kawin yang diminta oleh Durgandini bukan saja aneh tetapi juga berlatar belakang politis. Masalahnya mas kawin yang diminta oleh Durgandini ada dalam “lubukhati: sang Bisma berupa “Pengorbanan yang tulus dan ikhlas” mau menarik diri sebagai calon raja dan menyerahkan kepada calon keturunan ayahnya dari hasil perkawinan Durgandini. Suatu perhitungan politis yang matang demi tercapainya ambisi kedudukan terhormat yang di rencanakan.

Keikhlasan untuk berkorban itu ditambah lagi dengan pernyataan yang mengejutkan bahwa Bisma tidak akan menikah untuk selama-lamanya. Suatu keputusan yang nekad, sesudah haknya menjadi raja direlakan untuk orang lain, hak hidup yang paling pribadi pun tak ingin diwujudkan.

Mengapa Bisma mengambil keputusan sedrastis itu? Yang pasti guna mencegah terjadinya kemlut di akhir kemudian, yakni perebutan kekuasaan antara keturunannya (bila ia menikah) dengan keturunan ayahnya dari Durgandini. Sebaliknya Santanu tega menjual hak anaknya demi cintanya kepada seorang wanita yang berarti, Santanu telah melanggar tradisi hak waris hanya karena “Cinta”. Sekalipun demikian ditinjau dari sisi lain, ambisi Durgandini bertujuan agar keturunan Barata tidak terputus walau dengan cara merampas hak orang lain.

Ambisinya tercapai dengan lahirnya Citrawirya dan Citranggada meskipun keduanya berumur pendek. Tetapi tersambung dengan lahirnya Destarata dan Pandu yang kemudian menurunkan Kurawa dan Pandawa. Tetapi hak waris tak selalu berdampak mulus, karena dalam periode generasi itu telah terlihat tanda-tanda keretakan keluarga kerajaan dimana Kurawa dan Pandawa merupakan benih-benih perpecahan saling memperebutkan tahta kerajaan.

Bisma yang mengasuh sangat mengenal kualitas kedua golonga itu. Pandawa memiliki sifat ksatria berwatak jujur dan adil serta taat kepada orang tua. Sementara Kurawa gemar foya-foya bermain judi dan tiak pernah mau mengenal kebenaran. Akhirnya dengan kelicikan yang dimotori Sakuni, Kurawa berhasil merebut tahta kerajaan secara tidak sah, sementara Pandawa yang lebih berhak atas tahta kerajaan, terusir dari negerinya sengsara merana di hutan-hutan belantara selama 13 tahun lamanya.

Ketika usai masa pembuangan, Pandawa kembali ke negerinya menuntut haknya secara adil dan bijaksana. Tanah negara tak ingin mereka kuasai sepenuhnya melainkan ada bagian untuk Kurawa. Tuntutan yang adil dan bijaksana itu didukung oleh Arya Bisma dan menasihati Duryudana agar mau menerima tuntutan Pandawa itu, demi terciptanya perdamaian kedua belah pihak. Akan tetapi Duryudana bersikap keras tidak akan pernah mau membukakan pintu perdamaian. Komentarnya: “Damai berarti rugi, perang pilihan terbaik.” jawabnya tegas. Dan… perang besar Bharatayuda pun tak terelakan lagi. Kurusetra akan menjadi panggung maut perebutan nyawa begalan pati antara kedua golongan yang masih bersaudara itu. Bisma hanya dapat menarik napas serta menggeleng-gelengkan kepala.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: