Perempuan yang Ingin Membunuh Bisma

Begitulah dewabrata
kelak seorang penunggang kuda akan menghampirimu
aku titipkan cemas yang dulu
lalu ia rentangkan busur dengan ribuan anak panah
yang kuraut sendiri
tersenyumlah, aku datang menjemputmu

BAGINDA sendiri yang menuntun saya menuju kereta. Membukakan pintu dan berkata; “Amba, kau telah menjadi putri boyongan. Pergilah bersama calon suamimu dan jaga adik-adikmu. Bagaimanapun, lak-laki itu telah memenangkan sayembara. Aku tak lagi berkuasa atasmu. Jangan mencoba membuat malu dengan ulah kekanak-kanakanmu. Lupakan Salwa. Sebagai perempuan, kau tak punya pilihan.”

Pagi menjadi sangat kelam. Bunga tanjung jatuh satu-satu.

“Pergilah. Jagalah martabat dan kehormatan negerimu.”

Saya menahan marah yang menggumpal. Tapi saya tak ingin menangis. Mereka yang sedang tak jatuh cinta memang selalu menganggap remeh arti sebuah percintaan. Sebagai anak raja, apalagi perempuan, kau tak boleh membangkang apa yang menjadi keinginan raja.

Sebenarnya semua tak akan menjadi serumit ini kalau saja saya belum memiliki kekasih. Tapi baginda sendiri telah merestui saya, putrinya, menjalin cinta dengan Kangmas Salwa. Bukankah pesta pertunangan pada purnama lalu telah menjadi pertanda bahwa kebersamaan kami akan segera menjadi kenyataan?

“Bimbing adik-adikmu, Ambika dan Ambalika, menjadi istri yang baik. Jangan kau kotori kehormatan tanah leluhurmu dengan ketidakmengertianmu,” baginda berkata lagi, lalu membalikkan badan meninggalkan kereta wangi berhias bunga-bunga, tanpa menoleh lagi.

Ambika dan Ambalika sudah menunggu saya di dalam kereta. Saya melangkahkan kaki dengan wajah menunduk. Inilah awal segala dendam berdenyut mengaliri seluruh urat nadi saya.

Kereta bergerak, membawa saya dan adik-adik saya menuju Astina.

Brengsek! Semua ini gara-gara Bisma sialan itu. Saya tahu Bisma tak terkalahkan. Tapi tidak semestinya dia membawa saya dalam rombongan kereta ini. Sebab bukankah hanya Ambika dan Ambalika yang belum berjodoh? Sebab bukankah saya sudah memilik tautan hati dengan Kangmas Salwa, raja Saubala? Kenapa Bisma tetap memboyong saya dan Baginda malah membiarkan saja?

Kemarahan menghantam seluruh urat nadi saya. Saya sungguh tak bisa menerima semua kekeliruan ini.

Saya merasakan roda kereta seperti menggerus dada, memerih hingga ke tulang, mencabik-cabik hati saya, menjadi layaknya debu yang berhamburan di sisi kanan-kiri kereta yang melaju kencang.

Menyadari saya adalah seorang perempuan yang tak memiliki kuasa apa-apa bahkan atas tubuh dan keinginan saya sendiri membuat hati saya perih. Padahal saya anak raja. Padahal saya bukan perempuan kebanyakan. Apakah akan selalu demikian nasib para perempuan?

Tapi baiklah, untuk sementara saya menurut saja. Tapi kelak saya akan membuat perhitungan dengan Bisma.

PADA malam sesampai di Astina saya langsung menemui Bisma. Saya menyampaikan protes secara baik-baik. Di taman itu, saya berkata padanya; “Seharusnya kau tahu, saya tak sepantasnya diboyong ke Astina. Hati saya sudah terpaut dengan Salwa. Kau memang telah mengalahkannya. Tapi saya mohon jiwa ksatriamu terketuk untuk mengembalikan saya padanya.”

Bisma berkata tanpa memandang wajah saya, “Ayahmu sendiri yang menyerahkan dirimu dan adik-adikmu setelah sayembara itu. Seorang anak raja tidak seharusnya membantah perintah rajanya. Apalagi kau hanya seorang perempuan.”

Bisma menyalin ulang aturan yang telah menjadi semacam dogma itu. Saya ingin menamparnya, menyobek-nyobek mulutnya dan mengatakan bahwa perempuan, anak raja atau bukan, berhak untuk menetukan keinginannya sendiri.

Tapi saya mencoba menenangkan diri dan menerangkan situasi rumit yang saya hadapi dengan pelan-pelan. Saya katakan tidak mungkin saya meninggalkan Salwa. Apalagi ternyata bukan dia sendiri, Bisma maksud saya, yang akan mengawini saya dan adik-adik saya, tapi Wicitrawirya, adik tirinya. Sebab saya mendengar dia telah bersumpah tak akan menikah seumur hidupnya.

Saya bertanya, jika dia telah bersumpah wadat, lalu untuk apa mengikuti sayembara?

“Setelah kemenangan itu, akulah yang paling berhak atas diri kalian. Bahkan Darmahumbara, ayahmu, pun tak punya kuasa untuk mengatur-atur kalian lagi.”

Saya katakan lagi bahwa sekarang dia memang berkuasa atas kami, saya dan adik-adik saya. Oleh karena itu, dia pun sebenarnya berkuasa untuk mengembalikan saya ke Salwa. Saya katakan padanya agar mengambil Ambika dan Ambalika saja. Sebab saya mencintai Salwa.

“Percayalah, adikmu tak akan bahagia menikahi saya karena hati saya sudah saya berikan untuk Salwa. Saya pasti juga tidak akan bahagia menjadi istri adikmu itu. Jadi kembalikan saya ke Saubala negeri Salwa.”

Saya bersyukur karena Bisma mau menerima penjelasan saya. Dia mengatakan salah dan meminta maaf. Bisma kemudian berjanji akan mengantarkan saya kepada Salwa pagi-pagi buta.

Sungguh, malam itu saya merasa amat bahagia. Saya mengucapkan terima kasih pada Bisma dan kembali ke keputren dengan hati berbunga-bunga. Ah, di balik kesombongannya, Bisma ternyata masih bisa menghargai keinginan seorang perempuan.

Malam itu saya memang pantas berbahagia. Bagi saya, ini bukan semata-mata pergi dari Astina, tapi juga berarti kebebasan saya untuk menjadi perempuan yang bisa menentukan apa yang saya mau. Sebab itulah hakikat hidup. Jika kita tak bisa melakukan apa yang kita mau lakukan, untuk apa hidup?

Semalaman itu saya malah tak bisa memejamkan mata. Rasa kangen pada Kangmas Salwa mengalir deras ke seluruh nadi saya. Saya tak sabar menungu pagi tiba. Kangmas Salwa pasti tak menyangka saya akan datang. Semuanya memang serba tak terduga. Tapi Bisma akan menjelaskan semua kesalahpahaman ini.

SIANG itu saya bertemu Kangmas Salwa di pendapa Saubala. Hati saya sangat bergelora menyampaikan bahwa saya telah bebas dari Bisma dan ingin segera menikah dengannya. Tapi semuanya sungguh tak seperti yang saya sangka. Kangmas Salwa bukannya berbahagia dengan kabar yang saya bawa, tapi malah marah besar dan berkata sambil membelakangi saya.

“Aku seorang raja, tak pantas menerima barang yang telah dibuang. Saat ini juga aku bisa mendapatkan seribu perempuan yang lebih baik darimu. Pergilah dan jangan pernah lagi datang ke tempat ini.”

Tak terbayangkan rasa terhina saya. Kemarahan saya menjalar ke seluruh tubuh. Ketika saya sampaikan kabar ini pada Bisma, laki-laki yang mulai beranjak tua itu hanya menasihati saya untuk menerima nasib dan bersabar.

Dia berkata, “Wicitrawirya tak mungkin menjadikanmu permaisuri karena hatimu telah mendua. Aku merasa kasihan kepadamu. Tapi aku pun tak bisa berbuat apa-apa. Aku telah bersumpah tak akan menikah. Tak akan kujilat kehormatanku dengan menikahimu.”

Saya seperti bunga tanjung yang jatuh. Tidak ada yang bisa menolong saya. Saya katakan pada Bisma; “Kaulah pangkal dari semua malapetaka ini. Demi segala dewa, aku bersumpah kelak akan membunuhmu.”

Malam itu saya berlari ke hutan dan terus menerus mengutuki Bisma. Malam itu, saya putuskan untuk menjadi pertapa. Saya ingin menjadi sakti dan membunuh Bisma. Saya tahu, ini sangat berat. Tapi inilah pilihan terbaik dari pada bunuh diri. Saya tak ingin mati sia-sia atas nama kehormatan. Bagi saya, semua urusan harus diselesaikan sebelum kematian datang.

SISA debu pertempuran masih beterbangan pada hari terakhir perang besar Baratayuda itu. Menjelang senja, para Kurawa dan Pandawa menepi. Di depan mereka, di bawah pohon besar Kurusetra, Bisma baru saja ambruk. Semua membisu. Semua tertunduk. Semua diam dengan dada tetap bergemuruh.

Di atas tubuh Bisma yang sekarat, seorang perempuan berkelebat mendekat. Amba. Tak ada yang bisa melihat perempuan yang tetap jelita ini kecuali Bisma. Para kurawa dan Pandawa seperti tak terusik dengan kedatangan Amba, dan terus meratapi Bisma.

Di ambang petang itu, Amba menatap wajah Bisma yang mulai berat. Ia seperti sedang berkata-kata dengan laki-laki yang tak tergeletak tak berdaya itu.

Inilah akhir dari kesombonganmu, Bisma. Kau sendiri yang telah menculikku, tapi kau pula yang campakkan aku demi sesuatu yang kau sebut kehormatan. Aku terpedaya olehmu. Tertipu.

Di tengah hutan setelah kau siakan aku beberapa tahun lalu itu, hatiku memang benar-benar lumat. Menyedihkan memang, cintaku terkatung-katung dalam kisah yang berakhir tak membahagiakan. Aku menjadi perempuan boyongan, dianggap rongsokan oleh kekasihku sendiri, dan ditolak Wicitrawirya, laki-laki untuk siapa sebenarnya aku disayembarakan. Dan kau sendiri melepas tanggung jawab.

Mengapa Bisma, mengapa harus seseorang mencintai kesetiaan lebih dari kehidupan dan sebagainya dan sebagainya?

Kau tahu, Bisma, betapa aku ingin menjelma srigala yang tega mencabik-cabik tubuhmu. Ingin aku beralih rupa menjadi ribuan anak panah yang meluncur deras dan menembus tubuhmu, membuat daging dan kulitmu serupa serpihan-serpihan hingga tak sedebu pun darimu tersisa. Aku ingin membunuhmu!

Di hutan itu, aku memohon kepada para dewa untuk menjadikanku sakti mandraguna. Apa pun akan kuberikan, bahkan nyawaku, asal para dewa memberi jalan agar aku bisa membunuhmu.

Beruntung dewa-dewa itu bermuka dua. Mereka kabulkan permohonanku. Enam tahun aku menunggu saat seperti ini tiba, Bisma. Aku bertemu Srikandi, putri Drupada yang banci itu. Aku ajari dia ilmu kanuragan, memanah dan menunggang kuda, pemberian dewa-dewa. Aku memang meniru apa yang dilakukan oleh Bargawa yang karena dendamnya kepada para satria, menurunkan semua ilmunya kepada para brahmana termasuk kau. Aku memilih Srikandi bukannya tanpa alasan. Sebab, bagiku, kau memang hanya pantas bertarung dengan Srikandi yang banci itu.

Bisma, di usiamu yang senja ini, kau pasti mulai kesepian. Tapi aku tahu, saat-saat seperti ini, kematian bagimu adalah cita-cita. Tenangkan hatimu, Bisma, karena saat itu akan segera tiba. Panah Hrusangkali yang menembus lehermu dari busur Srikandi tak akan menyembuhkanmu. Sebab aku telah menjadikannya sebagai jalan kematianmu.

Tak perlu ada yang disesali. Telah sama kita tetapkan hari kematianmu pada hari terakhir perang besar ini. Semua telah terlanjur. Tak ada lagi yang bisa ditahan. Meski aku tahu, sampai saat ini, aku hanyalah seorang perempuan yang ingin membunuhmu. Tak apa. Kau mati di tangan siapa, bagiku, sama saja. Setelah semua ini, aku pun tak akan pernah lagi mengalirkan air kepedihan dari mataku.

Hening melumat. Di tengah napasnya yang makin memberat, Bisma tersenyum. Hari itu, senja begitu sangat kekalnya di Padang Kurusetra.***
Ganug Nugroho Adi

1) Petikan sajak “Dongeng Sebelum Tidur”, Sajak-sajak Lengkap 1961-2001 Goenawan Mohammad.

3 Comments (+add yours?)

  1. freakgalz
    Jun 17, 2011 @ 22:34:37

    Keren-kerennnnnn…!!!!!

    Reply

  2. zulaipatnam
    Nov 23, 2012 @ 11:42:08

    mengena ceritanya

    Reply

  3. darwin setiadinata
    Dec 09, 2013 @ 20:40:48

    salut

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: