Sarindhri (Wirataparwa)

Seno Gumira Ajidarma

Sudah hampir setahun Drupadi menyamar sebagai Sarindhri. Mereka berenam memasuki Wirata dengan menyamar. Inilah syarat terakhir yang terberat. Mereka telah 12 tahun mengembara dari hutan ke hutan. Apabila penyamaran ini terbongkar, mereka harus mengulangi pembuangan selama 12 tahun, baru kemudian Indraprastha akan dikembalikan.”O Yudhistira,” batin Drupadi, “begitu cendekia dirimu, begitu bodoh dirimu.”

Sebenarnya Destarastra yang buta, ayah para Kurawa, telah mengembalikan seluruh kekalahan Pandawa di meja judi, semuanya dikembalikan kepada Drupadi.Atas nama kehormatan, bahwa Pandawa tidak ingin berada di bawah ketiak Drupadi, Yudhistira terjebak untuk main dadu sekali lagi, dan tentu saja dilibas Sangkuni. Takdir menancap, kodrat tak terhindarkan, mereka sekali lagi mengembara.

Untuk Drupadi, inilah pengembaraan yang pertama. Pengembaraan Pandawa sebelumnya berlangsung setelah Peristiwa Bale Sigala-gala, yang berakhir dengan pemunculan mereka dalam sayembara Pancala, tempat kemudian kelima Pandawa menikahi Drupadi bersama-sama.

“Sarindhri!”
“Ya?”
“Ratu Sudhesna mencarimu.”
“Ah, kalau saja Sudhesna tahu aku pun seorang ratu,” pikirnya, “apa kiranya yang akan terjadi?”Sarindhri berjalan sepanjang taman di keputren.

Di kejauhan dilihatnya Tantripala sedang mengatur taman. Ia tersenyum.

“Kini Sadewa bisa mengembangkan bakatnya,” batin Sarindhri.

Pandawa memasuki Wirata dengan penyamaran yang diarahkan oleh Kresna. Yudhistira menyamar sebagai Kanka, seorang cendekiawan, mengenakan pakaian sanyasin, dan mendapat pekerjaan sebagai penasehat Matsyapati raja Wirata.

Bima datang dengan nama Abilawa, mengenakan ikat kepala dan memasang anting-anting di telinga, mendapat pekerjaan sebagai tukang jagal untuk hewan-hewan yang akan dimasak untuk hidangan istana. Arjuna menyulap diri sebagai wanita-pria bernama Wrehanala, bergerak bebas di antara sida-sida istana, dengan busana berwarna-warni menyala, keahlian utamanya merancang tari-tarian untuk hiburan istana. Nakula sang penunggang kuda melamar sebagai pelatih kuda pasukan kavaleri Wirata, dan ia menyebut dirinya Grantika.Sedangkan Sadewa yang sejak lama menyukai tanaman dan segala jenis tumbuhan mendapat kerja sebagai ahli pertamanan istana.

Sungguh penyamaran yang sempurna, karena dengan bekerja di dalam istana, mereka tak tersentuh pengamatan mata-mata Hastina. Sarindhri melangkah dengan berat sepanjang boulevard yang rindang oleh pepohonan menuju keputren. Ia tahu Ratu Sudhesna akan menanyakan persoalan yang sama, sudikah kiranya ia menjadi istri Kencaka. Persoalan ini sulit diatasinya sendiri. Kencaka adalah mahapatih Wirata, yang bukan hanya berkuasa tapi juga sakti mandraguna.

Ia sudah mempunyai begitu banyak istri, masih selalu kurang juga. Kencaka adalah adik Sudhesna, dan Matsyapati sudah tua, sementara ketiga putra Wirata, Seta, Wratsangka, dan Utara, masih sangat muda, tak heran pengaruh Kencaka begitu besar. Maka siapakah yang bisa menolak pinangannya? Hanya karena Kencaka maka Wirata disegani banyak negara. Kencaka adalah tonggak Wirata.Memang itulah pertanyaan Sudhesna.”Bagaimana Sarindhri? Kencaka terus menerus bertanya.

Aku telah berusaha melindungimu dari pemerkosaannya minggu lalu, tapi aku tak bisa menghindari pertanyaan yang mengganggu.”Minggu lalu, ketika Sarindhri mengambilkan sebotol anggur untuk Sudhesna ke kamar Kencaka, ia dicegat dan dirayu Kencaka. Begitu rupa takutnya Sarindhri sehingga menyerahkan diri kepada raja.

“Siapakah engkau perempuan, datang-datang membawa airmata?”

“Hamba wanita pelayan Sudhesna, mohon perlindungan karena Mahapatih Kencaka berusaha memperkosa saya.

“Kencaka muncul di ruangan itu.”Benarkah itu Kencaka?”

“Benar wahai Raja, kuambil apa yang kuinginkan.”

“Perempuan ini tidak bersedia, dan kukira begitu pula Sudhesna. Janganlah engkau memperkosa, lamarlah dengan perempuan tak seharusnya dipaksa.”

Sarindhri melirik Kanka di sebelah raja, lelaki itu tidak berkata apa-apa. Tapi setelah itu mereka bertemu di sebuah lorong tergelap di istana.

“Apa yang harus kita lakukan?””Biar kubicarakan dengan Bima,” ujar Kanka.

Kanka bertemu Abilawa secara rahasia.

“Kencaka harus dibunuh,” ujar Abilawa, “dia bisa menyulitkan kita.”

“Caranya?”

“Biarlah Sarindhri mengatakan suaminya adalah gandarwa, nanti aku yang akan menyelesaikannya.”

Dari ruang ke ruang, Kanka meminta persetujuan Wrehanala, Grantika, dan Tantripala. Mereka akan membantu Abilawa.

“Suami saya adalah gandarwa, duh Ratu Sudhesna. Jumlah mereka lima. Jika Kencaka mengawini saya, mereka akan membunuhnya.”

Kencaka mendengar masalah itu. “Jangankan lima, Sarindhri, bahkan sepuluhpun aku akan membunuhnya.”

Pada malam sebelum Kencaka tiba, Sarindhri menyerahkan dirinya kepada Abilawa.

“Suaminya yang pertama, Yudhistira, hanya merasa permainan caturnya terganggu ketika aku mengadu kepada Raja. Aku tahu engkau akan membelaku, namun Batara Surya yang kurapal mantranya telah melindungiku. Kutahu Kanka berkata, ‘Kembalilah ke tempatmu wahai jagal,’ dan engkau menurutinya. Inilah kesempatanmu, bunuhlah Kencaka untukku. Aku telah begitu menderita demi dan karena kalian, janganlah engkau menambah penderitaanku dengan kegagalan. Jangan.”

“Aku telah selalu merindukanmu Sarindhri, hanya ada engkau dan aku di sini.”Di bangsal istana yang gelap, di mana Wrehanala selalu mengajarkan tari-tarian, mereka bercinta dalam kerinduan meluap.”Sebelas bulan aku tidak bertemu denganmu istriku.”

“Dan aku tidak bertemu satupun dari lima suamiku.”

Wrehanala yang sudah sampai di pintu tak jadi masuk. Ia meminta Grantika serta Tantripala menunggu di luar saja. Mereka bertiga menghilang ketika Kencaka datang memasuki kegelapan bangsal.

“Sarindhri! Sarindhri! Ini aku datang membawakan bunga untukmu.”

Kencaka telah membasuh tubuhnya dengan parfum. Di lihatnya sebuah ranjang, dan mengira Sarindhri menanti di sana seperti telah dijanjikannya.Tangannya terulur, mengira akan menyentuh tubuh Sarindhri ketika sebuah tangan bergerak cepat membantingnya. Dengan gerakan yang sangat cepat dan sangat kejam, Abilawa menghabisi riwayat Kencaka. Mahapatih ternama yang sakti mandraguna itu tak berdaya melawan murid terkuat Mahaguru Dorna. Abilawa memperlakukan Kencaka seperti hewan-hewan yang dijagalnya. Ketika tubuh Kencaka terlempar keluar jendela, orang-orang hanya melihat gumpalan daging tanpa kepala dan anggota badan.

“Telah kulakukan semuanya untukmu Sarindhri,” ujar Abilawa dalam kegelapan bangsal,” berikanlah dirimu sekali lagi untukku.””Hari sudah terang Abilawa,” ujar Sarindhri, “lagipula di luar ada tiga suamiku berjaga, mereka telah mengusir para pengawal pribadi dan saudara-saudara Kencaka. Mereka berhak menghendakiku juga.”

anggur mengalir dari botol pecah, o
menghanyutkan semut ke selokan
selembar daun hanyut di sungai
berlayar sampai ke laut lepas
redamkanlah birahimu yayi
api blencong membakar kelir, o!

Kematian Kencaka mengguncangkan Wirata. Raja Matsyapati mendapat tekanan dari segala pihak untuk mengusir Sarindhri.

“Perempuan itu bersuamikan lima gandarwa yang mampu membunuh Kencaka. Ia telah menyulitkan Raja, maka ia juga bisa menyulitkan Wirata.”

“Kencaka mencari kesulitan sendiri, kami telah memperingatkannya.”

“Ya, tetapi perempuan yang telah menyebabkan kematian Kencaka tak seharusnya berada di Wirata.”Sudhesna berkata kepada Sarindhri.”

Kita harus berpisah Sarindhri, betapa pun Kencaka adalah adikku, kelakuannya buruk, tapi dialah pembela negara.” Sarindhri menghitung hari. Penyamaran mereka tinggal 13 hari lagi. Betapa sialnya jika terbongkar. Ia tak sudi terbuang ke hutan 12 tahun lagi.

“Beri saya waktu 13 hari wahai Permaisuri, suami saya akan sangat berterima kasih kepada Puanku dan Raja. Pada hari itu kelima suami saya akan menjemput dan menampakkan diri,”

Sudhesna yang selalu bersimpati kepada Sarindhri setuju, dan akan terbukti betapa hal ini sangat berarti.Dalam 13 hari terakhir mata-mata Hastina bekerja sangat keras. Mereka melapor kepada Sangkuni tanpa hasil apa-apa, kecuali berita bahwa tiada lagi yang sakti mandraguna di Wirata, karena Kencaka mati dibunuh gandarwa.

“Kita rebut Wirata,” ujar Sangkuni kepada Duryudhana, “biarlah Indraprastha kembali kepada Pandawa, tapi kita mendapatkan Wirata. Panglima Karna dari Awangga diminta memimpin balatentara. Seribu ekor pasukan gajah, sepuluh ribu pasukan berkuda, dan seratusribu pasukan aneka senjata siap menggilas Wirata. Tanpa sopan santun dan tanpa tantangan perang pasukan Hastina melewati perbatasan. Orang-orang kampung dibunuh, dirampok, dan dibakar rumahnya tanpa sepengetahuan Karna. Pasukan penjaga perbatasan Wirata yang murka mengamuk dengan sergapan kilat. Pisau kukri pasukan Wirata yang terkenal merobek-robek perut pasukan Hastina. Namun seribu gajah menghancurkan desa-desa. Di istana Wirata berlangsung kegemparan yang amat sangat.

“Biarlah aku memimpin balatentara,” kata Utara.

“Utara, kamu masih terlalu muda,” ujar Matsyapati.

Wratsangka dan Seta sedang berada di Mongolia, tiada lagi yang mampu memimpin balatentara. Utara bergegas. Di luar, Wrehanala mencegatnya.

“Aku dulu sais Arjuna,” katanya, “biarlah aku menjadi sais kereta perangmu.”

Utara menahan tawa.”Ini berperang bukan menari, Wrehanala.”

Sarindhri muncul entah darimana.

“Percayalah kepadanya Utara, seperti Arjuna telah mempercayainya.”

Tiada waktu berpikir bagi Utara, namun saisnya memang entah di mana, jadi dianggukkanlah kepalanya.Kereta perang Utara melaju diikuti seratus ribu balatentara yang semuanya berkuda. Di perbatasan mereka menggasak balatentara Hastina. Pertempuran berlangsung seimbang dan Utara mengamuk seperti singa. Pedangnya merah bersimbah darah. Namun ketika Karna melepaskan senjata-senjata pemusnah dunia yang membunuh beribu-ribu manusia dengan seketika, Wrehanala melarikan kereta keluar medan peperangan.

“Wrehanala, kamu mau ke mana? Aku siap untuk mati. Biarlah kuhadapi Karna yang perkasa.”

Di bawah sebuah pohon, Wrehanala berhenti. Ia turun dari kereta dan menggali. Lantas membuka sebuah peti.”Inilah senjataku Utara, aku adalah Arjuna.”

Utara ternganga, Arjuna segera menyadarkannya.

“Ayolah, biar kuhadapi Karna.”

Dari luar medan, Arjuna memasuki pertempuran dengan Utara sebagai saisnya. Dengan segera dipunahkannya senjata-senjata Karna, dan dirusaknya formasi perang tentara Hastina. Mahaguru Dorna yang mengenal segala macam bentuk kesaktian segera waspada.

“Ajooowww! Arjuna! Mengapa membela Wirata?”

Dicegahnya Karna yang bersiap maju dengan dada membara.

“Biarkan saja Karna, ini belum waktunya.”

“Mereka telah menyalahi perjanjian,” ujar Sangkuni, “kenapa mereka harus bertempur melawan kita?”Di ujung lain, Abilawa mengamuk dengan sepotong kayu. Pasukan gajah Hastina rusak hancur porak poranda. Balatentara Wirata mendesak mereka dengan sisa gajah-gajahnya sampai kembali ke perbatasan Hastina. Tidak ada yang bisa mereka lakukan lagi selain pulang dengan kekalahan. Pasukan Wirata melihat Arjuna di kereta perang Wirata. Seluruh dunia mengenal dan mengerti kisah pengusiran Pandawa.

“Astaga! Jadi Arjuna yang menyamar sebagai Wrehanala?”

Arjuna bersinar seperti Dewa Indra. Di sepanjang jalan orang-orang mengelu-elukannya. Setiba di istana, Sarindhri menariknya ke balik tirai. Tak seorangpun mengetahuinya.”Arjuna, sudah lama kita tidak bercinta.”Arjuna merengkuhnya tanpa berkata-kata.Itulah cara mereka merayakan berakhirnya penderitaan Pandawa.

Naga Taksaka melintasi malam, o
mencari Parikesit di atas loteng –
dengan cahaya lembut rembulan
raja membaca riwayat Tanakung
: “kutinggalkan peraduan cinta,
dari pantai ke pantai memburu senja.”
O!

1 Comment (+add yours?)

  1. Trackback: Arjuna Berpoligami « robopackers

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: