Mengenang Tuhan Lewat Wayang

Sudamala, etos kerja dan namasmaranam, paling tidak itulah makna yang dapat dipetik dalam pementasan wayang kulit tradisi duta Gianyar, yang tampil di wantilan Taman Budaya, 15 Juni lalu. Sanggar Suara Murti yang menampilkan dalang I Made Juanda dari Sukawati Gianyar itu menyuguhkan lakon Katundung Hanoman.

Pertunjukan yang berdurasi sekitar 150 menit itu diawali dengan pertemuan Rama, Laksmana dan Sugriwa. Dalam pertemuan itu, Rama mengatakan bahwa Hanoman menolak hadiah sebagai balas jasa ikut memerangi Rahwana.

Dalam cerita dituturkan, seusai perang, Rama membagi-bagi hadiah kepada para pahlawan kera yang sangat berjasa dalam perang di Alengka. Hadiah itu tidak tanggung-tanggung. Masing-masing kera menerima bidadari dari kahyangan yang cantiknya mungkin melebihi para selebritis di dunia ini.

Tapi khusus untuk Hanoman, bukan bidadari yang diberi sebagaia hadiah, melainkan kalung emas Dewi Sita. Kalung itu, dari segi harga mungkin tidak mahal, tapi memiliki nilai historis yang tidak ternilai. Kalung itu adalah mas kawin Rama, saat putri dari Matili itu menikah dengan putra mahkota Ayodhya.

Sikap Hanoman yang menolak hadiah itu ternyata disalahtafsirkan oleh Sugriwa. Sebagai paman Hanoman, Sugriwa mohon maaf kepada Rama atas sikap keponakannya yang dinilai tidak hormat itu. Sugriwa tak bisa memaafkan Hanoman, dan keponakannya itu pun diusir dari komunitas kera, setelah sempat disiksa.

Hanoman yang melakukan perlawanan kepada Sugriwa segera pergi entah kemana. Dalam perjalanannya, putra Dewi Hanjani itu mengubah dirinya menjadi raksasa dengan nama Kalapetak. Secara tak sengaja ia bertemu dengan raksasa bernama Kumbapranawa. Rakasa itu hendak menyerang Rama, karena ingin membalas dendam atas kematian Kumbakarna, gurunya.

Kalapetak pun sepakat bergabung dengan Kumbapranawa. Mereka sama-sama menyerang Rama. Dalam perang itu, Kumbapranawa gugur. Tapi Kalapetak tak bisa dikalahkan oleh pasukan kera. Rama pun kemudian turun tangan. Tapi ia tidak melepaskan senjata, melainkan sarana pemunah segala kekotoran. Sarana yang dilambangkan kayonan itu bisa mengubah Kalapetak ke wujudnya semula sehingga menjadi Hanoman kembali.

Sebagai abdi yang baik, tentu saja Hanoman segera menyembah Rama. Ia segera mohon maaf dan menyatakan bahagia mendapat sarana pemunah kekotoran itu. Kemudian Hanoman menjelaskan, mengapa menolak hadiah kalung emas, tiada lain karena ia bekerja tanpa pamrih, tanpa mengharapkan imbalan balas jasa berupa harta benda yang sifatnya duniawi. Yang ia inginkan adalah, diri Rama manunggal dengan dirinya. Dengan demikian, dimanapun dan kapanpun Hanoman selalu dapat mengingat Rama yang tak lain penjelmaan Wisnu di dunia ini. Dalam bahasa Sansekerta, mengingat dan menyebut nama Tuhan berulang-ulang disebut namasmaranam. Atas permintaan itu, Rama berkenan bersemayam dalam padma hredaya (hati) Hanoman.

Lakon yang disuguhkan Juanda itu, rupanya sudah diimbuhi kawidalang (karangan dalang) dari cerita sumbernya. Dalam versi India (yang dianggap sebagai sumber cerita Ramayana), Hanoman tidak pernah diceritakan diusir oleh Sugriwa akibat penolakan hadiah kalung emas itu. Hanoman diceritakan membuka dadanya dan yang masuk ke padma hredayanya adalah Rama dan Sita. Demikian pula tak pernah diceritakan, murid Kumbakarna bernama Kumbapranawa membalas dendam. Tokoh itu, rupanya hasil karangan dalang.

Kawi dalang itu sah-sah saja, karena memang tidak merusak babon cerita. Penambahan itu mungkin saja dilakukan untuk memperkaya cerita dan menambah unsur-unsur dramatis sehingga dapat memancing emosi pendengar atau penonton. Apa yang diperoleh Hanoman, rupanya itulah hadiah yang tertinggi. Tidak ada hadiah yang lebih tinggi lagi selain dapat mengenang nama Tuhan tiap hembusan nafas.

Akan tetapi untuk dapat mencapai hal yang luar biasa dan istimewa itu, diperlukan usaha spiritual (sadhana) yang luar biasa pula. Bentuk sadhana itu adalah pengabdian yang tulus ikhlas. Pengabdian yang tulus ikhlas antara lain baru bisa dilakukan setelah berhasil mengubah sifat keraksasaan menjadi sifat kemanusiaan. Sifat kemanusiaan itu juga diubah menjadi sifat kedewataan. Dengan adanya sifat kedewataan itulah, maka akan menunggal dengan dewata. Dalam istilah Jawa, sebagaimana disebutkan Dalang Juanda, manunggalaning kawula lan Gusti.

Keagungan Ramayana

Dari segi seni pertunjukan, penampilan Juanda di malam itu tentu saja ada kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan Juanda terlihat ketika ia melantunkan lagu untuk sesendon. Vokalnya sangat pas untuk seni pedalangan. Penguasaan Juanda tentang isi kekawin, khusus untuk kebutuhan seni pedalangan rupanya sudah cukup memadai. Bahasa Kawi-nya pun cukup lancar. Akan tetapi cara penempatan lagu sesendon kadang-kadang kurang pas, sehingga bisa merusak suasana.

Selain itu, Juanda rupanya perlu memperpanjang tarian kera. Sebab, di sinilah salah satu ciri khas wayang Ramayana. Masyarakat awam sering menerjemahkan kata “ramayana” dengan istilah “ramai”. Jadi, mungkin maksudnya, wayang Ramayana itu mesti dipentaskan dalam suasana ramai. Masuk akal juga terjemahannya itu, karena kalau ada pertunjukan wayang Ramayana hanya diiringi 4 gender saja, alangkah sepinya pementasan itu.

Mengingat Sukawati (tempat kediaman Juanda) gudangnya wayang, maka Juanda sangat mungkin dapat menampilkan berbagai adegan tarian kera, sehingga akan menambah maraknya suasana. Dalang Sukawati yang lain, sering menampilkan adegan kera yang kocak-kocak, dan jika itu diulangi lagi, tidak akan terkesan basi, karena penonton PKB juga banyak yang baru.

Terlepas dari kekurangan itu, Juanda memiliki kekuatan, peluang dan kesempatan yang panjang untuk mengembangkan bakat pedalangannya. Pementasan wayang kulit di arena PKB yang mengangkat epos Ramayana, tentu saja memiliki berbagai makna yang patut dipetik. Sebab, Ramayana yang ditulis Maharsi Valmiki, adalah salah satu bagian dari Itihasa, memiliki pengaruh dan manfaat besar bagi umat manusia dalam melakukan pendakian spiritual.

Dalam Valmiki Ramayana disebutkan bahwa pahala membaca Ramayana antara lain: “Ia yang menginginkan kebahagiaan, hendaknya berkontemplasi kepada Sri Rama dan menceritakan epos Ramayana setiap hari. Ia yang ingin membaca seluruh cerita Ramayana tidak diragukan lagi akan mencapai Visnuloka. Mendengarkan, walaupun satu suku kata saja atau sebaris dari sloka Ramayana dengan penuh hormat, seseorang akan mencapai Brahmaloka dan mendapatkan penghargaan.”

Ramayana karya Maharsi Valmiki disebut Mahakavya yang artinya karya puisi yang agung. Cerita itu merupakan tuntunan mulia untuk seluruh umat manusia dan dinilai sama seperti tirta amerta, sama seperti Sungai Gangga yang maha suci. Mengingat keagungan dan kesuciannya itu, Ramayana yang dijadikan lakon dalam kesenian apapun memang patut ditonton.

Wayan Supartha

1 Comment (+add yours?)

  1. Putri Sarinande
    Jan 07, 2011 @ 00:23:21

    dia yang mengenal dirinya, akan mengenal tuhannya. semacam itu lah. sayangnya, saya tak begitu paham wayang. tapi artikel ini inspiratif🙂

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: