Wayang Warisan Filsafat Nenek Moyang Bangsa Indonesia

SURABAYA _ Wayang yang diambil dari kata bayang merupakan salah satu bukti kekayaan khazanah budaya Indonesia. Berbagai jenis dan cerita wayang telah begitu dikenal luas oleh dunia Internasional sehingga Unesco (United Nations Educational Scientific and Cultural Organization) pada 7 November 2003 mengakui pertunjukan wayang sebagai karya budaya yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang sangat berharga (masterpiece of oral and intangible heritage of humanity). Cerita dan keindahan wayang ini dapat disaksikan dalam pameran wayang yang di selenggarakan di Galeri seni di House of sampoerna pada 15 Agustus – 06 September 2009.

Pameran yang bertujuan untuk mengenalkan dan melestarikan warisan budaya ini didukung oleh pedalang dan seniman wayang Jawa Timur seperti Thalib Prasojo, Setyo Prihandono dan Sinarto, dimana mayoritas wayang ditampilkan berasal dari Jawa Timur. Adapun wayang yang akan dipamerkan antara lain wayang Purwa, Gedhog, Krucil, Klitik, Thengul, Suket dan wayang yang diapresiasikan dalam pahatan diatas papan jati atau wayang jati. Beragam bentuk wayang menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan keinginan melestarikan dengan kreasi yang tidak terikat pada satu bahan mulai dari relief batu, candi, daun lontar, kulit, kayu dan suket.

Wayang dikenal sejak 1500 tahun sebelum masehi dimana masyarakat Indonesia pada masa itu memeluk kepercayaan animism berupa pemujaan roh nenek moyang yang diwujudkan dalam arca atau gambar. Terdapat versi wayang yang dimainkan oleh orang dengan memakai kostum yaitu wayang orang dan wayang yang berupa sekumpulan boneka yang dimainkan oleh dalang yaitu diantaranya wayang kulit dan wayang golek. Cerita yang dikisahkan dalam pagelaran wayang berasal dari Mahabarata, Ramayana, Panji, Menak dan lain-lain. Dari cerita dapat dipetik hikmah ajaran budi pekerti luhur dan andhap-asor serta akibatnya.

“Dari sisi tujuan, pameran wayang ini menjadi media pengenalan sekaligus melatih generasi agar mempunyai penghargaan terhadap produk-produk budaya tradisional” ujar Sinarto, pedalang yang juga menjabat sebagai kasi kesenian dan pengembangan Sekolah dinas pendidikan Surabaya ini. “Dari sisi lain, menurut saya pameran ini juga mengugah pihak lain bahwa produk-produk nasional bisa ditangani oleh semua pihak untuk pelestariannya. Tidak hanya tergantung pada pemerintah.” Lanjut Sinarto.

Dalam sepuluh tahun terakhir perkembangan wayang mulai membaik. Dimana perhatian pemerintah dan masyarakat mulai tinggi. Mulai banyak acara-acara yang menggunakan hiburan wayang. Ini juga dirasakan oleh Sinarto yang mengatakan permintaan mendalang meningkat. Baik untuk acara-acara di pemerintahan dan masyarakat umum.

“Perkembangan wayang (wayang kulit terutama) mulai membaik. bahkan Presiden (Susilo Bambang Yudhoyono) mulai mempopulerkan juga. Akhir-akhir ini saya banyak mendapat permintaan mendalang tentunya.”

Diantara wayang-wayang yang telah banyak dikenal, ada wayang yang merupakan kreasi inovasi yaitu wayang jati. Setyo Prihandono menuangkan cerita-cerita wayang dalam ukiran di atas kayu jati. Dengan memanfaatkan kayu-kayu jati tua bekas, ia berharap dalam melestariakan budaya wayang ini. Setyo tidak ingin mematenkan hasil karyanya karena justru berharap idenya ini juga dilakukan oleh orang lain dengan demikian akan semakin banyak yang akan melestarikan wayang ini.

“Jika dipatenkan maka ini hanya milik saya, padahal saya berharap akan lebih banyak lagi orang yang melakukan seperti yang saya lakukan. Ikut melestarikan seni budaya wayang ini.”

Berbagai jenis wayang yang berkembang saat ini

Wayang Purwo
Atau wayang kulit purwo. Kata purwo (pertama) dipakai untuk membedakan wayang jenis ini dengan wayang kulit lainnya. Banyak jenis wayang kulit mulai dari wayang wahyu, wayang sadat, wayang gedhog, wayang kancil, wayang pancasila dan sebagainya. Purwo berarti awal, wayang purwo diperkirakan mempunyai umur yang paling tua diantara wayang kulit lainnya. Wayang purwo biasanya menggunakan cerita Ramayana dan Mahabarata, sedang jika sudah merambah ke cerita panji biasanya disajikan dengan wayang gedhog. Wayang kulit purwo terbuat dari bahan kulit kerbau yang ditatah, diberi warna sesuai dengan kaidah pulasan wayang pedalangan, diberi tangkai dari tanduk kerbau bule yang diolah sedemikian rupa dengan nama cempurit yang terdiri dari tuding dan gapit.

Wayang Gedhog
Dalam bahasa Jawa kuno, gedhog berarti kuda. Gedhogan berarti kandang kuda. Namun ada juga yang memaknainya dari thuthukane dalang di tempat wayang yang berbunyi dhog….dhog….dhog. wayang gedhog mengambil cerita dari siklus panji, dimana pangeran-pangerannya menggunakan nama kudha, seperti seperti panji kudhawanengpati. Isi ceritanya sekitar perkawinan panji Inukertapati dan dewi Sekartaji. Cerita tersebut melukiskan kehidupan kesatria zaman kerajaan Kediri, Singasari, Jenggala dan ngurawan, yang merupakan sambungan dari wayang Madya. Namun cerita Panji lebih dulu adanya, jadi wayang Madya merupakan wayang sisipan antara cerita wayang Purwo dan wayang Gedhog.

Wayang Klitik/Krucil
Wayang ini pertama kali diciptakan oleh pangeran Pekik adipati Surabaya, dari bahan kulit dan berukuran kecil sehingga disebut wayang krucil. Munculnya wayang menak yang yang terbuat dari kayu, membuat Sunan Pakubuwono II kemudian menciptakan wayang klithik yang menggunakan bahan kayu pipih (dua dimensi). Tangan wayang ini terbuat dari kulit yang ditatah. Berbeda dengan wayang lainnya, wayang klithik memiliki gagang yang terbuat dari kayu. Apabila pentas menimbulkan bunyi klithik…klitihik yang diyakini sebagai asal mula istilah penyebutan wayang klithik. Cerita yang dipakai umumnya mengambil dari zaman panji Kudalaleyan di Pajajaran hingga zaman prabu Brawijaya di Majapahit. Namun tidak menutup kemungkianan memakai cerita wayang purwo dan wayang Menak, bahkan babad tanah Jawa sekalipun.

Wayang Golek/Thengul
Wayang ini suatu seni pertunjukan wayang yang terbuat dari boneka kayu, yang terutama sangat populer di wilayah tanah Pasundan. Ada dua macam wayang golek yakni wayang Golek Papak (Cepak) dan Golek Purwa yan ada di daerah Sunda. Dalam pertunjukan wayang golek juga biasanya memiliki lakon-lakon baik galur maupun carangan yang bersumber dari cerita Ramayana dan Mahabarata dengan menggunakan bahasa Sunda dengan iringan gamelan Sunda (Salendro) yang terdiri dari dua buah saron, sebuah peking, sebuah salentem, satu perangkat boning, satu perangkat boning rincik, satu perangkat kenong, sepasang gong (kempul dan gong) seperangkat kendang (sebuah kendang indung dan tiga buah kulanter), gambang dan rebab.

Wayang Suket
Wayang ini sebetulnya adalah dolanan anak-anak di desa. Ketika mereka menggembalakan ternak mereka di padang rumput, bocah angon (anak gembala) mencoba menirukan para dalang memainkan wayang. Jadilah rumput-rumput sekitar dimanfaatkan untuk dijadikan model wayang, layaknya seorang dalang. Ini merupakan sebuah kebetulan atau ketidaksengajaan seseorang membuat wayang suket. Hal ini dikarenakan orangtuanya dan kakek-kakek mereka adalah seorang petani yang tiap hari pergi ke sawah.

Dinamakan wayang suket karena terbuat dari ruput yang dalam bahasa Jawa disebut suket. Rumput memang sangat mudah ditemukan dimana saja. Tapi yang biasa digunakan menjadi wayang adalah rumput teki, rumput gajah atau mending, alang-alang yang biasa dianyam menjadi tikar. Karena kesemuanya memiliki tekstur yang kuat dan bentuk yang panjang-panjang. Wayang suket tidak mempunyai bentuk yang baku, seperti halnya tokoh dalam wayang kulit atau golek. Sekilas rumput-rumput tersebut memang dibentuk laksana wayang kulit, yang dapat dimainkan dengan tangan. Namun untuk membedakan tokoh yang satu dengan lainnya sangat sulit, sebab bentuknya hampir serupa. Pementasan wayang suket berbeda dengan pertunjukan wayang lainnya.

Wayang Jati
Apresiasi Seni wayang yang ditampilkan dalam bentuk wyang Jati ini merupakan bentuk kreatif dan inovatif seni wayang sehingga dapat memperkaya apresiasi seni wayang tidak hanya sebagai seni pagelaran saja tetapi lebih menonjolkan citra wayang sebagai jati diri bangsa Indonesia mampu membangkitkan aspek kehidupan serta membangun budaya khususnya untuk membentuk watak dan kepribadian bangsa yang memiliki nilai-nilai luhur.
Wayang jati sebagai pengembangan khasanah pakeliran di dalam dunia pewayangan bertujuan agar seni yang adi luhung warisan nenek moyang kita ini dapat tampil dan dinikmati oleh setiap insan tanpa terikat oleh tempat dan waktu. Sehingga generasi muda lebih mengenal dan dapat memahami seni ringgit wacucal secara lugas. Semoga dapat bermanfaat bagi pelestarian dan pengembangan jenis kesenian tradisional bangsa kita.
(ET_Sby/Amelia)

http://www.epochtimes.co.id/nasional.php?id=404

1 Comment (+add yours?)

  1. Trackback: lucichie

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: