Mengenang Sukasman: Keteguhan adalah Nama Tengahnya

Hari ini aku mendapatkan berita duka yang cukup menghenyakkan. Sukasman, atau lebih dikenal sebagai Mbah Kasman telah berpulang ke rumah abadinya pukul tujuh pagi di rumah sakit Pantirapih, Jogja. Indonesia kehilangan satu lagi sosok budayawan tangguh yang teguh pada karyanya. Berani dijauhi ketenaran untuk mempertahankan prinsipnya. Mbah Kasman adalah legenda di dunia wayang dan perdalangan yang telah memberikan nuansa dan warna indah pada bentuk-bentuk wayang. Ia menamai pemikirannya sebagai wayang ukur, sebuah hasil pemikiran terhadap filosofi wayang dan realitas-realitas yang terjadi pada manusia. Ia menyatukan das sollen dan das sein dengan begitu indahnya.

Aku pernah menjumpainya suatu waktu. Sosoknya yang unik membuatku memutuskan mengangkat profil Mbah Kasman di majalahku di Jogja dulu, Andong. Perjumpaan dengannya adalah ruang unik yang tak bisa kulupa. Mbah Kasman menjelaskan kerumitan-kerumitan wayang pada kepalaku yang awam ini, berbekal kapur yang ditorehkan di atas mejanya. Semua kalimatnya tegas dan susah untuk ditelikung begitu saja. Aku lebih banyak mendengarkan penjelasannya, sembari ia menunjukkan koleksi-koleksi wayang yang ia miliki.

Dari tubuhnya sudah jelas terlihat ia menguarkan aura magis yang membuat orang akan menekuk di hadapannya. Begitu pula aku yang semula mematok waktu hanya dua jam wawancara, menjadi empat jam duduk di hadapannya. Meski hanya sekali berjumpa, Mbah Kasman bukan orang yang mudah dilupakan, terlebih dengan segala apa yang dilakukannya untuk pengembangan budaya Indonesia.

Di bawah ini adalah petikan wawancaraku dengannya, yang sudah dimuat juga di Majalah Andong. Hari ini aku tertunduk, mengenang laki-laki tua dengan rambut penuh uban yang telah banyak mewarnai khasanah budaya Indonesia ini pergi menuju tempat barunya. Semoga damai di sana, Mbah Kasman.

Budaya Klasik yang Mendunia

Sukasman, dikenal sebagai seniman yang idealis dan teteg pada pendirian. Ciptaannya yang membahana adalah wayang ukur, hasil penjelajahannya pada bentuk wayang, yang menurutnya telah mengalami evolusi sangat panjang.

Kenapa Anda memilih wayang?
Bapak saya dulu suka menggambar wayang. Sejak kecil saya sering utak atik hasil gambar wayang milik Bapak. Karena itu saya jadi sangat menyukai wayang. Yang unik dari wayang bagi saya adalah bentuk wajahnya yang oval, berbeda dengan ukuran simetris wajah manusia. Dari situ kemudian saya mempelajari tentang wayang. Dan yang saya dapatkan, wayang yang paling kuno ternyata berasal dari Kedu. Bentuknya diambil dari relief-relief candi yang kemudian dipentaskan melalui pertunjukkan wayang beber. Kemudian dalam perjalanannya, dibawa ke Surakarta hingga Jogja. Wayang, sebagai salah satu kesenian Jawa, menurut saya merupakan gambaran bentuk nenek moyang kita dahulu. Dan dalam ceritanya selalu ada pelajaran-pelajaran lisan yang tersembunyi dan tidak dikatakan terang-terangan. Ini kan sesuai dengan budaya Jawa.

Bagaimana proses terciptanya wayang ukur?
Begitu lulus dari ASRI tahun 1962, saya ke Jakarta dan bertemu dengan pemborong yang akhirnya bisa membawa saya menginjakkan kaki di Amerika. Di sana, saya malah dibuat malu karena ternyata budaya klasik wayang itu sangat dihargai di negeri orang. Di negeri sendiri kok malah tidak banyak peminatnya.

Kemudian saya pindah ke Belanda, dan meneruskan eksperimen saya di sana. Saya sering memadukan unsur-unsur Barat di wayang eksperimen saya itu.

Kembali ke Indonesia tahun 1974, saya langsung menghubungi penatah wayang untuk mengerjakan wayang eksperimen saya itu. Eksperimen ini ternyata langsung dipamerkan di Pekan Wayang Indonesia.

Pada saat Museum Wayang dibuka di tahun yang sama, pimpinan museum saat itu Bapak Budiharjo meminta saya memberikan nama untuk wayang eksperimen tersebut. Karena saya bukan orang sastra yang pandai memilih nama yang indah, maka saya sebut saja wayang itu sebagai Wayang Ukur. Ini sesuai dengan cara kerja dan proses pembuatannya, yaitu tidak menurutkan ukuran baku namun terus mencari ukuran-ukuran baru. Karena, dari pengalaman dan buku yang saya baca, tiap benda selalu memiliki ukuran sendiri sesuai maksudnya.

Hal-hal apa saja yang dipunyai Wayang Ukur?
Banyak orang yang mengatakan bahwa segala hal tentang wayang sudah ada pakemnya, dan tidak mungkin diperbarui lagi. Tapi itu tidak selalu benar menurut saya. Makanya saya sering dipinggirkan karena mempunyai pendapat yang berbeda.

Wayang ukur, saya buat dalam keterbatasan bentuk wayang purwa yang sudah jadi, memiliki keunikan tersendiri dari segi bentuk dan warna. Namun semua itu dilandasi dengan filosofi seni rupa dan masih tetap mengandung nilai-nilai agung di dalamnya. Semua “penyimpangan” itu sudah diukur secara cermat. Selain bentuk, Wayang Ukur juga memiliki keunikan dalam hal cerita dan teknik pertunjukkan.

Bentuk Wayang Ukur lebih disesuaikan dengan kondisi realis manusia, namun tetap memiliki simbol. Seperti tokoh Sumba, yang saya buat bentuk dagunya yang agak ke atas, seperti orang sombong. Karena dalam cerita saya Sumba itu wataknya sombong. Atau untuk penggambaran dewa, saya beri warna ungu muda. Warna yang menggambarkan dunia atas yang berbeda dengan dunia bawah.

Dalam bentuk cerita, pertunjukkan Wayang Ukur gubahan saya hanya memiliki durasi sekitar dua jam, namun tidak mengurangi esensi ceritanya.

Bisakah digambarkan bagaimana pementasan Wayang Ukur?
Wayang Ukur dipentaskan dalam bahasa Indonesia. Ceritanya masih banyak yang mengambil lakon kisah Mahabarata, namun saya imbuhi dengan peristiwa-peristiwa yang sedang up to date. Karena itu, sampai sekarang saya membuat kliping koran tentang berbagai hal yang menarik.

Agar semakin menarik, karena kebetulan keponakan saya bekerja di sebuah perusahaan jasa lighting dan sound system, pementasannya kemudian menggunakan ratusan lampu yang disesuaikan dengan alur cerita. Bahkan saya sendiri sering jadi operator lampunya. Ada pula tokoh wayang yang diperankan oleh manusia hadir dalam kisahnya sehingga pementasan bisa terkesan hidup. Saya juga menambahkan dekoratif panggung dari fiberglas rancangan saya sendiri.

Dalam petualangan Anda di dunia wayang, hal apa yang paling berkesan?
Saat melakukan pementasan di luar negeri memberikan kesan mendalam bagi saya. Terutama saat di Vancouver, Kanada. Di sana hampir semua seniman besar seluruh dunia berkumpul untuk berbagi ilmu. Dan setelah itu saya bisa memborong satu set gamelan yang saya idamkan.

Tanggal Lahir: Jogjakarta, 10 April 1937
Nama orang tua: Bapak: Zainal (pengusaha batik), Ibu: Sudilah (masih keturunan Hamengkubuwono I)
Penghargaan untuk Wayang Ukur:

1986: Diundang ke Festival Kesenian Dunia di Vancouver, Kanada
2000: Diundang ke Union Internationale de la Marrionetter-UNIMA di Magdeburg, Jerman

http://ladangkata.com/2009/10/29/mengenang-sukasman-keteguhan-adalah-nama-tengahnya/

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: