Kidung Malam (83) Sampai Pada Waktunya

Gandamana teringat saat menghajar Kumbayana hingga cacat seumur hidup (karya herjaka HS)

Sayembara perang tanding di Negara Cempalaradya masih berlangsung. Seorang brahmana yang mendapat kesempatan naik di panggung sayembara dan berhadapan dengan Gandamana bukanlah orang sembarangan. Ia mampu mengimbangi kesaktian Gandamana. Bahkan ilmu Wungkal Bener dan Aji Bandung Bandawasa yang menjadi andalan Gandamana tidak mampu membendung serangan lawannya. Oleh karenanya Gandamana mulai terdesak. Apalagi secara fisik umur Gandamana jauh berada di atas lawannya, sehingga daya tahannya susut dengan lebih cepat.

Lautan manusia yang masih bertahan di alun-alun menyaksikan bahwa Gandamana yang gagah perkasa dan sakti mandraguna semakin terdesak oleh lawannya. Perasaan para penonton dibawa ke dalam suasana tegang yang semakin memuncak. Tinggal menunggu saatnya, Gandamana terkapar di atas panggung sayembara yang dibuatnya sendiri.

Gandamana semakin yakin bahwa lawannya yang perkasa ini adalah Bima, anak Pandudewanata. Namun walau pun tahu bahwa yang menyamar sebagai barahmana itu adalah Bima, Gandamana tidak akan menghentikan perang tanding ini. Ia bertekad untuk menyelesaikannya. Walau pada akhirnya ia sendiri yang akan diselesaikan oleh Bima, Gandamana sudah siap.

Firasat yang dirasakan Gandamana semakin kuat bahwa inilah saatnya, sampai pada waktunya untuk melepaskan tugas pengabdianya untuk selamanya. Gandamana diingatkan saat saat kegetiran masalalu. Ia tidak pernah menemukan kebahagiaan dalam kedudukkan sebagai patih. Saat Gandamana menjadi patih Hastinapura, ia diperintahkan untuk maju perang melawan negara Pringgandani. Di tengah medan perang Gandamana dijebak di dalam luweng oleh Trigantalpati dan ditimbun tanah. Trigantalpati kemudian melaporkan kepada Prabu Pandudewanata bahwa Gandamana ditawan musuh dan dibunuh. Prabu Pandudewanata kemudian mengangkat Trigantalpati menjadi Patih Hastinapura menggantikan Gandamana.

Gandamana teringat akan masa-masa pengabdianya di negara Hastinapura di bawah pemerintahan Prabu Pandudewanata, aku sengaja dicelakai, dijerumuskan. Aku dikubur hidup-hidup. Semuanya menjadi gelap aku tidak ingat apa-apa.

Syukurlah bahwasannya maut belum mau memelukku. Aku berhasil diselamatkan oleh Yamawidura. Kesehatanku berangsur-angsur menjadi baik. Namun aku belum mampu mengingat awal mula peristiwa yang menimpaku sebelum semuanya menjadi gelap.

Setelah aku pulih aku berniat kembali ke Hastinapura untuk mengemban tanggung jawabku sebagai patih yang beberapa waktu aku tinggalkan. Yamawidura berpesan agar aku tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Karena hal itu tidak bakal menyelesaikan masalah, tetapi justru sebaliknya akan menimbulkan masalah baru yang tak berkesudahan seperti lingkaran setan. Aku pun setuju dengan apa yang diutarakan Yamawidura. Namun untuk apa hal itu harus dipesankan kepadaku ketika aku akan kembali ke Hastinapura? Ada apa dibalik pesan itu? Aku tahu bahwa Yamawidura adalah adik prabu Pandu yang bijaksana. Ia mempunyai ketajaman batin yang mampu melihat masa depan dengan tepat. Oleh karenanya aku ingin segera kembali ke Hastinapura untuk mengetahui kejadian apa yang bakal terjadi berkaitan dengan pesan Yamawidura.

Setibanya di Hastinapura Gandamana lupa akan pesan Yamawidura. Pikirannya hanya tertuju kepada jabatan patih yang ia tinggalkan. Ada kekawatiran pada dirinya bahwa Prabu Pandudewanata kerepotan mengatur jalannya pemerintahan tanpa kehadiran dirinya. Namun ternyata kekawatiran Gandamana tinggalah kekawatiran yang tidak untuk siapa-siapa kecuali untuk dirinya sendiri. Hastinapura tidak kacau, dan Prabu Pandudewanata tidak repot. Semuanya baik-baik saja. Jabatan patih yang ditinggal Gandamana telah diisi oleh Trigantalpati. Gandamana naik pitam. Darahnya mengalir sangat cepat disekujur badannya. Pada saat pasowann agung, Trigantalpati diseret keluar oleh Gandamana lalu dihajarnya hingga wajah dan badannya mengalami cacat seumur hidup. Tindakan Gandamana dicela oleh Prabu Pandudewanata, dianggap merendahkan martabat raja. Gandamana diusir dari bumi Hastinapura dan kembali ke Pancalaradya. Di Pancalaradya Gandamana diangkat menjadi Patih oleh Prabu Durpada kakaknya. Peristiwa lama terulang kembali. Gandamana menghajar Kumbayana hingga menderita cacat seumur hidup.

Gandamana termenung dalam. Kedudukan Patih tidaklah memberikan kebahagiaan, tetapi justru kegetiran. Pengabdian yang tulus tidaklah cukup, tetapi jperlu disertai dengan kewaspadaan terhadap lawan lawan politiknya. Gandamana tidak memikirkan itu. baginya jabatan patih adalah tanda dan sarana untuk mengabdi negara dan melayani rakyat. Dan Gandamana telah melakukannya dengan baik. Walau hasilnya adalah kegetiran.

Namun kali ini perang tanding melawan cucunya bukanlah sebuah kegetiran. Demikian pula jika harus mati ditangan cucunya. Blesss. Bersamaan dengan selesainya permenungan Gandamana, Kuku Pancanaka ditangan Bima telah menembus dadanya.

herjaka HS

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: