Banjaran Cerita Pandhawa (39) Padhawa Muksa pt1

Pandhawa sedang melakukan sebuah perjalanan spiritual untk menjalani muksa.
(karya : herjaka HS)

Parikesit raja Ngastina duduk di atas singhasana, dihadap oleh Patih Dwara dan Patih Danurwenda. Mereka menerima kehadiran Sri Darmakusuma, Sri Kresna, Sri Balarama, Kunthi, Drupadi, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa.

Sri Darmakusuma atau Puntadewa memberitahu, bahwa para Pandhawa telah selesai bersuci diri di sungai Bagiatri, kemudian akan muksa.

Mendengar keterangan Prabu Puntadewa, Parikesit menjadi sedih. Sri Kresna menasihatinya dan supaya bersyukur kepada Tuhan, bahwa para Pandhawa telah mendapat karunia, dan mereka akan muksa.

Puntadewa bercerita tentang ilham yang diterimanya. Ia memperoleh ilham, bahwa Pandhawa bersama Kunthi dan Drupadi pada waktu terang bulan yang akan datang diperkenankan muksa. Baladewa ingin ikut muksa, tetapi Sri Kresna tidak mengijinkan, sebab muksa itu atas kuasa Tuhan.

Para Pandhawa, Kunthi, Drupadi dan Sri Kresna meninggalkan kerajaan. Baladewa diminta tinggal di Ngastina mengasuh raja Parikesit.

Resi Wantrika dari pertapaan Rewantaka menghadap Sri Kresna sang resi minta agar anak Sri Kresna yang bernama Setyaka diperkenankan diambil sebagai menantu, akan dikawinkan dengan Endhang Puspawati. Sri Kresna ingin berunding di luar istana Ngastina. Resi Wantrika menyanggupinya.

Sri Kresna berunding dengan Resi Wantrika. Sri Kresna mengijinkan, Setyaka boleh diambil menantu, asal sang resi bisa menjelaskan ungkapan bermakna, yaitu tentang sembah raga, sembah jiwa dan sembah sukma. Resi Wantrika dapat menjelaskan maksud ungkapan itu. Kemudian Sri Kresna minta agar Resi Wantrika mengajukan pertanyaan kepadanya. Resi Wantrika menanyakan jumlah anak Sri Kresna. Sri Kresna menjawab jumlah anaknya, tetapi ada satu yang lupa tidak disebutnya. Resi Wantrika menjelaskan anak yang dilupakan, karena anak itu dibuang sejak bayi. Akhirnya Sri Kresna mengakuinya. Resi Wantrika bercerita, bahwa keturunan anak Sri Kresna yang sekarang hidup ialah Endhang Puspawati.

Sri Kresna marah, Resi Wantrika akan dibunuh dengan senjata cakra, tetapi senjata tidak melukainya. Sang Hyang Narada datang, menjelaskan kebenaran, bahwa Endhang Puspawati adalah keturunannya. Senjata Cakra diminta oleh Sang Hyang Narada, dibawa ke kahyangan. Sri Kresna mengijinkan Setyaka memperisteri Endhang Puspawati. Setelah selesai perkawinan, Sri kresna menyusul para Pandhawa yang akan mencari jalan kemuksaan.

Prabu Kiswaka anak Bomantara, raja Surateleng, dihadap oleh Adipati Glagah Tinunu, Ditya Wesi Aji dan Togog. Mereka mendengar kabar tentang para Pandhawa yang akan muksa, dan ingin membalas kematian ayahnya, memberontak pemerintahan Ngastina. Mereka bersiap-siap bersama perajurit, lalu mencegat perajurit Ngastina yang menghantar kemuksaan para Pandhawa. Terjadilah pertempuran, perajurit Surateleng menyimpang jalan.

Para panakawan Pandhawa menghantar Arjuna mengikuti perjalanan Sri Kresna, Kunthi, Drupadi, Bima, Nakula, Sadewa dan Puntadewa. Perjalanan mereka tiba di desa Samahita. Mereka telah bersamadhi selama tujuh hari. Sri Kresna menanyakan ilham yang mereka peroleh.

Kunthi bermimpi, seolah-olah raja Pandhu dan Madrim naik kereta akan menjemputnya. Drupadi bermimpi berjalan lurus, kemudian sampai di sebuah pintu gerbang bergapura intan berhias indah. Puntadewa bermimpi melihat keris berpamor emas. Keris itu masuk dalam sarungnya, lalu hilang dari pandangannya, tertutup oleh cahaya semu. Arjuna bermimpi melihat arca emas bergantung tanpa sangkutan, kemudian hilang masuk ke tubuhnya. Nakula bermimpi naik gunung bersalju bersama Sadewa, kemudian meluncur seperti panah meluncur dari busurnya. Mimpi Sadewa sama dengan mimpi Nakula. Bima bermimpi memandang cahaya sebesar kunang-kunang yang bertempat di pusat Pramana Jati. Dipandang dari arah manapun cahaya itu tidak hilang. Sri kresna belum memperoleh ilham sama sekali.

Seekor kuda berkepala manusia meluncur dari angkasa. Kuda itu dipanah oleh Arjuna, seketika berubah menjadi manusia tua, mengaku bernama Kyai Lurah Wilarsraya. Wilarsraya bercerita tentang asal mula menjadi kuda berkepala manusia. Ia memang berasal dari kuda raja Gardhapura yang bersatu dengan seorang juru pemelihara kuda. Ia bertugas membantu Duryodana sewaktu perang baratayuda. Karena terkena panah, kepala kuda lepas dan tubuh manusia terpisah. Bersatulah tubuh kuda dengan kepala manusia pemelihara kuda, oleh karena kesaktian minyak sangkal yang dibawanya. Wilarsraya ingin mengabdi di Negara Ngastina. Sri Kresna menyetujui, Puntadewa memberi surat pengantar untuk Parikesit, raja Ngastina

Ki Tristuti Suryaputra. Lampahan Pandhawa Muksa. Surakarta, 1988, R.S. Subalidinata

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: