Gagrak dan Pakem

Pagelaran wayang dan/atau karawitan, di masa sekarang dikenal sebagai suatu pagelaran yang dimainkan menurut suatu ‘gagrak’ (pola, gaya, mahzab, atau corak) dan ‘pakem’ tertentu. Seperti pada lukisan, dikenal ada lukisan gaya naturalis, gaya super-naturalis, gaya abstrak, gaya modern dan sebagainya. Seperti itu pula permainan alat-alat gamelan yang lazim disebut ‘karawitan’. Bahkan kita pada masa sekarang, juga mengenal sejumlah seniman karawitan dan/atau wayang yang menonjol dalam suatu gagrak tertentu.

More

Advertisements

Gendhing Talu , Cerita Kehidupan Manusia

Pagelaran wayang, sejak beratus tahun yang lampau, selalu diawali dengan dimainkannya suatu konser karawitan khas, yang mengawali setiap pagelaran wayang. Konser karawitan yang sangat khas ini, lazim disebut ‘talu’ (dalam bahasa Jawa) atau ‘tatalu’ (dalam bahasa Sunda). Konser karawitan ini, dimainkan sekitar satu jam, sebelum pagelaran wayang yang sesungguhnya dimulai. Seluruh filosofi cerita kehidupan manusia, sejak ia belum ada, kemudian lahir, berubah menjadi remaja, menginjak dewasa, dan berubah menjadi tua renta, serta akhirnya sampai pada masa kembali tiada (kembali ke haribaan Yang Maha Kuasa), diceritakan dan ditampilkan dalam sekumpulan komposisi gendhing (lagu). Ini merupakan ringkasan seluruh kehidupan manusia di ‘alam jana loka’. Sedangkan pagelaran wayang yang dimainkan semalam suntuk (sekitar 7 – 8 jam), sebenarnya hanya merupakan penggalan sepersejuta dari seluruh kehidupan manusia di dunia ini.

More

Pembabakan Pagelaran Wayang

Pagelaran wayang (khususnya pagelaran wayang kulit purwa), seperti yang kita kenal pada masa sekarang, seringkali dipahami secara sepotong-sepotong dan tidak lengkap. Bahkan ada yang berpendapat, bahwa pagelaran wayang selalu dilakukan pada malam hari semata. Ini merupakan pemahaman yang lazim di kalangan masyarakat kita. Tetapi, apakah kita pernah memahami bagaimana sebenarnya pelaksanaan pagelaran wayang secara lengkap?
More

Pagelaran Wayang Ruwatan

Pagelaran wayang yang dilakukan untuk keperluan ‘ruwatan’, lazimnya juga dilakukan di sekitar tanggal 1 bulan Sura. Pada masyarakat suku-bangsa Jawa, pagelaran wayang kulit purwa yang dilaksanakan dalam rangka ‘ruwatan’, lazimnya juga disesuaikan untuk keperluan tertentu. Secara adat dikenal ada sejumlah upacara ‘ruwatan’ yang berbeda-beda. Namun, banyak juga masyarakat kita yang sebenarnya tidak mengerti apa itu ruwatan, bagaimana, mengapa, dan untuk apa pagelaran wayang dilaksanakan.

More

Ancient Shadow Puppets (Wayang Kulit)

Wayang kulit, or shadow puppets as they are more commonly known as in English, are part of an ancient heritage of pre-Hindu culture that still exists in many regions around Indonesia. The word wayang means puppet, while kulit means skin. Wayang puppets are cut from thin pieces of buffalo hide and intricately carved and decorated to symbolize different characters. The figures are braced with a single support stick and often have articulating arms and legs that can be manipulated to act out dramatic scenes.
More

Catatan Dari Berbagai Pagelaran Wayang

Memahami penonton ‘tradisional’ pada suatu pagelaran wayang, memang menarik. Di wilayah kota besar, mungkin karena kesibukan sehari-hari masyarakat yang luar biasa, maka peri-laku penonton menjadi lain dari pada saat suatu pagelaran wayang di pentaskan di wilayah pedalaman. Cobalah simak, pernyataan asisten Ki Purboasmoro yang menyatakan komentarnya di bawah ini.
More

Merenungkan Pagelaran Wayang Kita

Pagelaran wayang, seharusnya tampil sebagai suatu peristiwa imajiner yang terjadi di dalam benak kita, di mata-hati kita; dan bukan sekedar pertunjukan ragawi, yang tampil hanya di mata-raga kita.
More

Previous Older Entries Next Newer Entries