Tidak Tahu Balas Budi

Tersebutlah seekor buaya bernama Kalasrenggi, bertempat di kali Lereng. Ia terkenal jahat, membongkar kuburan dan merampok binatang yang lewat.

Suatu hari ia sedang istirahat di bawah batang pohon yang tumbang. Tiba-tiba angin bertiup sehingga batang tumbang menindih tubuh si buaya. Bagaimanapun usahanya untuk mengungkit batang itu, ia tidak mampu. Selama 20 hari tidak makan dan minum. Kebetulan lewat di sana banteng jantan dan betina. Buaya dengan lemah lembut minta pertolongan kepada banteng, agar menolongnya melepaskan dirinya dari musibah dengan mengungkit kayu dari atas punggungnya.

Si buaya minta sambil menangis dan berjanji akan memberikan benda berkhasiat kepada banteng. Banteng akan diajak pesta dengan para pembesar di laut selatan. Banteng betina akan menerima hadiah emas dan berlian. Keduanya tertarik oleh janji-janji itu lalu mengungkit batang kayu yang menindih si buaya. Buaya minta digendong dibawa ke air, karena tubuhnya sangat lemah akibat kurang makan.

Tiba di sungai buaya akan diturunkan tetapi tidak mau. Ingin digendong sampai tengah muara, biar banteng melihat istana si buaya. Di tengah muara kekuatan buaya pulih, ia mencengkeram banteng semakin kuat. Terjadilah perkelahian antara banteng jantan dan buaya. Banteng betina lari melapor kepada yang berwenang.

Sementara itu buaya dan banteng saling berbantah sambil berkelahi. Buaya mengemukakan berbagai contoh yang terjadi dalam masyarakat. Bahwa orang yang bodoh mudah kena tipu. Banyak orang yang menderita rugi karena terpikat oleh bujukan yang sepintas lalu menguntungkan.

Orang yang berhutang haruslah berbohong, sebab kalau jujur tidak akan dapat, kata buaya. Menipu tak ada bedanya besar atau kecil. Yang kaya menang perkara, yang miskin selalu kalah. Yang kecil di mintai pajak tiap tahun. Banteng terpikat oleh janji akan memperoleh macam-macan benda. Ia lupa bahwa jaman yang berlaku ialah yang pintar makan yang bodoh. Sementara banteng betina tiba dimuara sungai opak beserta para penggawa kancil.

Air bengawan tampak merah oleh darah yang keluar dari tubuh banteng. Si buaya masih berada di punggungnya. Mulutnya menggigit tengkuk. Banteng merasa sejuk hatinya. Semula buaya enggan dipanggil menepi oleh Kancil, tetapi berkat kepandaian Kancil buaya berhasil dibujuk. Kemudian diminta menunjukkan tempat ia tertimpa batang sebelumnya. Batang ditindihkan lagi ke punggung buaya dan Kancil memerintahkan agar dibiarkan saja buaya menderita disebabkan oleh hatinya yang jahat.

Buaya merasa kalah pandai melawan Kancil. Kembali ia menderita seperti semula, sampai akhirnya gelombang laut membebaskannya. Berbagai macam petuah telah ia terima dari Kancil yang membuat dia tobat dan insyaf.
Lanjutan ajaran Kancil kepada buaya. Kancil memberikan contoh bagaimana hendaknya membalas kebaikan orang lain. Segala perbuatan supaya sesuai dengan bisikan hati yang baik. Janganlah berlainan antara perbuatan dan bisikan hati. Jika seseorang dapat mengikuti kemauan hati yang baik akan memperoleh pahala dari Hyang Sukma. Tetapi jika hati berfikir menyeleweng, segeralah beralih budi dan berfikir laku yang baik.

Kancil memberikan banyak petuah kepada buaya, bagaimana timbulnya keinginan yang jahat. Buaya dapat menerima sehingga ia tidak merasa menderita dan percaya bahwa ia pasti tertolong jiwanya. Semua perbuatan harus dipikirkan masak-masak agar tidak menyesal kemudian. Setelah buaya terlepas dan tiba kembali di rumahnya, ia disambut oleh semua anak buahnya. Ia pun melanjutkan ajaran yang telah diberikan olek kancil.

Penegakan Hukum

Kekuasaan Gebang Tinatar meliputi daerah seluruh Jawa, dari Serang hingga Blambangan. Hari Senin dan Kamis diadakan pertemuan dengan para punggawa. Peraturan hukum dilaksanakan secara adil. Pajak hanya dipungut sekedarnya, sehingga semua bawahan merasa tentram hidupnya. Seekor kijang ketika pulang dari Gebang Tinatar telah digigit ketam. Kakinya berdarah, ia lari dengan hati kacau mendengar suara burung pelatuk. Terinjak olehnya anak berang-berang hingga mati. Berang-berang jantan melapor kepada yang berwenang. Ia bunyikan tanda kentongan.

Berdatangan binatang ketempat Berang-berang dan diketahui bahwa kijanglah penyebab kematian itu. Amongpraja telah memeriksa kedua anak yang mati. Kemudian kijang pun dipanggil. Dan diperiksa, setelah dibawa menghadap Amongpraja dengan diikat kedua kakinya. Atas perbuatan itu kijang mengajukan keberatan.

Keberatan kijang tidak ditanggapi. Laporan tentang kematian anak berang-berang dibacakan. Kijang membantah bahwa kematian itu bukan karena salahnya, tetapi akibat burung pelatuk yang membuat terkejut. Pelatuk di panggil dan ditegur mengapa membuat gaduh. Pelatuk berbuat karena ingin mengusir kemamang. Kemamang yang dipanggil berdalih ingin menerangi jalan karena laba-laba memasang jaring dimana-mana. Laba-laba berdalih ia memasang jaring untuk menangkap capung yang tak henti menari-nari. Capung menari karena katak selalu memukul gamelannya. Katak memukul gamelan sebab melihat orang banyak membawa lampu, ialah kunang-kunang. Si kunang-kunang membawa lampu untuk menghindari pedang ikan lele. Ikan lele membawa pedangnya ingin menandingi ketam yang selalu membawa penyapit. Terakhir ketamlah yang dihadapkan.

Ketam menjadi ketakutan dan mengakui bahwa ialah yang menggigit kaki kijang. Kijang terkejut dan mengijak anak berang-berang sehingga mati. Keputusan diberikan pada hari sabtu, karena ketam telah mengakui salahnya.

Semua binatang telah berkumpul menunggu keputusan. Gajah yang bertindak sebagai juru bicara. Masing-masing terdakwa telah didengar keterangannya, ialah kijang, pelatuk, laba-laba, katak, kunang-kunang, dan ikan lele. Berang-berang membenarkan keterangan masing-masing terdakwa. Masing-masing mendapatkan hukuman sesuai dengan kesalahannya. Tingal menunggu hukuman untuk ketam dari atasannya di Mesir.

Hari Sabtu berikutnya sidang perkara dilanjutkan. Keputusan ketam mendapat hukuman gantung hingga mati. Pelaksanaan hukuman bertempat di alun-alun. Setelah mati tubuhnya diberikan kepada berang-berang yang segera makan ketam itu hingga sekarang. Kancil semakin disenangi semua satwa.

Pembangkangan Anjing

Gebang Tinatar semakin kuat kekuasaannya. Banteng diangkat menjadi Patih, namanya Patih Kartapraja. Gajah menjadi jaksa, bernama Amongpardata. Wauwa diangkat menjadi penghulu, mernama Ki Mohamat
Kasilolah. Keadan negara semakin tentram.

Diceritakan anjing milik Sutatruna yang lari. Ia bertapa di Suracala dan menerima ilmu dari Nabi Ilyas. Ia pandai bermacam ilmu makripat. Siswaya sangat banyak yang datang dari segala tempat. Kancil mendengar berita itu dan mengirimkan utusan untuk memanggil Anjing.

Musang yang diutus telah tiba di Suracala. Ketika itu Srenggala sedang mengadakan pertemuan. Musang menyampaikan perintah sang Kancil, bahwa Srenggala dipanggil ke gebang Tinatar. Srenggala tidak mau, bahkan mengajak adu kepandaian dengan Kancil. Kuwuk yang mendengar bahwa Srenggala membangkang datang ke Suracala untuk membujuk Srenggala. Tetapi Srenggala tetap tidak mau. Kancil kemudian mengirimkan Wauwa untuk memanggil Srenggala dan minta agar Srenggala memberikan jawaban teka-teki. Teka-teki itu terjadai dari lima macam.

Wauwa bertukar pikiran dengan Srenggala mengenai ilmu makripat. Srenggala memberikan jawab atas lima pasal yang diajukan Wauwa. Wauwa merasa kalah. Ia menyarankan kepada Srenggala agar bersedia datang tiga tuhun kemudian menghadap sang Kancil.

Wauwa malahan minta Srenggala memberi pelajaran kepadanya. Srenggala mengajar dia tentang bersatunya gusti dan kawula, yang membuat Wauwa semakin tertarik untuk berguru kepada Srenggala.

Wauwa menyembah kepada Srenggala minta agar diberi ilmu yang lain. Sebelum diberi ia tidak mau kembali pulang. Maka Srenggala pun memberikan ilmu “ rahasia “ kehidupan. Wauwa penghulu di Gebang Tinatar bertambah terang dalam hatinya.

Kelahiran Kancil

Diceritakan ada seekor kambing betina yang bertapa, bernama Wedhus Prucul. Tapanya diterima oleh dewa dan kelak ia menurunkan binatang pandai bernama Bagus Yatin alias Kancil Amongpraja. Ia dibawa oleh kekuatan gaib ke tempat calon suaminya yang tempatnya di pertapaan Ngampelgading.

Kedatangannya disambut dengan senang hati oleh Kenthus, yang telah lama menunggunya. Ia pun mendapat isyarat dari Dewa bahwa calon istrinya akan tiba dipertapaan. Kenthus pandai sekali merayu dan kawinlah keduanya. Wedhus Prucul kemudian bunting.

Wedhus Prucul mimpi bertemu dengan nabi Kilir. Memberi tahukan bahwa kandungannya kelak akan lahir laki-laki dan dihadap oleh binatang-binatang.

Setelah bayi berusia tujuh bulan Kenthus meninggal dunia. Sebelumnya ia menurunkan tanda-tanda orang yang dipanggil Tuhan. Berupa isyarat yang dirasakan oleh anggota tubuh. Pesan ilmu itu diterima dengan baik oleh Prucul. Kelahiran bayi di barengi dengan hujan bunga dari angkasa yang dijatuhkan para dewa. Kancil nama bayi itu, sesuai dengan pesan kenthus, tumbuh sehat dan berotak cerdas. Konon Nabi Adam datang juga menjenguk kelahiran Bagus yatin.

Menginjak usia enambelas tahun Kancil telah mahir berbagai ilmu.

Kancil Winisudha

Kancil sadar, bahwa ia telah menipu beberapa binatang, antara lain anjing dan gajah. Ia ingin bertobat. Mencari tempat yang sunyi di tepi pantai untuk bertapa. Ia tiba di gua langse, tempat sultan Agung dahulu bertapa dan masuk kedalamnya. Di sanalah ia memuja serta mengurangi makan dan minum. Beberapa waktu kemudian ia kedatangan seorang tua dari langit yang mengangkatnya sebagai pegawai Nabi Suleman. Untuk itu ia diberi SK dan tanda stempel berhuruf W. Kancil setelah itu mengakhiri tapanya dan kembali ke hutan.

Semua binatang di hutan senang setelah mendapat sasminta hyang Agung. Bahwa Kancil diangkat sebagai wakil Nabi Suleman di hutan. Mereka bersama-sama menunggu kedatangan Kancil di Gebang Tinatar. Ada yang datang dari Teluk Betung, dari Anyer dan dari Ciringin. Dari dataran sebelah utara, datanglah wakil-wakil dari Krawang , Cerbon, Tegal dan Gunung Prabu. Dan dari Lodaya wakil-wakilnya berkumpul di Gunung Kidul. Di sebelah selatan Pajang.

Beribu-ribu binatang hutan telah siap pada hari Kamis malam di tanah lapang. Kancil tiba dengan cahya bersinar bagaikan pelangi. Semua binatang sejuk hatinya. Gajah yang pernah diberi ajaran tanpil sebagai juru bicara. Kera diminta menjadi penulis dan Kancil memerintahkan untuk menyiapkan berbagai bangunan istana. Masing-masing binatang memperoleh kedudukan. Kemudian Kancil mengirim duta untuk menjemput ibunya.

Kancil Mencuri Timun

Suatu ketika kancil mencuri ketimun di ladang milik pak Sutatruna. Ia datang berulang-ulang ke ladang itu menghabiskan ketimun yang muda-muda. Pemiliknya mencari akal untuk menangkap binatang yang mengganggu hingga tanamannya rusak. Dibuatnya orang-orangan dari kayu supaya binatang yang mencuri takut. Tetapi orang-orangan itu semuanya dirobohkan oleh Kancil. Sutatruna kemudian mengolesi orang-orangan itu dengan getah pohon yang lengket. Getah nangka, getah gundhang dan pohon bendha.

Sutatruna dibantu oleh banyak pemuda desa. Orang-orangan kayu telah dilumuri getah cukup tebal dan didirikan di empat penjuru sawah. Kancil akhirnya tertangkap, biarpun berusaha sekuat tenaganya untuk menghilangkan getah yang lengket. Ia mengutarakan kesal hatinya panjang lebar. Bahwa orang sebaiknya berpikir masak-masak sebelum melakukan sesuatu dan sebelum melaksakannya. Kareka bahaya besar tidak hilang oleh puji tanpa berusaha. Orang yang bijaksana berfikir dulu sebelum bertindak.

Banyak orang yang tobat setelah masuk penjara. Kancil terperangkap akibat menuruti nafsu hati tanpa ditimbang oleh nalar yang tenang. Sutatruna yang terjaga melihat ke arah orang-orangan di sawah. Sebelah barat laut ternyata roboh. Segera ia singsingkan lengan baju dan lari ketempat itu. Ia berteriak gembira melihat pasangan-getahnya mengena.

Kepala kancil dipukul dengan kapak hingga pingsan. Kakinya diikat erat dibawa pulang. Sutatruna sangat senang hatinya. Dipikulannya tergantung Kancil sebelah depan dan kayu bakar sebelah belakang. Para tetangga datang ingin melihat tangkapan yang aneh. Sutatruna setuju untuk menyembelih kancil pada keesokan harinya, mengingat hari telah petang.

Istri Sutatruna menyediakan kelapa. Kancil akan dimasak bumbu rempah, agar tetangga dapat ikut merasakan dagingnya. Kancil kemudian dikurung dalam “ senik” kulit bambu. Di atasnya diletakkan batu sebagai pemberat. Tali pengikat kakinya di lepaskan, agar dapat tidur dan berputar-putar. Tetapi agaknya mautnya belum tiba. Malam-malam datang mendekati kurungan Kancil seekor anjing jantan. Ia kedinginan di luar. Kancil memperoleh kesempatan menipu dia, dengan berdalih ia akan dikawinkan dengan anak Sutatruna. Sehingga anjing jantan itu terpikat hatinya.

Macam-macam cerita Kancil dalam usahanya memikat hati si anjing. Antara lain kedua anak perempuan Pak tani ingin memperoleh keturunan yang pandai seperti Kancil. Batu yang di letakkan di atas kurungan sebenarnya batu yang jauh asalnya, yang memberikan khasiat agar kancil kuat beristri dua.

Anjing terpancing oleh impian kosong, akhirnya menggeser batu yang diletakkan di atas kurungan kancil.

Setelah Kancil keluar, anjing pun masuk ke dalam kurungan. Kancil pura-pura kembali dan minta mengurungkan niatnya. Anjing merengek-rengek mohon agar Kancil jangan mengurungkan niatnya, karena ingin sekali kawin dengan anak majikannya. Pagi-pagi anak Sutatruna membawa tangkapan ke tempat yang terang, kiranya yang dibawa bukan Kancil, tetapi anjing. Anjing itu dipukuli hingga setengah mati, ayahnya ikut pula melampiaskan marah.

Anjing lari menjauhkan diri, takut tuannya membunuh dia. Ia ingin mencari tempat tinggal si Kancil. Diceritakan Kancil tiba di bekas perumahan yang belum lama ditinggalkan oleh penghuninya. Ia tertarik untuk melihat lebih dekat dan terjerumus kedalam sumur tua.

Kancil menyesali dirinya yang kurang hati-hati dan menghibur hati dengan mengucapkan kalimah toyibah dengan keras-keras.Suaranya menarik perhatian seekor gajah yang segera datang ke dalam sumur. Kancil bercerita kepada Gajah bahwa hari kiamat akan tiba, itulah sebabnya ia masuk ke sumur sesuai dengan petunjuk Nabi Sulaeman. Agar jangan kejatuhan langit.

Kancil sangat pandai bercerita sehingga menarik hati gajah untuk ikut serta berada di dalam sumur. Kancil pura-pura menolak mengingat tahi gajah akan mengotori tempatnya. Gajah minta dengan sangat dan bersedia menempatkan kancil di atas punggung gajah. Gajah akhirnya di perbolehkan turut masuk ke dalam sumur.

Dengan hadirnya gajah di dalam sumur, maka tinggal kira-kira dua meter lagi jarak punggung gajah dengan bagian atas tepian sumur.

Gajah memperoleh pengetahuan tentang ilmu makritaf. Orang harus menyerahkan dirinya kepada tuhan secara penuh. Bagaimana sikap badan agar dapat memusatkan rasa dan pikiran. Gajah sangat senang menerima petunjuk itu dan mengangkat Kancil sebagai gurunya. Dengan kekuatan sendiri gajah keluar dari sumur, kemudian pulangkembali ke hutan. Di tempat tinggalnya gajah memberikan ajaran itu kepada teman-teman.

Kancil Beradu Kecepatan

Menginjak dewasa Kancil sering pergi ke mana-mana. Ia sangat sombong dan nakal sekali. Untung ada kerbau yang selalu mengingatkan perbuatan kancil yang salah. Namun perangai kancil tak berubah dengan segera. Suatu hari Kancil menyendiri berjalan mengikuti aliran sungai. Ia tertarik oleh rumput-rumputan yang tumbuh ditepiannya. Sampailah ia dihulu sungai, Situbanda namanya. Ia ingin mandi dan turun ke air, tetapi tiba-tiba tertarik pandangannya oleh seekor siput yang menggantung dilumut.

Kancil menghina siput habis-habisan. Siput menjadi marah dan mengajak sikancil untuk mengadu kecepatan lari sepanjang aliran sungai. Keduanya setuju dilaksanakan pada keesokan harinya.

Siput segera mengumpulkan teman-temannya yang besarnya sama. Tiap-tiap empat meter sepanjang aliran sungai akan ditempati seekor siput yang menggantung pada lumut. Siput yang berada didepan Kancil harus memanggil Kancil sanpai siput yang berada di ujung sawah. Begitulah terjadi pada esok hari. Semua siput berada di tempat yang ditentukan.

Kancil pagi-pagi telah tiba sambil tertawa-tawa. Perlombaan dimulai segera. Mula-mula Kancil hanya berjalan lambat kemudian memanggil siput. Ternyata di depannya kira-kira dua meter Siput minta agar Kancil mengejarnya. Demikianlah berulang-ulang terjadi, selalu Siput telah berada di depan Kancil, walaupun Kancil berlari secepat-cepatnya. Seratus meter kemudian Kancil jatuh kehabisan napas. Tenaganya terkuras habis. Ia minta maaf kepada Siput setelah pulih tenaganya.

Siput menyampaikan bermacam-macam petuah kepada Kancil. Antara lain jangan lah merasa diri paling pandai. Biarpun keturunan orang rendahan jika mau belajar dengan sungguh-sungguh pasti meningkat derajatnya. Dalam hidup orang harus mencari budi yang baik, karena orang akhirnya akan meninggal dunia, paling banyak sampai usia sembilan puluh tahun.

Usahakan agar perilaku Panca-indra sesuai di dalam dan di luar tubuh. Tekanlah budi yang jelek agar mampu berkumpul dengan Tuhan yang kuasa. Selanjutnya Siput menjawab pertanyaan Kancil tentang pati yang sesungguhnya.

Siput pun memberikan pengetahuan tentang ilmu kesempurnaan pati kepada Kancil, sesuai dengan yang dimiliki oleh Siput. Untuk itu Kancil diminta masuk ke gua garba Siput. Kancil masuk lewat lubang hidung Siput dan tiba di suatu dunia yang luas dan sunyi. Semua jenis warna diberikan penjelasan yang berhubungan dengan hidup dan insan kamil. Dan apa yang disebut warna atau wujud yang sejati.

Arti Islam menurut Siput adalah selamat di dunia. Siapa yang tidak tahu Islam yang benar ibarat binatang di hutan. Makhuk ada yang menciptakan. Ia jadi karena iradat Allah. Dianjurkan agar Kancil belajar yang sungguh-sungguh, jangan hanya meniru-niru yang tidak tahu. Siput memberi contoh beberapa hal yang diketahui di beberapa tempat di Jawa.

Tidak lupa Siput mengutip beberapa ayat yang terdapat dalam Kitab Suci Al Kur’an, untuk bahan perbandingan.

Siput menjawab pertanyaan Kancil, bahwa keadaan di dunia ada batasnya. Lain dengan di akhirat. Ibarat orang bepergian ia akan pulang kembali ke tempat asal. Apa perolehan yang dibawa kembali tidak dapat diulang. Kancil belum ingin keluar dari gua-garba Siput sebelum memperoleh penjelasan tentang ilmu rasa. Kancil menerima lawal Kalimah Syahadat.

Siput memberikan pejelasan tentang isyarat yang dihadapi oleh makhluk apabila ajalnya hampir tiba, menurut pengalaman Siput. Sejak enam bulan terjadi. Siaplah menyerah bulat kepada Hyang Kuasa agar patinya sempurna. Selanjutnya Kancil diperintahkan untuk meneruskan pengabdiannya kepada orang banyak.

Kancil Beradu Ilmu

Kancil teringat janji Srenggala. Sementara itu murid Srenggala di Suracala semakin berkembang, berdatangan dari hutan-hutan sekitar. Segala macam anjing masuk menjadi muridnya. Srenggala terkenal mahir berbagai ilmu. Kancil merasa kawatir, kalau-kalau kekuasannya menjadi retak. Diperintahkan kepada penghulu Wauwa beserta keempat orang ulama untuk menghadap dan membicarakan masalah Srenggala yang mendirikan perguruan di Suracala.

Penghulu tidak ingin memajukan saran, karena menurut janji Srenggala akan menghadap setelah tiga tahun. Kancil berpendapat sebaiknya ia datang dengan para penggawanya ke Suracala, sekaligus mengadu kepandaian dengan Srenggala. Semua setuju, tetapi sebelumnya patih akan mengukur kepandaian Srenggala bersama kera dan orang hutan. Banteng, kera dan orang hutan menemui Srenggala. Srenggala tetap tidak mau menghadap Kancil, bahkan menganggap tindakan Kancil selama ini tidak benar.

Srenggala kemudian menunjukkan tindakan –tindakan Kancil dan penggawanya yang dinilai tidak betul. Banteng merasa malu, kalah pandai melawan pengetahuan Srenggala. Ia minta agar Srenggala bersedia bertemu dengan Kancil. Bukan sebagai hamba, tetapi sebagai sama-sama guru. Pertemuan disarankan bertempat di Parangtingan. Srenggala bersedia. Sang Kancil senang hatinya mendengar laporan Banteng. Pada hari yang ditentukan ia berangkat bersama para penggawa lengkap. Setelah bertemu dengan Srenggala, Kancil langsung menyalahkan tindakan Srenggala.

Kancil memberi tahu tentang pengangkatannya sebagai Amongpraja. Untuk itu ia pun telah mengkat banyak penggawa. Srenggala dikatakan mengajar ilmu yang tidak benar. Ia memberikan contoh kepada Srenggala tentang Kyai Pengging yang merusak sarak agama. Akhirnya Kyai Pengging dibunuh oleh Raja di Demak.

Terjadilah adu kepandaian antara Kancil dan Srenggala. Srenggala memberikan soal, mengapa Kancil mengangkat pegawai dan menarik pajak. Sedang ia tidak tahu keadaan tanah yang dikuasai. Mana yang subur dan mana yang tidak. Kancil tidak membuat uang mengapa ia menarik uang. Mengapa sebagai raja harus memeras keringat rakyatnya. Menarik pajak dari rakyat, sedang Kancil bukan yang membuat bumi, air, api dan angin.

Janganlah Kancil menjadi raja kalau tidak dapat memberikan jawaban. Soal yang ke dua Kancil diminta menjawab kapan kapan ia bertemu dengan Tuhan dan memberikan beslit, sedang malaikat saja tidak terlihat. Jika Tuhan memberikan sesuatu pasti ada asal mulanya, tak dapat begitu saja. Yang ke tiga Srenggala minta penjelasan Kancil apa yang disebut ilmu sejati,. Dari mana asal binatang, dan mengapa bayi berbeda dengan setelah tua. Dari mana asal pancaindra itu, dan mengapa makluk itu hidup dan bagaimana berkurangnya umur, apakah yang sebenarnya berkurang. Yang keempat Srenggala minta agar Kancil menerangkan mengapa semuanya akan sirna. Yang ke lima setelah mati di mana tempat nyawa, di mana istana akhirat dan yang keenam mengapa matahari terbit di Timur dan tenggelam di barat, apapula sebabnya bulan berjalan ke timur, di manakah pusat bumi itu.

Dimanakah batas bumi itu, Kancil diminta untuk menguraikan keenam masalah tersebut. Kancil tak mampu menguraikan enam masalah tersebut. Ia mengakui kepandaian Srenggala, turun mendekati Srenggala dan bermaksut menyerahkan kekuasaan negara kepada Srenggala. Semua pengikutnya mengikuti Kancil menyembah kepada Srenggala.

Srenggala tidak mau menerima kekuasaan, ia bersedia membantu Kancil. Kemudian memberikan uraian masalah enam macam yang ditanyakan kepada Kancil bertempat di istana Sang Kancil. Srenggala diangkat sebagai panembahan Juruwarta.

Sang panembahan dibuatkan tempat tersendiri di sebelah barat cempuri. Begitu pula para pengikut panembahan yang terdiri dari bermacam anjing diberi pangkat. Suatu ketika Amongpraja menghadap kepada Srenggala, mohon diberi ajaran menghilangkan pekerti panca indra. Setelah diberi tahu Amongpraja mohon ditunjukkan tempat tirta nirmaya. Srenggala menunjukkan tempatnya berupa perlambang. Selanjutnya Amongpraja mohon diberi penjelasan mengenai kata udara menurut kata Arab.

Panembahan memberikan keterangan mengenai udara, gerak dan daya yang ditimbulkan menurut ilmu alam. Dengan berbagai macam contoh, seperti botol, perahu, senapan dan terjadinya gema. Udara diatas laut dan di langit terbuka, serta udara yang diperlukan manusia untuk bernafas. Srenggala kemudian menerangkan mengenai hawa nafsu pada diri manusia. Disusul dengan penjelasan tentang enam perkara yang harus diketahui oleh raja.

Diawali dengan uraian keadaan Tanah Jawa pada zaman kukila. Ketika manusia ibarat burung, tak kenal aturan dan belum beragama. Kemudian zaman manusia mengenal pakaian dari kulit kayu. Asal mula mereka mengenal dewa-dewa. Datangnya orang Hindu dan Pembuatan candi-candi. Pembuatan prasasti dan batu-batu. Datangnya bencana banjir besar sehingga memisahkan pulau-pulau, akibat bumi yang pecah. Datangnya orang Cina dan pengaruhnya dalam cara hidup masyarakat lama. Apa yang menjadi kewajiban raja bagi kemajuan rakyatnya, kemakmuran negerinya, sampai datangnya Belanda yang membawa uang ringgit.

Yang kedua raja harus berusaha tenteramnya pemeluk agama, baik Belanda, Cina, Buda dan Hindu. Tuhan tidak tampak oleh mata. Kancil mohon diberi tahu pasal ketiga ialah terjadinya semua binatang serta tambah dan kurangnya usia. Srenggala memberikan jawaban berdasarkan sifat Tuhan yang dua puluh, sedang berkurangnya usia menurut kodrat bental makmur.

Yang keempat dikatakan oleh Srenggala, bahwa semua yang ada akhirnya akan sirna. Ialah pada hari kiyamat. Kiyamat besar dan kiyamat kecil. Apa yang sebenarnya yang tersembunyi dalam mimpi itu. Orang yang memiliki ilmu sebaiknya memberikan kepada orang lain. Janganlah merasa malu jka orang lain lebih pandai. Belajarlah ilmu-ilmu yang lain.

Yang kelima Kancil mohon diberi tahu tentang tempat istana akhirat. Dijawab oleh Srenggala bahwa ia tidak dapat memberitahukan karena ia sendiri belum mengalami. Ia hanya dapat menyampaikan apa yang dikatakan oleh gurunya, ialah tentang manunggalnya gusti dan kawula. Kemudian Kancil dipeluk oleh Srenggala untuk menerima bukti apa yang diberikan kepada Kancil. Kancil seolah-olah menjadi patung, menerima segala ajaran Srenggala selama satu hari satu malam, tanpa bergerak sedikitpun. Setelah Srenggala uluk salam barulah Kancil sadar dan bangun serta duduk mengeluarkan banyak keringat. Ibarat seperti bangun tidur, ilmu diterima tanpa perlu waktu.

Kelima pasal telah dijelaskan oleh Srenggala, tinggal satu yang belum dijelaskan, ialah mengapa matahari terbit di timur dan bulan terpotong bagian atasnya. Kancil mohon penjelasannya. Srenggala memberi tahu, bahwa masalah tersebut terdapat di kitap ilmu falak, meliputi falak langit, falak laut dan falak darat. Kemudian dijelaskan terjadinya ukuran panjang dan penggunaan pengukur waktu yang disebut jam. Perjalanan matahari dan bulan serta terjadinya gerhana. Disinggung pula tentang dua belas sodiak bintang-bintang.

Munculnya Hukum Pythaguras dan ukuran derajat. Kancil diajak pergi ke sebuah pulau, paroge untuk mencoba mengukur tinggi bintang. Terjadinya ukuran berat serta ukuran satuan panjang (meter) oleh Tuan Toas, kemudian digunakan oleh orang-orang Belanda. Bagaimana cara menggunakan ukuran sekala untuk membuat peta, sikon dan jangka. Tak lupa diberikan ilmu aljabar kepada Kancil.

Srenggala minta kepada Kancil agar Musang dilepaskan dari bumi. Ia telah menjalani hukuman sesuai dengan kesalahannya. Pertemuan besar diadakan, Musang diampuni. Beberapa binatang yang sakit mendapat pengobatan, karena orang tua telah diangkat menjadi perawat. Dibuka kursus perawat bagi yang telah memiliki kepandaian baca tulis di seluruh negeri.

Balas Budi

Di Negeri Ajam (Pakistan), pada Zaman yang disebut zaman Kitrah. Ketika itu manusia belum banyak jumlahnya, akan tetapi sudah banyak binatang yang pandai.Begitu pula keadaan di Pulau Jawa. Banyak binatang yang mahir bahasa Kawi, Jawa, Arab dan ilmu-ilmu agama. Raja yang berkuasa di Ajam ketika itu bernama Kanjeng Nabi Sulaiman.

Terjadilah suatu waktu, Tuhan tidak menurunkan hujan dalam waktu lama. Rumput dan tumbuh-tumbuhan mati, hingga pampak gersang dimana-mana. Debu beterbangan dibawa angin. Taupan terjadi terus menerus, menumbangkan kayu-kayu besar, baik di gunung maupun di hutan. Yang bisa bertahan hanyalah kayu-kayu yang tumbuh di jurang, tak bisa dijangkau oleh binatang. Demikian pula sumber-sumber dan sungai menjadi kering. Bahkan telaga dan bengawan kekeringan, menimbulkan penderitaan bagi binatang semuanya.

Tersebutlah seekor kerbau jantan, muda dan berbadan kokoh. Lama ia tidak makan dan tidak minum, hampir empat bulan tidak bersua dengan makanan. Ia terduduk lemah di bawah pohon Sempu, mohon belas kasih Hyang Kuasa. Suatu hari tibalah harimau ke tempat itu tertarik oleh suara rintih binatang dan ditemukan seekor kerbau yang tubuhnya tertutup lalat hijau.

Harimau berkehendak menolong kerbau itu dan minta agar kerbau berjanji suka menjadi kawan harimau dan memberi pertolongan jika harimau mendapatkan musibah. Kerbau berjanji menolong harimau baik sakit maupun mati.

Demikianlah harimau menerima janji kerbau. Ia pergi mengambil daun drenges sebanyak dua panggul. Dibenamkan dalam air lalu dibawa ke tempat kerbau. Biarpun tumbuhan hijau berada di tepi jurang namun harimau mampu mengambilnya dan ia berikan sepuas kerbau sebanyak tiga kali sehari.

Ada kalanya harimau mencuri daun kacang, daun jagung atau daun ubi ke ladang penduduk, untuk mempererat persaudaraannya dengan kerbau. Si kerbau tubuhnya menjadi gemuk. Sementara itu hujanpun mulai turun. Rumput dan tumbuh-tumbuhan mulai semi dan berdaun kembali

Diceritakan bahwa si harimau telah tujuh hari lamanya tidak memperoleh binatang buruan. Baik kijang, rusa maupun ular atau katak sekalipun. Ia teringat akan jasa baik yang telah diberikan kepada kerbau. Ia pun pergi menemui kerbau dan menguraikan maksutnya, ialah minta daging tengkuknya separo. Kerbau tidak ingin memberikan dagingnya, tetepi ia sanggup membantu kawannya untuk menghadapi macan loreng. Sebenarnya kerbau tidak berani tetapi dengan rasa berat karena ingin hidup ia diantarkan oleh harimau ke tepi laut.

Kerbau terlanjur sanggup meskipun hatinya sangat takut menghadapi air. Ia dimaki-maki oleh harimau. Kerbaupun melompat ke air, namun tidak lama kembali ke darat. Mohon belas kasih harimau agar memberi kelonggaran selama empat hari kepada harimau. Harimau memaki sehabis-habisnya. Perkelahian terjadi, masing-masing mengeluarkan aji dan kepandaiannya. Sampai malam hari belum ada yang kalah.

Keduanya saling mundur. Harimau sangat bernafsu untuk menyelesaikan perkelahian untuk dapat makan tengkuk kerbau. Sayang hari malam telah tiba. Sebaliknya kerbau diganggu oleh pikiran yang bimbang. Jika daging tengkuknya diberikan ia pasti mati, karena si harimau pasti tak puas dan ingin yang lain.
Tengah malam si kerbau meninggalkan tempat, menuju ke utara tempat kediaman kijang. Kijang menyarankan agar kerbau minta bantuan Kuwuk. Kuwuk menyarankan agar kerbau menyerahkan tengkuknya dan kerbau ingin Kuwuk menyaksikan kematiannya. Kuwuk tak sampai hati, ia menyarankan agar kerbau menemui Kenthus. Kenthus terkenal pandai, baik ilmu-ilmu hukum maupun ilmu-ilmu bahasa.

Kenthus terkenal sebagai pokrul pandai. Kuwuk kemudian mengantarkan kerbau ke tempat kediaman Kenthus. Sementara itu harimau mencari-cari si kerbau. Akhirnya dari petunjuk kijang diperloleh petunjuk agar ke tempat Kuwuk. Ia diancam akan dibunuh karena telah membantu si kerbau. Kuwuk membenarkan bahwa kerbau datang ke tenpatnya, namun telah disarankan pergi ke tempat pokrul Kenthus.

Kuwuk minta kepada harimau, agar kelak ia diberi bagian hati dan jantung dari kerbau, sebab istrinya sedang mengandung. Harimau pergi ke tempat Kenthus dan menantang kerbau untuk meneruskan perkelahian. Kenthus minta agar meneruskan perkelahian. Kenthus minta agar harimau memaparkan perkara perselisihannya. Harimau pun bercerita sejak awal, ketika kerbau menderita kelaparan kemudian ditolongnya.

Kerbau membenarkan cerita harimau yang telah menolongnya, tetapi ia tidak merasa bahwa harus membayar kembali dengan daging. Harimau marah mendengar jawaban si kerbau ia ingin menyerang si kerbau. Kenthus segera melerai dan minta harimau sabar menunggu keputusan yang berwenang mengadili perkara utang piutang dari atasan. Keputusan yang ditunggu tiba dan tidak membenarkan utang daun-daunan dibayar kembali dengan daging.

Melihat harimau tak dapat diredakan kemarahannya, Kenthus pun menjadi marah. Ia mengatakan kepada harimau, bahwa tiap-tiap hari makan seekor harimau. Sisa yang kemarin masih ada. Kepalanya dibuang ke dalam sumur. Harimau melihat kedalam sumur kemudian lari menjauhkan diri. Kuwuk berusaha menemuhi harimau yang ketakutan.

Kuwuk kemudian mengantar harimau kembali ke tempat Kenthus. Ekornya diiket dengan ekor harimau. Ia sendiri berada di atas punggung harimau. Kenthus mengetahui bahwa kuwuk yang telah membujuk harimau kembali. Dengan lantang ia bertanya, mengapa kuwuk hanya menyerahkan harimau seekor, sedang utangnya semua enam puluh puluh ekor. Mendengar kata-kata Kenthus harimau segera lari lintang-pukang dan kuwuk yang berada di atas punggungnya kesakitan setengah mati. Kulitnya terkelupas, darahnya bercucuran sepanjang jalan.

Harimau mengira ditipu oleh Kuwuk. Dirinya digunakan untuk mengangsur utang. Sebab itu Kuwuk digigitnya hingga mati, dan ditinggalkan begitu saja. Harimau tidak lagi menaruh benci kepada kerbau.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 183 other followers