Wayang Ukur, Pembaruan Seni Pakeliran

Ketika wayang dimaknai dengan seni bayang-bayang, barangkali pemahaman itu perlu diaktualisasi. Dan hal itu yang dilakukan oleh almarhum Ki Sukasman yang mengagas lahirnya jenis Wayang Ukur. Sebuah gagasan ‘menyimpang’ dari pementasan wayang kulit pada umumnya. Sebab, dalam konsep Wayang Ukur, kelir (layar-red) bukan difungsikan sebagai pembatas antara dalang dengan penonton tetapi menjadi bagian dari ‘properti’ pementasan. Lebih dari itu, kelir menjadi media untuk menampilkan illustrasi 3 dimensi untuk memperkuat ilustrasi lakon.
More

Advertisements

Mengenang Sukasman: Keteguhan adalah Nama Tengahnya

Hari ini aku mendapatkan berita duka yang cukup menghenyakkan. Sukasman, atau lebih dikenal sebagai Mbah Kasman telah berpulang ke rumah abadinya pukul tujuh pagi di rumah sakit Pantirapih, Jogja. Indonesia kehilangan satu lagi sosok budayawan tangguh yang teguh pada karyanya. Berani dijauhi ketenaran untuk mempertahankan prinsipnya. Mbah Kasman adalah legenda di dunia wayang dan perdalangan yang telah memberikan nuansa dan warna indah pada bentuk-bentuk wayang. Ia menamai pemikirannya sebagai wayang ukur, sebuah hasil pemikiran terhadap filosofi wayang dan realitas-realitas yang terjadi pada manusia. Ia menyatukan das sollen dan das sein dengan begitu indahnya.
More

Pentas Wayang Ukur: Ki Sukasman dalam Sosok Bisma

Pentas wayang ukur gaya baru dalam bentuk gagrak enggal dengan lakon ‘Bisma Maha Wira’ dimainkan oleh tiga dalang muda, Ki Catur Benyek Kuncoro, Ki Suharno dan Ki Nanang Kancil di Pondok Seni Wayang Ukur, Mergangsan Kidul Yogyakarta, Sabtu malam (10/4).
More