Peran dan Fungsi Tokoh Semar-Bagong

Dalam Pergelaran Lakon Wayang Kulit Gaya Jawa Timuran

Pengantar kultural, dan aspek-aspek pragmatik lainnya.
Ia tumbuh alami di desa-desa pewaris dan
ayang Kulit gaya Jawa Timuran adalah
pelestari tradisinya sesuai dengan dinamika
sebuah seni pergelaran lakon yang
dan tataran pengetahuannya.
mempergelarkan lakon-lakon atau
Tokoh Semar dalam kehidupan seni
cerita dari wiracarita Ramayana dan
pergelaran wayang kulit gaya Jawa Timuran
Mahabharata, sama halnya dengan seni
memiliki kedudukan dan fungsi yang penting
pergelaran wayang kulit di daerah lain (Jawa
dan agak berbeda dibandingkan perannya
Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan
dalam dunia pergelaran wayang Jawa
daerah lainnya). Secara geografis, tradisi
Tengahan dan Yogyakarta. Melalui tokoh
pedalangan Jawa Timuran berada di dalam
Semar, kiranya dapat dipahami bagaimana
wilayah Provinsi Jawa Timur bagian utara di
konstruk sebuah lakon dipergelarkan dan
sekitar wilayah Surabaya, Sidoarjo, Gresik,
bagaimana lakon diberi makna atau
Mojokerto, sebagian wilayah Kabupaten
dikomunikasikan kepada publik. Sebaliknya,
Lamongan, dan sebagian wilayah Kabupaten
publik menghayati dan menangkap pesan
Pasuruan. Di wilayah Malang, terdapat tradisi
lakon melalui peran tokoh Semar.
pedalangan yang mirip dengan tradisi yang
James T. Siegel (1986), dalam buku
ada di Jawa Timuran, tetapi masyarakat
berjudul Solo in The New Order, mengamati
Malang dan kelompok masyarakat tradisi
dunia wayang kulit gaya Surakarta sebagai
Jawa Timuran menyebut sebagai tradisi
bahan kajian terhadap tatanan sosial,
Malangan.
budaya, dan politik masyarakat Jawa secara
Dunia seni pergelaran wayang kulit gaya
dinamik. Sementara itu, Ward Keeler (1987),
Jawa Timuran belum banyak menarik minat
dalam buku berjudul Javanese Shadow
peneliti sastra dan kesenian di Indonesia
Plays, Javanese Selves , menampilkan hasil
karena dianggap sebagai seni daerah
pengamatannya terhadap dunia wayang kulit
Pesisiran yang diasumsikan kurang menarik
Surakarta dan Yogyakarta untuk meng-
dibandingkan dengan dunia kesenian di
interpretasi bagaimana bentuk kehidupan
lingkup keraton (Yogyakarta dan Surakarta).
pergelaran wayang purwa di desa-desa di
Seni pedalangan dan pergelaran wayang kulit
Jawa. Clara van Groenendael (1987) juga
gaya Jawa Timuran merupakan sebuah dunia
mengamati kehidupaan seni wayang kulit
seni pertunjukan rakyat yang tidak banyak
daerah Surakarta secara Antropologis dalam
mendapat campur tangan kepentingan
rangka untuk memahami peran dalang dalam
keraton dari berbagai aspek sosial, politik,
pentas wayang kulit dan kehidupan dalang

* Hasil Penelitian dengan Dana Masyarakat 2002.
** Doctorandus, Magister Humaniora, Staf Pengajar Jurusan Sastra Daerah, Fakultas Ilmu
Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

285
Humaniora Volume XV, No. 3/2003

Wisma Nugraha Christianto R.

sehari-hari di masyarakat. Adapun peng- sehingga irama iringan pergelaran wayang
amatan terhadap dunia wayang kulit gaya kulit Jawa Timuran berbeda sekali dengan
Jawa Timuran dapat dilihat melalui tulisan irama gamelan gaya Jawa Tengahan dan
karya Soenarto Timoer (1988) yang Yogyakarta.
membahas aturan tata pergelaran wayang Melihat peran tokoh Semar dan Bagong
kulit Jawa Timuran. Sementara itu, Umar yang menonjol jika ditilik melalui fungsi yang
Kayam (2001) dalam bukunya yang berjudul mengiringi penanda pembukaan dan penutup
Kelir Tanpa Batas menyinggung sedikit
pergelaran lakon, terdapat indikasi bahwa
bagaimana gambaran umum dunia seni kedua tokoh tersebut secara naratif memiliki
wayang kulit Jawa Timur pada umumnya. Di
peran dan fungsi yang penting pula. Apakah
dalam buku berjudul Wayang Malangan,
peran kedua tokoh itu dapat ditilik melalui
Suyanto (2002) membahas agak mendalam
lakon, kiranya hal itu dapat dikaji lebih jauh,
bagaimana secara makro ciri-ciri dinamik
baik melalui naratif tentang kedua tokoh atau
seni pergelaran wayang kulit kultur daerah
pun melalui lakon-lakon lain yang menun-
Malang sebagai bagian dari tradisi gaya Jawa
jukkan bagaimana peran Semar dan Bagong.
Timuran. Dari beberapa pustaka di atas,
Masalah penelitian terhadap peran dan
tampak bahwa penelitian wayang kulit gaya
fungsi Semar dalam pergelaran lakon adalah
Jawa Timuran belum dikaji secara serius
sebagai berikut.
seperti halnya dalam kajian seni pergelaran
1. Bagaimana relasi Semar dengan tokoh
wayang kulit tradisi Jawa Tengahan.
sesama ‘Panakawan’?
Pergelaran wayang kulit gaya Jawa
2. Bagaimana relasi Semar dengan tokoh-
Timuran yang hidup di kota-kota sekitar
tokoh yang disertainya?
Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Mojokerto,
3. Bagaimana Semar berperan di dalam
Lamongan, dan Pasuruan masih sangat
totalitas pergelaran wayang kulit gaya
terjaga pewarisannya di dalam praktik siklus
Jawa Timuran?
hidup sehari-hari sehingga pergelarannya
Secara mitologis, tokoh Semar diyakini
senantiasa berhubungan dengan upacara
memiliki peran dan kedudukan yang penting
hajatan. Oleh karena itu, penelitian terhadap
dalam kehidupan masyarakat Jawa pada
pergelaran lakon wayang kulit Jawa Timuran
umumnya. Akan tetapi, setiap lokal budaya
senantiasa terbuka apabila peneliti sanggup
Jawa memiliki bentuk resepsi dan
melacak dan mencatat masa-masa masya-
transformasinya masing-masing tentang
rakat mengadakan hajatan yang sekaligus
Semar dan Bagong.
menyelenggarakan pergelaran wayang kulit.
Clara van Groenendael (1987a), di dalam
Salah satu ciri penanda pergelaran
terbitannya mengenai bibliografi beranotasi
lakon-lakon wayang kulit gaya Jawa Timuran
tentang pertunjukan wayang di Indonesia
tampak secara visual pada tata cara
tampak menyebutkan pula beberapa hasil
simpingan (penataan wayang di layar/ geber),
pengamatan para peneliti yang secara
yaitu memasang tokoh Batara Guru dan
spesifik menyorot peran Semar dalam
Betari Durga di atas tokoh-tokoh wayang
pergelaran wayang purwa, antara lain C.P.
lainnya. Betara Guru berada di sisi kanan
Epskamp (1976); Th. P. Galestin (1959); R.A.
dan Betari Durga di sisi kiri arah hadap dalang
Kern (1930); Franz Magnis-Suseno (1981);
ke layar sehingga penonton dari balik layar
H. Meinhard (1939); dan J.J. Ras (1978).
akan melihat posisi berlawanan. Lebih
Epskamp (dalam Groenendael, 1987a),
khusus lagi adalah penyertaan tokoh Semar
dan Bagong di antara tiga gunungan di tengah menjelaskan bahwa Semar memiliki peran
ambigu dalam pergelaran wayang purwa,
layar sebagai penanda awal dan akhir
yakni sebagai orang kebanyakan dan
pergelaran lakon. Adapun ciri penanda
sekaligus sebagai bagian dari kelompok
pergelaran lakon wayang Jawa Timuran yang
lain terdapat pada komposisi gending dewa-dewa senior pada tataran mistik.
Sementar itu, dalam tataran sosial, Semar
karawitan yang menggunakan gamelan
sebanding dengan posisi dalang sebagai
slendro . Irama kecrek , dhodhog, dan
tokoh perantara antara penguasa dan rakyat.
kendang sangat menonjol serta dinamik

286
Humaniora Volume XV, No. 3/2003

Peran dan Fungsi Tokoh Semar-Bagong dalam Pergelaran Lakon Wayang Kulit

Galestin, dalam pidato pengukuhan Profesor yang sejenis peran dan fungsinya pada
Arkeologi dan Sejarah Kuna Asia Utara dan beberapa jenis pergelaran wayang di Jawa
Asia Tenggara di Universitas Leiden, menje- (wayang Gedog, Beber, dsb.), wayang India,
dan relief candi yang menunjukkan peran dan
laskan figur Semar dari data relief candi
sebagai panakawan wayang, sedangkan fungsi Semar sebagai tokoh pendamping
tokoh-tokoh ksatria.
Kern hanya mempersoalkan siapa lebih
dominan dalam pengusaaan dunia, apakah
Landasan Teori
Semar atau Togog. Magnis-Suseno mende-
kati Semar dalam rangka pembahasan soal
Penelitian dilaksanakan dengan metode
kebijaksanaan dan etika Jawa; bahwa Semar
penelitian lapangan sehingga diperlukan
berperan sentral dalam etika Jawa karena
perangkat alat-alat untuk mengumpulkan
tampak melalui perilaku dan wujudnya yang
data dan mengolah data lapangan.
berelasi dengan konsep alus dan kasakten
Selebihnya, data lapangan dan hasil olah
atau relasi antara priyayi dan orang keba-
data akan dianalisis secara kualitatif dengan
nyakan. Di sisi ritual, Semar dipandang
dasar kajian struktural naratif untuk melihat
sebagai simbol kesuburan yang setara
kedudukan dan fungsi tokoh di dalam sebuah
dengan simbol-simbol phallic dalam wayang
koherensi pergelaran lakon-lakon wayang
India (Meinhard, 1939: ‘The Javanese Wajang
kulit gaya Jawa Timuran. Analisis struktur
and Its Indian Prototype’ dalam Ras, 1978).
lakon dan bagaimana unsur fakta cerita
Hampir sejalan dengan Meinhard adalah hasil
berupa tokoh yang menduduki beberapa la-
pembahasan J.J. Ras (1978) yang menjelas-
pis peristiwa dan dimensi ruang-waktu
kan bahwa Semar adalah dewa pelindung
merupakan sebuah upaya memahami jalinan
dan guru, sekaligus berkedudukan sebagai
antarunsur lakon dan relasinya dengan kode-
dewa kesuburan. Kesimpulan Ras ini dida-
kode budaya referensial di Jawa Timur.
sarkan atas hasil pembandingan antara
Untuk memahami naratif, dalam studi
Semar dalam relasi-relasinya antara: Semar,
ini adalah lakon, sebaiknya dipahami melalui
Nalagareng, dan Petruk dengan Semar dan
penerima atau penikmat lakon (Martin, 1986:
Bagong; relasi Semar dalam kedudukannya
29). Selanjutnya dijelaskan bahwa sisi
sebagai Semar yang bersifat dewa; relasi
penikmat lakon dalam proses menikmati se-
Semar dengan Panakawan Wayang Gedog:
buah lakon cerita sudah barang tentu
Prasanta/Jati-Pitutur dan Sadulurmu/Pitutur
melibatkan bekal pemahamannya masing-
Jati; relasi Semar dengan Gatholoco; dan
masing dengan latar belakang konteks kultur
relasi Semar dengan Penari Tayub dan
sosialnya. Perubahan dinamik masyarakat
Cantang Balung.
secara historis agaknya turut memaknai
Dilihat dari wilayah penelitian, para
bobot lakon meskipun sejarah dinamik lakon
peneliti terdahulu berfokus pada data
itu berkembang bebas tanpa ikatan sejarah
pergelaran wayang purwa di sekitar Jawa
sosial dan politik. Selanjutnya Martin (1986)
Tengah (Yogya, Sala, Banyumas, dan
memberikan diagram yang menggambarkan
sekitarnya). Di samping itu, Semar dilihat
bagaimana presiding sketsa historis dari teori
dalam relasinya dengan tokoh-tokoh lain
naratif sebagai berikut.

Konteks sosial,
Konvensi kultural

Pengarang Narator Naratif Penerima

Kerangka analisis formal
Tradisi sastra (Kesastraan, Linguistik, Interdisiplin)

287
Humaniora Volume XV, No. 3/2003

Wisma Nugraha Christianto R.

Kajian naratif yang menekankan segi Lampahan Adege Suralaya
tokoh dan fungsi seperti telah ditelaah oleh
I. Jejer Kahyangan Puspa Inten
Propp melalui penelitian dongeng-dongeng
Sang Hyang Tunggal kaseba putrane:
telah dipertegas pula oleh Roland Barthes
Sang Hyang Puguh, Sang Hyang Punggung,
(Martin, 1986) yang menyarankan pengamat-
Sang Hyang Samba, ngrembug ing
an terhadap peran tokoh, aksi-aksinya dan
Kahyangan Suralaya kang bakal kanggo
relasi-relasinya dalam sebuah keutuhan
nggelar Kahyangane para Dewa. Ing wektu
tataran tematik. Dalam kajian tokoh Semar
iki katembing ratune Jim, ratu saka negara
yang akan ditilik dari segi peran dan fungsi-
Jabalkat kang aran Prabu Jomakjujo kang
nya dalam sebuah pergelaran lakon wayang,
kepingin ngratoni Suralaya, dadi ratune para
agaknya pokok teori naratif yang cukup
Dewa.
membantu adalah pandangan bahwa teks
Sang Hyang Tunggal dhawuh marang
naratif merupakan sebuah teks komunikasi.
putrane, sapa kang bisa ngundurna Prabu
Pandangan teks sebagai model komunikasi
Jomakjujo bakal dijumenengna dadi ratune
ini dirintis oleh Bakhtin dan dipertegas oleh
para Dewa. Sang Hyang Puguh lan Sang
Wayne Booth dalam The Rhetoric of Fiction
Hyang Punggung ora wani, kang sanggup
(Martin, 1986: 29). Dalam model komunikasi
ngunduraken Prabu Jomakjujo Sang Hyang
ini, peran pencerita dapat dibedakan menjadi
dua, yaitu pencerita sejati dan pencerita Samba, banjur pamit budhal.
semu (berada di dalam teks). Keduanya Ketungka putra sakembaran saka
berhadapan dengan penyambut (bisa pem- Kahyangan Jagat Sunya Ruri, putrane Sang
baca, pendengar, pemirsa) yang serupa Hyang Banijan (Sang Hyang Jan Banijan)
dengan pencerita, penyambut nyata dan
kang aran Sang Hyang Pongat lan Sang
penyambut semu ( lihat Martin, 1986: 29). Hyang Umarda. Sang Hyang Pongat lan Sang
Dengan demikian, upaya mencermati peran
Hyang Umarda matur marang Sang Hyang
dan fungsi Semar dan Bagong dalam
Tunggal yen sanggup bakal ngundurna
pergelaran wayang kulit gaya Jawa Timuran
Prabu Jomakjujo sebab dheweke kepingin
ini diperlukan pengamatan terhadap struktur
dadi ratune para Dewa. Sang Hyang Tunggal
lakon dan bagaimana relasi antartokoh di
ngideni banjur budhal.
dalamnya.
Kedhatonan
Pembahasan
II. Pasowanan Njaba
Sang Hyang Pongat lan Sang Hyang
1. Riwayat Semar dan Bagong
Umarda terus menyang pesanggrahane
Di dalam mitos jati diri Semar di Jawa
Prabu Jomakjujo. Sang Hyang Samba
beredar pengertian bahwa Semar adalah
mudhun saka Kahyangan Puspa Inten
dewa, saudara sekandung dengan Togog dan
dicegat Sang Hyang Puguh lan Sang Hyang
Batara Guru. Versi Jawa Tengah mencerita-
Punggung, karepe supaya Sang Hyang
kan bahwa mereka bertiga berasal dari satu
Samba ora sida nerusna anggone bakal
telur, kuning telur menjadi Batara Guru, putih
menyang pesanggrahane Prabu Jomakjujo,
telur menjadi Semar, dan kulit telur menjadi
sebab Prabu Jomakjujo digdaya banget.
Togog. Di Batak Toba, mereka bertiga berasal
Sulayane rembug dadi perang, Sang Hyang
dari tiga telur yang berasal dari burung
Puguh lan Sang Hyang Punggung kalah terus
Hulambujati Nabolon. Apakah di dalam
maju. Sang Hyang Samba nerusna laku
tradisi pedalangan Jawa Timuran seperti itu?
menyang pesanggrahane Prabu Jomakjujo.
Sangat berbeda ceritanya. Versi cerita tradisi
Bareng tekan alun-alun Repat Kepanesan
Jawa Timuran (Surabaya, Gresik, Sidoarjo,
(alun-alune para Dewa) Sang Hyang Samba
Mojokerto, Lamongan, dan Pasuruan) dan
dulu Sang Hyang Umarda kaya dene Sang
tradisi Malangan bahkan tidak menyebut
Hyang Umarda iku wong wadon (Sang Hyang
adanya telur sama sekali. Di bawah ini cerita
Samba rumangsa kasmaran marang Sang
singkat riwayat Semar dan saudara-
Hyang Umarda). Bareng Sang Hyang Umarda
saudaranya.

288
Humaniora Volume XV, No. 3/2003

Peran dan Fungsi Tokoh Semar-Bagong dalam Pergelaran Lakon Wayang Kulit

kecandhak Prabu Jomakjujo banjur sebab sing ngalahno Prabu Jomakjujo dudu
dikipatno tiba ana ngarepe Sang Hyang Sang Hyang Samba nanging Sang Hyang
Samba. Tunggal Dhewe. Sang Hyang Tunggal dhawuh
Kocap Sang Hyang Umarda terus marang Sang Hyang Puguh diutus nguntal
mustikane Gunung Kukusan, Sang Hyang
dicandhak Sang Hyang Samba di rum-rum
lan diarasi (diambungi) karepe Sang Hyang Puguh ora kuwat cangkeme suwek untune
Umarda bakal palakrama. Sang Hyang mrotholi kari siji dadi Togog.
Sang Hyang Punggung diutus nguntal
Umarda ora gelem, saking wedine karo Sang
mustikane Gunung Ungkal ora kuwat,
Hyang Samba, Sang Hyang Umarda banjur
cangkeme suwek untu mrotholi kari siji dadi
mlayu, diburu Sang Hyang Samba nganti
Semar.
ngancik menyang Gunung Geni lan gunung-
Togog diutus menyang Glagah
gunung liyane, …, sinjang malik katon
Ayangan mbesuk dadi pengemonge darah
wentise. Sang Hyang Samba netesna wiji,
tedhak Brahma (turun Hangkara). Togog arep
korut tanpa wadhah tumiba ana puncake
mudhun menyang Marcapada njaluk rewang,
gunung-gunung, bareng koma kang tanpa
diutus Sang Hyang Tunggal nggetak gupilane
wadhah mau kasiram soroting jagad disabda
Gunung Kukusan, banjur gupilane Gunung
karo Sang Hyang Caraka (Sang Hyang Jan
Kukusan digetak dadi Bilung (rewange
Banujan) wujud Dewa telung puluh cacahe
Togog) banjur mudhun bebarengan.
ganep sak jodhone. …
Semar diutus Sang Hyang Tunggal
Kocap kinabulan panyuwune Sang
menyang Keling, mbesuk dadi pengemonge
Hyang Samba nduwe tangan papat, banjur
tedhak Pangruwatan. Semar njaluk rewang
Sang Hyang Umarda dicandhak, planangane
diutus nggetak wayangane (ayang-ayang),
kabethot dikipatno dadi ule-ule sulure tawang
ayang-ayangan digetak dadi Bagong, lan
(ulur-ulur). Bareng planangane dibethot, getih
diparingi gaman siji, gaman digawe royokan
manther, Sang Hyang Umarda sambat-
nganti mlekar wujud menungsa diarani
sambat. Sang Hyang Samba nyandhak
Sorogonjo uga dadi rewange Semar.
Tapel Adam kanggo nutup getih, getih
Kacarita, Sang Hyang Pongat ora trima
munggah menyang dhadha nganti abuh, dadi
dulure dadi wadon, banjur perang karo Sang
susu, banjur digarit driji manis getih metu
Hyang Samba. Sang Hyang Pongat dipenek
maneh, banjur dicuwilna Tapel Adam
Sang Hyang Samba dadi endhek rupane
dislempitna banjur getih mampet.
malih elek diarani Batara Narodo. Banjur
Kacarita Sang Hyang Tunggal ngungkuli
Kahyangan Suralaya di sabdo Sang Hyang
lan ndulu Sang Hyang Samba lan Sang
Tunggal dadi kraton diarani Tejamaya
Hyang Umarda rumangsa welas banjur Sang
jangkep sak isine. Banjur Sang Hyang
Hyang Umarda disabda dadi wadon, Sang
Samba diplekat dadi ratune para Dewa
Hyang Samba didukani Sang Hyang Tunggal,
jejuluk Ratuning Rat Nyawa Sekalir ya Sang
banjur budhal perang nglawan Prabu
Hyang Pramesthi Bethara Guru.
Jomakjujo. Bareng perang Sang Hyang
Kocap, kesaru tekane para putra Dewa
Samba kalah, banjur Sang Hyang Tunggal
putrane Sang Hyang Samba nalika bledik
nyipta krangkeng wesi sak glugu gedhene
Sang Hyang Umarda, Dewa telungpuluh
banjur diolehna ana anggane Prabu
genep sak jodhone, banjur para putra mau
Jomakjuju, Prabu Jomakjujo kerangket ora
didadekake prajurit Durandara (prajurit
bisa uwal, banjur krangkeng wesi dicakoti
Dewa).
(dikeret) kari sak rambut, krungu jago kluruk
Bethara Narada didadekna juru basa
pulih dadi sak glugu maneh, banjur Prabu
Suralaya, banjur Batara Guru kaudhunan
Jomakjujo sak krangkenge dikebut Sang
endhog saka Sang Hyang Wenang, banjur
Hyang Tunggal tiba ana Jagad Wetan.
dipuja Bethara Guru dadi putra telu cacahe:
Kocap Sang Hyang Puguh lan Sang
(1) lanang diarani Bethara Besuki; (2) lanang
Hyang Punggung ora trima yen Sang Hyang
diarani Bethara Wisnu; (3) wadon diarani
Samba dijumenengkna dadi ratune Dewa
Dewi Sri (Bethari Widawati ).

289
Humaniora Volume XV, No. 3/2003

Wisma Nugraha Christianto R.

Terjemahan kalah. Sang Hyang Samba segera melanjut -
kan perjalanan menuju tempat mukim Prabu
Jejer Kahyangan Puspa Inten
Jomakjujo. Sesampai di Alun-alun Repat
I. Adegan Pertemuan di Kahyangan
Kepanesan (alun-alun milik para dewa), Sang
Puspa Inten
Hyang Samba melihat Sang Hyang Umarda
Sang Hyang Tunggal dihadap oleh para bagaikan seorang perempuan (dan Sang
putranya, yaitu: Sang Hyang Puguh, Sang
Hyang Samba jatuh hati kepada Sang Hyang
Hyang Punggung, Sang Hyang Samba. Umarda). Sang Hyang Umarda dipegang oleh
Mereka sedang membahas rencana perluas- Prabu Jomakjujo dan dilemparkan hingga
terpelanting di hadapan Prabu Samba.
an Kahyangan Sutalaya sebagai tempat para
dewa. Di tengah pembahasan, datang Tersebutlah bahwa Sang Hyang Umarda
menghadap seorang Ratu Jim dari negara dipegang oleh Sang Hyang Samba sambil
dielus serta diciumi disertai dengan niat
Jabalkat yang berjuluk Prabu Jomakjujo yang
bahwa Sang Hyang Umarda akan dikawini.
menyatakan ingin menguasai Suralaya
Sang Hyang Umarda menolak. Karena
sebagai raja para dewa.
merasa ketakutan kepada Sang Hyang
Sang Hyang Tunggal menawarkan
Samba, larilah Sang Hyang Umarda. Sang
kepada para putranya barangsiapa mampu
Hyang Samba terus memburu Sang Hyang
menyingkirkan Prabu Jomakjujo akan diang-
Umarda hingga Gunung Geni serta gunung-
kat sebagai raja para dewa. Sang Hyang
gunung lainnya, …, kainnya tersingkap
Puguh dan Sang Hyang Punggung tidak
hingga tampak betisnya. Sang Hyang Samba
berani, sedangkan Sang Hyang Samba
meneteskan ‘biji’, tercecer tanpa tempat
menyatakan sanggup menyingkirkan Prabu
hingga menetes di puncak gunung-gunung.
Jomakjujo, seketika itu berangkatlah ia.
Kama yang tercecer tersebut tersiram oleh
Di sela datang menghadap dua orang
sinar jagat kemudian disabda oleh Sang
anak kembar putra Sang Hyang Banijan
Hyang Caraka (Sang Hyang Jan Banujan)
(Sang Hyang Jan Banijan) dari Kahyangan
hingga berubah wujud menjadi tiga puluh
Jagat Sunya Ruri, masing-masing bernama
pasang dewa. …
Sang Hyang Pongat dan Sang Hyang
Diceritakan bahwa permohonan Sang
Umarda. Sang Hyang Pongat dan Sang
Hyang Samba terkabul, yakni memiliki
Hyang Umarda menyatakan kepada Sang
empat buah tangan, selanjutnya Sang Hyang
Hyang Tunggal bahwa mereka sanggup
Umarda diraihnya, alat kelaminnya diremas
menyingkirkan Prabu Jomakjujo dengan dalih
lalu dikibaskan hingga berubah sebagai sulur
ingin menjadi raja para dewa. Sang Hyang
awan. Setelah alat kelamin diremas hingga
Tunggal mengijinkan, lalu berangkatlah
pecah, darah mengucur deras, dan Sang
mereka.
Hyang Umarda pun meraung-raung. Sang
Hyang Samba mengambil Tapel Adam untuk
Kedhatonan
menyumbat kucuran darah, berikutnya darah
II. Pertemuan Luar
naik hingga dada hingga bengkak, jadilah
Sang Hyang Pongat dan Sang Hyang
payudara, selanjutnya digores dengan jari
Umarda seketika itu menuju ke tempat
manis dan darah mengucur kembali, lalu
peristirahatan Prabu Jomakjujo. Sang Hyang
dimampatkan lagi dengan Tapel Adam.
Samba yang sedang turun dari Kahyangan
Diceritakan bahwa Sang Hyang Tunggal
Puspa Inten dihadang oleh Sang Hyang
menyusul serta memarahi Sang Hyang
Puguh dan Sang Hyang Punggung dengan
Samba sehingga Sang Hyang Umarda mera-
maksud agar Sang Hyang Samba meng-
sa belas. Selanjutnya, Sang Hyang Umarda
urungkan niatnya menyerang Prabu
disabda menjadi seorang perempuan. Sang
Jomakjujo sebab Prabu Jomakjujo sangat
Hyang Tunggal marah kepada Sang Hyang
sakti. Perdebatan di antara mereka akhirnya
Samba. Sang Hyang Samba segera berang-
membuahkan pertengkaran sehingga Sang kat perang melawan Prabu Jomakjujo. Sang
Hyang Puguh dan Sang Hyang Punggung Hyang Samba kalah, kemudian Sang Hyang

290
Humaniora Volume XV, No. 3/2003

Peran dan Fungsi Tokoh Semar-Bagong dalam Pergelaran Lakon Wayang Kulit

Tunggal menciptakan terali besi sebesar Hyang Samba. Tubuh Sang Hyang Pongat
pohon kelapa untuk merangket tubuh Prabu ditekan dengan paksa oleh Sang Hyang
Jomakjujo hingga tidak dapat bergerak sama Samba sampai memendek serta wajahnya
sekali. Terali besi tersebut berusaha digigit- berubah menjadi jelek dan dinamakan Batara
gigit oleh Prabu Jomakjujo sampai menipis Narodo. Selanjutnya, Kahyangan Suralaya
seukuran rambut. Namun, jika mendengar disabda oleh Sang Hyang Tunggal menjadi
kokok ayam jantan, terali besi tadi pulih kraton yang lengkap seisinya, disebut
menjadi sebesar pohon kelapa lagi. Tejamaya. Selanjutnya, Sang Hyang Samba
Berikutnya, Prabu Jomakjujo beserta terali dinobatkan sebagai raja para dewa bergelar
besinya dikibaskan oleh Sang Hyang Tunggal Ratuning Rat Nyawa Sekalir ya Sang Hyang
hingga terlempar di Dunia Timur. Pramesthi Bethara Guru.
Diceritakan bahwa Sang Hyang Puguh Diceritakan, disusullah datangnya para
dan Sang Hyang Punggung tidak rela jika putra dewa putra Sang Hyang Samba ketika
Sang Hyang Samba diangkat sebagai raja sedang mengejar-ngejar Sang Hyang
para dewa sebab yang mampu mengalah- Umarda, yaitu tiga puluh pasang dewa-dewi.
kan Prabu Jomakjujo bukan Sang Hyang Selanjutnya para putra tersebut diberi
Samba, melainkan Sang Hyang Tunggal. kedudukan sebagai prajurit Durandara
Sang Hyang Tunggal memerintahkan agar (prajurit dewa).
Sang Hyang Puguh menelan mustika Betara Narada dijadikan juru bicara
Gunung Kukusan. Sang Hyang Puguh tidak Suralaya, selanjutnya Batara Guru diberi telur
mampu menelannya dan berakibat mulutnya oleh Sang Hyang Wenang dan kemudian
robek serta giginya rontok tersisa satu. didoakan oleh Batara Guru hingga berubah
Jadilah ia Togog. menjadi tiga orang putra: (1) seorang laki-
Sang Hyang Punggung diperintah untuk laki dinamai Batara Basuki; (2) seorang laki-
menelan mustika Gunung Ungkal dan tidak laki dinamai Batara Wisnu; (3) seorang
pula mampu sampai akhirnya mulutnya perempuan dinamai Dewi Sri (Betari
sobek serta gigi rontok tersisa satu. Jadilah Widawati). (Sumber: Ki Dalang Surwedi,
Semar. diterbitkan oleh Depdikbud, Dirjen Kebuda-
Togog diutus menuju Glagah Ayangan yaan, Taman Budaya Jawa Timur, dengan
yang kelak menjadi pembimbing para judul “Penulisan Lakon Pedalangan Gaya
keturunan Brahma (keturunan Angkara). Jawa Timur”).
Togog akan turun ke Marcapada, tetapi minta Melalui pemaparan cerita ringkas versi
ada yang menemani. Sang Hyang Tunggal Ki Surwedi tampak bahwa penciptaan para
memerintahkan Togog agar membentak Dewa dan Dewi memiliki keunikannya sendiri
bongkahan Gunung Kukusan dan jadilah dalam tradisi Jawa Timur. Tokoh Semar
Bilung (sebagai teman Togog). Lalu mereka adalah Sang Hyang Punggung; Togog
berdua turun bersama. adalah Sang Hyang Puguh. Kawan Togog
Semar diutus oleh Sang Hyang Tunggal bernama Bilung tercipta melalui kekuatan
agar menuju Keling, yang kelak akan menjadi Togog ketika membentak bongkahan
pembimbing para keturunan Pangruwatan. Gunung Kukusan. Sementara itu, kawan
Semar minta diberi kawan, diperintahkan Semar bernama Bagong tercipta dari
menggertak bayangannya sendiri, lalu bayang-bayang Semar sendiri.
bayangan diri Semar berubah menjadi Dewa Sang Hyang Samba akhirnya
Bagong. Mereka diberi satu senjata. Namun, diangkat sebagai Ratu Kahyangan Suralaya
senjata tersebut diperebutkan beredua yang diubah statusnya dengan nama Kraton
sehingga melebar dan berubah wujud Tejamaya dan nama Sang Hyang Samba
manusia yang dinamai Sorogonjo serta menjadi Sang Hyang Pramesthi Batara
menjadi kawan Semar. Guru. Sementara itu, Sang Hyang Pongat
Diceritakan bahwa Sang Hyang Pongat diubah wujudnya menjadi buruk rupa oleh
merasa tidak terima jika saudaranya diubah Sang Hyang Samba dan identitasnya diubah
menjadi perempuan, lalu memerangi Sang menjadi Batara Narada. Batara Narada

291
Humaniora Volume XV, No. 3/2003

Wisma Nugraha Christianto R.

akhirnya menjadi juru bahasa Suralaya. Guru yang menetes ketika bernafsu terhadap
Batara Guru juga menciptakan dewa lagi Batari Umayi (perubahan wujud dari Sang
melalui sebutir telur pemberian Sang Hyang Hyang Umarda). Makhluk inilah nantinya
Wenang, dan dari telur itu terciptalah tiga menjadi sebuah sumber lakon sendiri
dewa-dewi, yaitu Batara Basuki, Batara berhubung makanannya adalah manusia
Wisnu, dan Dewi Sri. dengan beberapa kategori yang ditetapkan
Peristiwa penting lain dari kisah oleh Batara Guru dan Dewi Umayi.
terjadinya Suralaya ini adalah terciptanya Berikut ini adalah skema ringkas dari
makhluk raksasa bernama Batara Kala. cerita di atas mendasarkan pada tokoh dan
Batara Kala tercipta dari kama Sang Batara wilayah muasalnya.

Kahyangan Puspa Inten:
Sang Hyang Tunggal

Sang Hyang Puguh Sang Hyang Punggung Sang Hyang Samba

Togog Semar Batara Guru
\ \ \
Bilung Bagong Telur
/
Btr. Besuki – Btr. Wisnu -
Btri. Widawati ( Dewi Sri)

Tokoh dan Daerah Muasalnya

JAGAD KAHYANGAN KAHYANGAN JABALKAT
SUNYARURI PUSPA INTEN SURALOKA

Sang Hyang Sang Hyang
Banujan/Sang Hyang Tunggal
Jan-Banujan/Sang
Hyang Caraka

Sang Hyang Puguh 30 Dewa-dewi
Sang Hyang Pongat Sang Hyang
Sang Hyang Umarda Punggung Ratu Jabalkat:
Sang Hyang Samba Prabu Jomakjujo

Kahyangan Kahyangan
Tejamaya Suralaya

Sang Hyang Narada Sang Hyang Raja: SH
Pramesti Guru Pramesti Guru
Batari Umayi Juru Basa: Sang
Hyang Narada
30 Dewa menjadi
Prajurit
Durandara

292
Humaniora Volume XV, No. 3/2003

Peran dan Fungsi Tokoh Semar-Bagong dalam Pergelaran Lakon Wayang Kulit

dan seketika tinja berubah wujud menjadi
Keterangan singkat:
1. Sang Hyang Samba bersedia melawan Prabu
manusia mirip Bagong serta dinamai Besut.
Jomakjujo
Besut akhirnya diakukan sebagai anak
2. Sang Hyang Pongat dan Sang Hyang Umar juga
Bagong.
berusaha mengalahkan Prabu Jomakjujo
Dengan kejadian tadi, Semar memiliki
3. Sang Hyang Umarda dikira wanita oleh Sang
relasi perkawanan dengan Bagong,
Hyang Samba
Saraganja, Dewi Muleg, dan Besut. Mereka
4. Sang Hyang Umarda menjadi wanita
selanjutnya disebut Panakawan. Arti kata
5. ‘Kama’ Sang Hyang Samba menjadi 30 pasang
Dewa
panakawan dalam pedalangan Jawa Timuran
6. Sang Hyang Puguh nguntal Gunung Kukusan
adalah ‘kawan’ yang ‘pana’ yakni kawan yang
menjadi Togog
serba mengetahui, kawan yang serba ber-
7. Sang Hyang Punggung nguntal Gunung Ungkal
pengalaman sehingga pengalaman dan
menjadi Semar
pengetahuan mereka sangat bermanfaat bagi
8. Sang Hyang Pongat ditekan hingga memendek,
para tokoh yang disertainya, yang dikawal-
menjadi Sang Hyang Narada
nya, yang dijagainya.
9. Suraloka menjadi kraton Kahyangan Suralaya
Di tempat lain, Togog dan Bilung melak-
Melalui cerita ini tampak bahwa Semar
sanakan tugasnya menyertai, mengawal
tiga bersaudara dengan Batara Guru dan
para tokoh tedhak turuning Braham (turun
Togog, tetapi memiliki kedudukan dan fungsi
hangkara) atau para tokoh berkarakter
yang saling berbeda. Semar bertugas
negatif, yang jahat. Penyertaan Togog dan
mengawal, menyertai tokoh-tokoh ksatria
Bilung terhadap para tokoh itu ditekankan
berkarakter positif; Togog bertugas menga-
sebagai abdi yang memiliki pengetahuan
wal, menyertai tokoh-tokoh berkarakter
serba luas sehingga fungsinya menjadi
negatif; sedangkan Batara Guru bertugas
narasumber para tokoh yang disertainya jika
mengendalikan kekuasaan di Kahyangan
hendak melakukan tindakan atau meren-
Suralaya.
canakan sesuatu terhadap para tokoh
Selama berada di dunia manusia dengan
counter action mereka. Togog dan Bilung
tugas dan perannya masing-masing, Semar
dalam posisinya sebagai abdi senantiasa
memperoleh kawan yang berasal dari
berupaya memberikan pengarahan positif dan
bayangannya sendiri dan dinamai Bagong.
menasihati tuannya agar tidak melaksanakan
Sementara itu, Togog mempunyai kawan
aksi yang bersifat jahat meskipun seringkali
yang berasal dari manifestasi kekuatannya
nasihatnya tidak selalu dilaksanakan. Dari
pribadi yang selanjutnya dinamai Bilung.
sumber naratif lain dikatakan bahwa Togog
Dalam perkembangan naratif, khusus
dan Bilung bertugas mengikuti para tokoh
tentang Semar, bahwa pada suatu peristiwa,
keturunan ‘Alengka’ (dalam konteks ini tentu
senjata pusaka pemberian Sang Hyang
Alengka berhadapan dengan keturunan
Tunggal milik Semar direbut Bagong
Rama dalam Ramayana) sehingga versi ini
sehingga terjadi tarik-menarik di antara
mereka sehingga terjadilah peristiwa (dari tradisi Sidoarjoan) memandang bahwa
perubahan bentuk. Senjata tersebut berubah wiracarita Mahabharata sebagai kelanjutan
wujud menjadi manusia yang selanjutnya dari Ramayana. Sebagai penegasan dari versi
disebut Saraganja. Peristiwa selanjutnya, naratif ini, tradisi pedalangan Sidoarjo dan
Semar membuang angin busuk (kentut) dan Mojokerto seringkali menampilkan tokoh
Bagong membaui bau busuk terus-menerus Anoman yang berperan sebagai tokoh abdi
ke mana pun perginya. Bau kentut yang setia Kresna dengan tugas memberantas
mengikuti Bagong itu akhirnya berubah wujud keangkaramurkaan. Dari peran dan fungsi
menjadi seorang wanita yang selanjutnya
Anoman ini dapat dijelaskan bahwa Kresna
dinamai Dewi Muleg. Dewi Muleg ini
dipandang sebagai kelanjutan Rama sehing-
dijodohkan dengan Bagong sebagai istrinya.
ga Anoman senantiasa berupaya menjagai-
Selanjutnya, Bagong menginjak tinja Semar,
nya dari ancaman serangan keturunan

293
Humaniora Volume XV, No. 3/2003

Wisma Nugraha Christianto R.

Dasamuka yang masih hidup, tetapi tidak a. Jejer I: Pathet Sepuluh (10)
dapat berbuat apa pun karena ditindih gunung b. Bubabaran
oleh Anoman. c. Limbukan
Berdasarkan uraian di atas kiranya dapat d. Perang Gagal: Pathet Wolu (8)
dibuat sebuah perbandingan antara Semar e. Gara-gara: Pathet Wolu menuju
dan Togog sebagai berikut. Pathet Sanga (9)

Semar – Bagong Togog – Bilung
Tugas di Keling Semar, Bagong, Togog – Bilung Tugas di Glagah
Marcapada Saraganja, Dewi Ayangan
Muleg, Besut Marcapada
Keturunan Keturunan Braham,
Pangruwatan, Keturunan Alengka
Kasutapan
Kerabat Rama-Pandawa+Kresna Kerabat Alengka-Kurawa+Kerajaan ‘Sabrang’
(bukan kerabat Hastina)

f. Jejer II: Pathet Sanga
Skema di atas merupakan penyeder-
g. Perang Brubuh: Pathet Serang
hanaan distribusi peran Semar dan Togog
h. Jejer III
pada waktu harus turun ke Marcapada, dunia
manusia, dunia yang memiliki jabaran antara i. Tancep Kayon
positif dan negatif. Di pihak Semar, secara
Unsur-unsur 1, 2, 3, dan 4 memiliki per-
internal telah terbentuk sebuah kerabat dari
tautan yang erat dalam sebuah pergelaran
dalam dirinya sendiri yang diejawantahkan
wayang kulit (wayang purwa) dalam tradisi
wujud tokoh bernama Bagong, Saraganja,
Jawa Timuran. Tatanan fisik panggung di
Dewi Muleg, dan Besut. Di pihak Togog tidak
bawah satu atap tenda (térop) yang terdiri
ada pertumbuhan dari dirinya selain wujud
atas panggung utama berisi layar (kelir)
tokoh Bilung. Oleh karena itu, di dalam
dengan sederet wayang kulit dan kotak
pergelaran lakon tokoh Panakawan yang
wayang dan terhampar di depan kelir se-
berperan aktif adalah Semar-Bagong-Besut
perangkat instrumen gamelan Slendro ;
dan Togog-Bilung. Tokoh Besut seringkali
berikutnya terdapat bagian panggung sela
hanya sebagai tokoh pelengkap, selanjutnya
yang dipersiapkan sebagai ajang tari Ngrema
aktifitas peran dilaksanakan oleh Semar dan
(dapat berada di depan gamelan atau di
Bagong.
samping kiri atau kanan, bergantung luas
pekarangan rumah tempat pergelaran).
2. Peran dan Fungsi Semar dalam
Depan dan belakang panggung pergelaran
Pergelaran Lakon
dipergunakan sebagai tempat duduk para
a. Semar di dalam Struktur Pergelaran tamu dan khalayak publik penonton umum
Lakon
nontamu.
Penataan kelir sebagai tempat utama
Struktur pergelaran wayang kulit gaya
pergelaran lakon, seperti halnya pergelaran
Jawa Timuran secara umum dapat dijelaskan
lakon wayang kulit pada umumnya, kanan-
sebagai berikut.
kiri kelir berisi deretan wayang kulit dan
1. Gendhing Giro ( Gendhing Suguh Tamu)
bagian tengah terdapat ruang putih kosong
2. Tari Ngrema (Ngrema Putra dan Ngrema
sebagai ruang pentas lakon. Perbedaan
Putri)
penataan wayang di deret kiri-kanan layar
3. Ayak Sepuluh
antara tradisi Jawa Tengahan dan Jawa
4. Panggungan:
Timuran tergambar pada kekhasan tradisi

294
Humaniora Volume XV, No. 3/2003

Peran dan Fungsi Tokoh Semar-Bagong dalam Pergelaran Lakon Wayang Kulit

Jawa Timuran menempatkan posisi tokoh menggambarkan bagaimana situasi alam
Batara Guru dan Betari Durga ditonjolkan masih chaos , orang-orang hilir-mudik berda-
berada di atas wayang-wayang yang tangan, bertegur-sapa, atmosfer perhelatan
ditancapkan di atas gedebog pisang. Di hidup masih belum tertata, belum tertib. Se-
samping itu, yang paling khusus adalah lanjutnya disusul dengan tari Ngrema Putra
sebelum pergelaran dimulai, tokoh Semar dan Putri yang menggambarkan bagaimana
dan Bagong ditancapkan saling berhadapan proses penciptaan tertib hidup berlangsung,
di tengah kelir bersamaan dengan Gunungan bagaimana kesuburan berproses dan yang
sehingga Semar dan Bagong ditengahi oleh nantinya akan terbit sebuah tertib kosmos
Gunungan. Posisi Semar berada di sebelah dengan adanya kelahiran hidup manusia.
kiri dan Bagong di sebelah kanan dari posisi Manusia yang hidup harus menjalani lakon
dalang jika menghadap kelir. Dengan posisi hidupnya masing-masing. Lakon hidup penuh
seperti ini, penonton di balik kelir akan dengan dinamika, penuh dengan relasi dan
melihat posisi Semar berada di kanan dan interrelasi yang melahirkan berbagai nuansa
Bagong di kiri. romantika. Itu sebabnya pada saat menjalani
Semar-Bagong hakikatnya adalah lakon hidup itu diperlukan figur pendamping,
tunggal dan memiliki peran penting dalam figur yang memiliki sifat membimbing,
pergelaran lakon wayang kulit gaya Jawa menyertai, dan memberikan kekuatan batin
Timuran. Bagong yang secara historis yang meneguhkan hidup. Semar dalam
merupakan bayang-bayang Semar dalam fungsi ini dijelaskan dalam narasi lakon
rangka pergelaran lakon menjadi sarana bahwa namanya selain Semar adalah Semar
penjabaran simbolik bagaimana Semar dan Badranaya yang artinya samar-samar antara
siapa Semar di antara kehidupan masyarakat gelap dan terang bagaikan wajah rembulan,
manusia dan masyarakat dewa. Semar selain juga disebut Bagasampir. Baga dalam
bertugas menyertai, mengawal, dan bahasa Kawi berarti ‘rahim’; sampir berarti
membimbing para ksatria Kasutapan, satria selendang, kain, samir. Akan tetapi dalam
yang kuat dalam bertapa, satria yang pedalangan kata sampir diartikan sebagai
memiliki nurani humanisme dan kekuatan fungsi lingga dan Baga diartikan Yoni. Dalam
rohani dan jasmani yang sehat. Oleh karena bahasa Jawa Kuna, kata baga berhubungan
itu, Semar dan Bagong secara simbolik dengan kata bhagawisaya, ‘yang berhubung-
ditempatkan sebagai pembuka dan penutup an dengan Yoni’; sedangkan Bhaga berarti
sebuah pergelaran lakon kehidupan manusia, ‘kemaluan wanita’. Melalui arti kata ini tampak
lakon sebagai pementasan mitos kehidupan jelas bahwa Semar dimaknai sebagai simbol
di dalam alam Mercapada dan yang masih kerahiman, pusat terbentuknya hidup dan
senantiasa menjalin relasi dengan alam kehidupan manusia dan hayati sehingga
Kahyangan. Kedudukan Semar menjadi sudah pada tempatnya apabila fungsinya
semakin jelas dalam fungsinya di antara memelihara kehidupan, menyertai dan mem-
peran-peran lakon serta di antara relasi-relasi bina kehidupan manusia di alam Mercapada.
tokoh lainnya. Semar sekaligus menjadi Tari Ngrema yang menggambarkan
simbol kesuburan dan kekuatan sakti bagi proses kesuburan dan terbitnya kehidupan
para tokoh yang disertainya karena dari dapat disejajarkan dengan bentuk seni Tayub
dalam diri Semar tumbuh Bagong, Dewi atau Tandhak . Pada umumnya, siang hari
Muleg, dan Besut, sedangkan Saraganja sebelum pergelaran lakon wayang berlang-
hidup dari transformasi senjata, wujud sung, di dalam pesta hajatan di kolektif
kesaktian Semar. masyarakat Jawa Timuran, dilangsungkan
Struktur bangun pergelaran wayang kulit acara tandakan , yaitu tari tayub yang
Jawa Timuran tampak jelas membagi melibatkan pemuka masyarakat setempat
susunan tataran mitos kejadian alam dan tamu-tamu khusus untuk menari
semesta di Jagat Mercapada. Tataran bersama penari tandhak yang diselingi
tersebut digambarkan dengan Gendhing Giro dengan acara puncak minum tuak , ‘minuman
atau Gendhing Suguh Tamu yang kiranya beralkohol dari buah aren’. Suasana

295
Humaniora Volume XV, No. 3/2003

Wisma Nugraha Christianto R.

tandhakan menggambarkan bagaimana bebendhu. Kresna tidak mengetahui perihal
romantika laki-laki dan perempuan yang
akan datangnya Wahyu. Patih Jayawasesa
berinteraksi secara simbolik di dalam ritus
marah, mengapa Kresna yang termashur
kesuburan. Demikian pula Tari Ngrema Putra
tidak tahu-menahu tentang Wahyu. Jaya-
dan Putri digarap lebih halus dalam tataran
wasesa berniat memaksa Kresna meng-
simbolik yang merepresentasikan ritus
hadap Prabu Tejakusuma untuk menjelaskan
kesuburan tadi untuk mengantar peragaan
perihal Wahyu.
mitos kehidupan dalam bentuk pentas lakon.
Kresna mempersilakan Jayawasesa
Dalam konteks pentas lakon nanti, Semar-
keluar pasewakan, diiringi Setyaki.
Bagong sebagai pembimbing manusia
Kresna memerintahkan Udawa untuk
menjalani hidup yang bijak dan bajik bertugas
mempersiapkan prajurit berjaga-jaga jika
mengawal kelir sebagai simbol dunia Merca-
terjadi perang. Udawa tidak boleh menyerang
pada. Sementara itu, secara naratif, Semar
sebelum mendapat perintah dari Setyaki.
dan Bagong serta Panakawan lain akan hidup
di dalam lakon serta muncul pada saat Gara-
Bubaran
gara yang berada di antara Jejer I dan Jejer II
Jayawasesa dan Punakawan Pak
yang diwarnai munculnya konflik-konflik da-
Mujeni- Pak Mundhu membicarakan tentang
lam hidup. Konflik dibangun di tengah jejer I
Kresna yang merasa tidak mengetahui sama
ketika pertemuan di sebuah kerajaan
kedatangan tamu yang membawa awal sekali perihal Wahyu. Jayawasesa ingin
masalah hingga diwujudkan dalam adegan memaksa Kresna untuk diajak ke Negeri
Perang Gagal. Selanjutnya masalah dilerai Harga Samar, tetapi Pak Mujeni mengingat-
dengan Gara-gara dan setelah itu konflik
kan agar tidak berlaku kasar terhadap
dibina memuncak ke dalam Jejer II dan Kresna. Jayawasesa tetap bersikeras akan
dilanjutkan dengan Perang Brubuh sebagai
memaksa Kresna.
puncak konflik sekaligus pelerai.
Perang Gagal 1
b. Semar di Dalam Lakon
Jayawasesa ditemui Setyaki; Jaya-
wasesa tetap ingin memaksa Kresna dan
Untuk memahami peran dan fungsi
Setyaki berusaha mempertahankan Kresna.
Semar dalam lakon pergelaran wayang kulit
Masing-masing pihak berusaha memper-
diperlukan sebuah lakon sampel sebagai
tahankan pendirian sehingga terjadi konflik
bahan kajian secara naratif. Lakon sampel
sampai kontak fisik, saling baku hantam.
dalam kajian ini direkam pada 31 Oktober
Setyaki tidak mampu menghadapi Jaya-
2001 dalam kesempatan acara Sedekah
wasesa.
Bumi di Desa Cemandi, Kabupaten Gresik.
Acara Sedekah Bumi ini mempergelarkan
Limbukan
lakon Tumuruning Wahyu Purbaningrat oleh
Adeg
Dalang Ki Surwedi dari Kabupaten Sidoarjo.
Isi ringkas lakon tersebut demikian.
Bagong diutus Kresna mencari Begawan
Kapiwara atau Anoman untuk menghadapi
Jejer Dwarawati: Pathet 10
Jayawasesa. Bagong menemukan Begawan
Kresna, Samba, Setyaki: membicara- Kapiwara di atas pohon beringin, alun-alun.
Bagong menjelaskan maksudnya kepada
kan ketenteraman Dwarawati.
Begawan Kapiwara bahwa Kresna memer-
Tamu datang: utusan Prabu Tejakusuma
lukan kesediaannya menghalau Patih Jaya-
dari kraton Harga Samar, bernama Patih
wasesa yang telah mengganggu ketente-
Jayawasesa, datang menghadap Kresna
raman Dwarawati. Begawan Kapiwara atau
minta penjelasan akan datangnya Wahyu.
Anoman segera menyanggupi dan mengajak
Negeri Harga Samar sedang dirundung
Bagong bersama-sama menghadapi Patih
‘Bebendu’ sehingga membutuhkan wahyu
Jayawasesa.
yang akan turun untuk menanggulangi

296
Humaniora Volume XV, No. 3/2003

Peran dan Fungsi Tokoh Semar-Bagong dalam Pergelaran Lakon Wayang Kulit

Perang Gagal 2 Arjuna. Semar berangkat mencari Roh
Arjuna.
Anoman menemui Jayawasesa serta
meminta agar Jayawasesa tidak perlu Adeg
memaksakan kehendaknya terhadap Kresna
Mangundiwangsa atau Bagong dan
/Jayawasesa tetap bersikukuh hendak
Begawan Kapiwara atau Anoman sudah tiba
membawa Kresna agar menjelaskan
di Pertapaan Indrakila, menuju Gua Minta-
keberadaan ‘Wahyu’ untuk meredam
raga tempat Arjuna bertapa. Bagong bertemu
‘Bebendu’ di negerinya. Selanjutnya Anoman
dengan Besut dan menanyakan ke mana
menghajar Jayawasesa hingga Jayawasesa
Semar perginya. Besut tidak dapat menjelas-
lari.
kan karena Semar pergi mencari Arjuna.
Adeg Padahal, kenyataannya Arjuna masih berada
di tempatnya bertapa. Bagong melihat Arjuna
Jayawasesa melaporkan kekalahannya
dalam sikap tapanya serta mengetahui
menghadapi Anoman kepada Prabu Teja-
bahwa Arjuna tinggal wadagnya saja.
kusuma. Prabu Tejakusuma mengajak
Bagong menyuruh Besut pulang me-
Jayawasesa untuk membuat onar Negara
nemui ibunya, Dewi Muleg yang sudah lama
Amarta agar Kresna terpancing datang
ditinggal sendirian di Dusun Karangklethak,
membantu.
sedangkan Bagong akan mengganti Besut
Adeg
menjagai wadag Arjuna.
Setelah Begawan Kapiwara atau Bagong merasakan wadag Arjuna sudah
Anoman berhasil menghalau Patih Jaya- semakin memburuk karena kosong bagaikan
wasesa bersama dengan Bagong berniat jasad. Segeralah Bagong berinisiatif mera-
menemui Kresna untuk melaporkan suki wadag Arjuna agar tidak rusak. Bagong
keberhasilannya. Di samping itu, Bagong membaca mantra pemberian Semar untuk
bermaksud meminta Kresna agar bersedia
melepas Roh dari wadagnya dan merasuki
menggugah tapa Arjuna yang terlalu lama. wadag Arjuna. Begawan Kapiwara dan Raga
Namun, Kresna tidak berada di kraton karena Arjuna yang diisi oleh Bagong pergi menuju
sedang bertapa yang ditunggui oleh Setyaki Amarta.
dan Samba. Bagong minta kepada Setyaki
Semar yang mencari Arjuna telah
dan Samba agar membangunkan Kresna dari
sampai di Gunung Kutharunggu. Sesampai
tapanya, tetapi permintaannya ditolak. Lalu
di Plawangan Kutharunggu, Semar menda-
Bagong nekat menerobos masuk ke ruang
pati Kresna bersemedi tinggal wadag saja.
tapa Kresna yang ternyata kosong. Setyaki
Semar merasa gusar jangan-jangan tubuh
dan Samba terheran-heran setengah tidak
Kresna cepat rusak karena kosong, maka
percaya.
Semar merasuki wadag Kresna agar tidak
Bagong dan Anoman segera berangkat rusak. Selanjutnya Raga Kresna yang berisi
ke Gunung Indrakila untuk mencari Arjuna
Semar pergi ke Amarta.
yang sedang bertapa.
Adeg
Gara-Gara: Pathet 8 – Pathet 9
Di suatu tempat, Sukma Kresna
Semar dan Besut sedang menjagai
bertemu dengan Sukma Langgeng atau
Arjuna yang sedang bertapa di Gua Minta-
Sukma Arjuna. Sukma Kresna atau Sukma
raga. Mereka berdua bercengkerama sambil Wicara bertanya kepada Sukma Langgeng
menjelaskan berapa lama mereka menunggui
dari mana saja perginya hingga raga
Arjuna bertapa. Selanjutnya, Semar melihat ditinggalkan lama. Sukma Langgeng menje-
bahwa Arjuna sudah meninggalkan wadag- laskan bahwa ia baru saja datang dari
nya terlalu lama sehingga Semar gusar dan
Kayangan Langit Inten dalam rangka mencari
berniat mencarinya agar tidak terjadi hal
senjata Sumping Sorengpati dan Sumping
buruk. Besut diminta untuk menjagai wadag Jayamulya yang lenyap. Ternyata Kresna

297
Humaniora Volume XV, No. 3/2003

Wisma Nugraha Christianto R.

pun kehilangan pusaka Sumping Sekar Akhirnya ‘Semar’, ‘Bagong’, Dewi Muleg, dan
Wijaya kusuma. Mengapa mereka mencari Besut bersama-sama mencari Raga Kresna
pusaka mereka yang hilang sebab dengan dan Raga Arjuna.
pusaka masing-masing berada di tangan
Jejer Pathet Serang
mereka, mereka akan mendapat ‘Wahyu’.
Semar (Kresna), Bagong (Arjuna), Dewi
Keduanya belum berhasil menemukan
Muleg, Besut menemui ‘Kresna’ dan ‘Arjuna’
pusaka yang lenyap tersebut. Karana itu,
dan mereka pun saling menandai hingga
mereka bersepakat hendak kembali ‘pulang’
akhirnya saling bertukar Roh, kembali ke
ke raga masing-masing. Pada saat kedua
dalam raga masing-masing.
Sukma menemukan raga atau wadagnya,
mereka terkejut karena raga Kresna dan raga Kresna dan Arjuna menceritakan kepada
Semar bahwa pusaka Sumping mereka
Arjuna sudah tidak berada di tempatnya
hilang hingga belum mampu menemukannya.
masing-masing. Berikutnya mereka sepakat
Arjuna dengan rendah hati memohon kepada
akan mencari raganya ke Amarta.
Semar agar berkenan menemukan Pusaka
Jejer Amarta: Pathet 9
Sumping yang hilang. Semar bersedia mem-
bantu dan mengajak mereka ke medan
Pertemuan keluarga Pandawa di Amarta
pertempuran antara Werkudara dengan
tanpa dihadiri Arjuna. Werkudara merasa
Jayawasesa.
gusar karena Arjuna telah lama meninggal-
kan kerajaan untuk bertapa.
Perang Badhar
Perang Brubuh: Pathet 9
Peperangan antara Werkudara dan Jaya-
Prabu Tejakusuma dan Patih Jayawasesa
wasesa berlangsung seru, namun akhirnya
datang membuat onar Kerajaan Amarta. Werkudara dikalahkan oleh Jayawasesa.
Gatotkaca bertugas menghadapi kedua tamu
Arjuna datang serta menghadapi Patih
perusuh tersebut. Gatotkaca bertempur
Jayawasesa. Jayawasesa kalah serta seke-
melawan Patih Jayawasesa dan kalah.
tika itu lenyap, berubah wujud menjadi
Gatotkaca menghadap Werkudara dan
Sumping Jayamulya dan Sumping Soreng-
melaporkan kekalahannya. Werkudara pati. Di tempat lain, Kresna berhasil
segera menghadapi Jayawasesa. menaklukkan Prabu Tejakusuma yang akhir-
nya berubah wujud menjadi Sumping Sekar
Di sela peperangan Werkudara dengan
Wijayakusuma.
Jayawasesa sedang berlangsung, Anoman
dan “Raga Arjuna” datang, disusul ke-
Sumping Jayamulya dan Sumping
datangan “Raga Kresna”. “Raga Kresna” Sorengpati merasuk ke dalam tubuh Arjuna,
menemui “Raga Arjuna” dan saling menge- sedangkan Sumping Sekar Wijayakusuma
nali bahwa keduanya adalah Semar dan merasuk ke dalam tubuh Kresna. Para Dewa
datang memberikan Wahyu kepada Kresna
Bagong.
dan Arjuna. Kresna memperoleh Wahyu
Sukma Langgeng dan Sukma Kresna menge-
Purbaningrat, sedangkan Arjuna memperoleh
tahui bahwa raga telah dimasuki orang lain.
Wahyu Sekarningrat.
Karena itu, mereka harus mencari raga lain
dan menemukan Raga Semar dan Raga
Jejer Pamungkas
Bagong. Sukma Wicara atau Sukma Kresna
Werkudara, Arjuna, dan Kresna bertemu dan
memasuki Raga Semar, sedangkan Sukma
menceritakan peristiwa penerimaan ‘Wahyu’.
Langgeng atau Sukma Arjuna memasuki
Raga Bagong. Keduanya menemui Dewi Mereka akhirnya kembali ke Amarta dan
berkumpul kembali dengan Pandawa.
Muleg dan Besut untuk minta penjelasan ke
mana Semar dan Bagong pergi. Besut
Tancep Kayon
menjelaskan bahwa Semar pergi mencari
Arjuna, sedangkan Bagong menggantikan
Setelah mengikuti isi ringkas Lakon
Besut menjagai Arjuna yang sedang bertapa.
Tumuruning Wahyu Purbaningrat dapatlah

298
Humaniora Volume XV, No. 3/2003

Peran dan Fungsi Tokoh Semar-Bagong dalam Pergelaran Lakon Wayang Kulit

ditilik di mana kedudukan Semar dan apa dalam Raga Kresna dan Arjuna yang secara
fungsinya dalam lakon. Sebelum melihat mitologis mereka itu bersifat ‘Dwi Tunggal’.
relasi antara Semar dengan Tokoh Arjuna dan Itu artinya harus dijagai oleh Semar – Bagong
Kresna, dapat dilihat relasi Semar sebagai
yang posisinya juga ‘Dwi Tunggal’.
Panakawan tidak berelasi dengan Togog- Kedwitunggalan Semar-Bagong ini jelas
Bilung, tetapi dengan tokoh Panakawan Pak
muncul di dalam sulukan sebagai berikut.
Mundhu-Pak Mujeni yang mengikuti Patih
Eee..Kocap kacarita, Mangundi-
Jayawasesa. Peran Pak Mundhu – Pak
wangsa nekep dhadhane, emut
Mujeni sebagai Panakawan yang posisinya
wejangane Ki Lurah Semar nalika
seiring dengan Togog – Bilung yang secara
mejang kaliyan Panembahan Kapi-
khusus sebagai abdi penyerta para tokoh
wara, ana kandha suksma Mayang-
keturunan Braham atau angkara murka atau
kara. Kurangane napa Bagong karo
tokoh keturunan Alengka. Pak Mundhu – Pak
Semar, sinebut Bladhu, wong siji
Mujeni dalam lakon ini menyertai tokoh dari
dibelah dadi loro, nadyanta budhu-
Negara Sebrang, negara yang tidak dikenal
budhuwa Bagong, kedunungan
di mana dan bagaimana keadaannya. Pak
ngerti…
Mundhu dan Pak Mujeni merupakan
Panakawan khas dalam tradisi pedalangan Eee.. terceritakanlah, Mangundi-
Jawa Timuran, tidak ditemui dalam tradisi
wangsa mendekap dadanya, ingat
lainnya. Ikonografi kedua tokoh itu khas akan ajaran Ki Lurah Semar ketika
sebagaimana orang Jawa, baik profil dan
mengajarkan ilmu kepada Panembah-
pakaiannya.
an Kapiwara, di dalam cerita Suksma
Semar dan Bagong, dalam lakon ini Mayangkara. Apa kekurangan antara
tampak jelas kedudukannya sebagai abdi
Bagong dan Semar, disebut Bladu,
setia bagi tuannya. Fungsinya menjagai, seorang yang dibelah menjadi dua diri.
merawat, membimbing, serta memberikan
Sebodoh-bodoh Bagong masih dapat
solusi terhadap masalah-masalah yang sulit
dianggap mengerti, …
dipecahkan oleh tuannya. Semar menun-
Pada waktu Semar sedang mencari Arjuna,
jukkan kepada Arjuna dan Kresna di mana
didapatinya raga Kresna juga kosong. Karena
pusaka Sumping itu berada. Terbukti bahwa
itu Semar berkata:
Sumping-sumping itu telah berubah wujud
menjadi manusia yang sedang membuat
“Hemm, Janaka lunga tanpa paring
kekacauan sehingga hanya dapat ditunduk-
paliwara, Kresnane minggat tanpa ana
kan oleh pemilik masing-masing.
sing dikandhani. Raga dijarna
Pada saat Arjuna bertapa, Semar
gledhag, wee lha dalah…. Kresna!
berupaya menungguinya, berjaga-jaga
Janaka! Kowe tak goleki nang ngendi
terhadap segala kemungkinan buruk. Pada
papan panggonmu!”
saat tubuh Arjuna telah kosong sekian waktu
lamanya, Semar berinisiatif mencarinya. “Hemm, Janaka pergi tanpa memberi
Semar menyerahkan tugas pengawasan pesan, Kresnanya minggat tanpa
kepada Besut, kemudian Bagong
seorang pun diberi tahu. Raga
menggantikan kedudukan Besut. Bagong
dibiarkan terserak, wee lha dalah…
merasa bertanggung jawab akan keselamat- Kresna! Janaka! Kucari kau, di mana
an Raga Arjuna tuannya karena telah kau berada!”
kosong. Karena itu, Bagong merasuki Raga
Arjuna agar tidak rusak. Di tempat berbeda,
Kedudukan Semar sebagai seorang abdi
Semar pun menemukan Raga Kresna juga
ksatria Arjuna dan Kresna, dalam rangka
kosong. Karena itu, Semar merasukinya menunjukkan fungsinya sebagai ‘pamong’
dengan tujuan yang sama dengan Bagong. yang memelihara jiwa-raga tuannya ketika
Dalam kasus ini peran Semar dan Bagong melihat keduanya sedang kosong menjadi
sama persis, keduanya didistribusikan ke gusar. Semar bergumam dengan bahasa

299
Humaniora Volume XV, No. 3/2003

Wisma Nugraha Christianto R.

‘ngoko’. Pemakaian bahasa Jawa ‘ngoko’ ini dan Besut merupakan penjabaran jati diri
menunjukkan bahwa kedudukan Semar Semar yang dari dirinya lahir figur-figur
dihadapan tuannya bukanlah sekadar abdi
tersebut. Dengan demikian, dapatlah dipetik
pada umumnya, melainkan Semar yang
sebuah gambaran yang jelas bahwa ke-
berkedudukan sebagai ‘orang tua’ di hadapan dudukan dan fungsi Semar dalam relasi
para tuannya. Kedudukan Semar seperti ini
dengan:
dipertegas lagi di dalam adegan ketika Arjuna
1. Bagong, Dewi Muleg, Besut, sebagai
merintih kepada Semar memohon agar
orang tua genetik; Fungsinya sebagai
Semar menolongnya menemukan pusaka
‘sesepuh’ keluarga sekaligus sebagai
Sumping yang lenyap.
‘guru’; fungsi kepala kerabat;
2. Semar dan Bagong dengan Arjuna dan
“Kakang Semar, Kakang Semar,
Tulungana aku Kakang Semar nggo- Kresna, serta Keluarga Pandawa, seba-
gai abdi, sebagai orang tua asuh, dan
leki sumpingku, Kakang Semar. Rika
iki tak anggep wong tuwaku, wulu sebagai sumber kesaktian; Fungsinya
cumbu negara Ngamarta, ya rika, merawat, membimbing, melindungi, dan
punakawan jimat rika karo Bagong”. mengarahkan para bimbingannya;
Fungsi Semar di hadapan para Pandawa
“Eh kula tuduhaken wonten pundi,
adalah sebagai sumber pengayoman
sumping sampeyan wong loro”.
dan sumber kesaktian karena telah
“Kakang Semar, Kakang Semar,
membuka jalan ke arah turunnya Wahyu
Tolonglah aku Kakang Semar
atas Arjuna dan Kresna.
mencarikan sumpingku, Kakang
Semar. Kamu telah kuanggap sebagai
Kesimpulan
orang tuaku, aabdi tersayang negara
Berdasarkan pembahasan sebelumnya
Amarta, ya kamulah panakawan jimat,
dapat ditarik sebuah gambaran yang jelas
kau dan Bagong.”
kedudukan dan fungsi Semar dalam
“Eh, akan saya tunjukkan di mana
pergelaran wayang kulit gaya Jawa Timuran
sumping kalian berdua”.
sebagai berikut.
1. Semar di dalam totalitasnya berada di
Melalui perkataan Arjuna kepada Semar
dalam pergelaran wayang kulit gaya
tampak jelas bahwa kedudukan Semar
Jawa Timuran berperan sebagai figur
sebagai abdi terhormat juga sebagai ‘orang
pengawal peragaan mitos kehidupan
tua’, sebagai figur yang memiliki kemampuan
manusia dalam lakon.
di luar kesanggupan manusia pada umum-
nya. Semar adalah tokoh yang sangat tua
2. Semar berfungsi sebagai sumber
dalam kedudukannya sebagai Dewa yang
pengayoman bagi umat manusia yang
turun ke dunia. Seperti diuraikan melalui
sedang mengalami kesulitan dalam
naratif sebagai berikut: “Semar tegese Sem,
upaya menemukan peneguhan jati diri.
peteng, Mar, padhang. Samaring samar wis
3. Semar menjadi bapak sekaligus bunda
kanggonan. Durung onok Bumi, Semar wis
bagi Panakawan serta para ksatria yang
nandur jagung…” (Semar berarti: Sem, gelap,
berada di bawah bimbingan dan
Mar, terang. Samarnya samar telah ada,
penyertaannya.
sebelum bumi ada Semar telah menanam
4. Fungsi Semar secara umum adalah
jagung).
pemelihara kesuburan dan pelerai
Kedudukan Semar di antara sesama
kerumitan hidup.
Panakawan Bagong, Besut, Dewi Muleg,
adalah sebagai orang tua, sebagai bapa (di 5. Di dalam naratif, Semar dan Bagong
hadapan Bagong), sebagai kakek (di
merupakan figur yang berkedudukan
hadapan Besut), sebagai mertua (di hadapan sebagai inside narator sekaligus ber-
Dewi Muleg) meskipun Bagong, Dewi Muleg, fungsi sebagai inside translator dari

300
Humaniora Volume XV, No. 3/2003

Peran dan Fungsi Tokoh Semar-Bagong dalam Pergelaran Lakon Wayang Kulit

naratif yang dilakonkan oleh dalang Martin, Wallace. 1986. Recent Theories of
sehingga hakikat Semar adalah dalang Narrative. London: Cornell University
itu sendiri dalam lakon. Hal ini tampak Press.
ketika Semar memerintah Bagong untuk
Ras, J.J. 1978. “De Clownfiguren in de
mencari Anoman agar Anoman bersedia
Wajang”. Bijdrage tot de Taal-, Land-,
menghalau pengacau yang bernama
en Volkenkunde, 134, 1978, 4e
Patih Jayawasesa dan Semar
Aflevering.
membongkar kedok Jayawasesa
bersama dengan Prabu Tejakusuma. Siegel, James T. 1986. Solo in The New Or-
Tampak bahwa Semar telah mengetahui der. Language and Hierarchy in an In-
jati diri dua tokoh pengacau tadi adalah donesian City. New Jersey: Princenton
alih wujud dari pusaka Arjuna dan University Press.
Kresna. Dari fungsi ini Semar memiliki
Suyanto. 2002. Wayang Malangan.
wibawa dan kuasa yang besar di dalam
Surakarta: Citra Etnika.
penjabaran lakon.
Timoer, Soenarto.1988. Serat Wewaton
6. Secara ringkas dapat ditegaskan bahwa
Padhalangan Jawi Wetanan Jilid I, II.
fungsi Semar di dalam pergelaran lakon
Jakarta: Balai Pustaka.
wayang kulit gaya Jawa Timuran adalah
pemelihara ritus kesuburan dan tertib
Data Rekaman Pergelaran
kosmos.
1. Pergelaran lakon Tumuruning Wahyu
Purbaningrat dalam rangka Upacara
DAFTAR PUSTAKA
Sedekah Bumi di Desa Cemandi,
Clara van Groenendael, Victoria M. 1987a. Kabupaten Gresik, 31 Oktober 2001,
Dalang di Balik Wayang. Jakarta: Grafiti oleh Dalang Ki Surwedi dari Kabupaten
Sidoarjo.
Pers.
2. Pergelaran lakon Wahyu Kembar dalam
————–. 1987b. Wayang Theatre In Indo-
rangka hajat khitan di Dusun Grogol,
nesia. An Annotated Bibliography.
Lakarsantri, Kabupaten Gresik, 14 Juli
Dorrdrecht: Foris Publications.
2002, oleh Ki Surwedi.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
3. Pergelaran Lakon Ricik-Ricik Ganda-
Direktorat Jenderal Kebudayaan, tt.
baya dalam rangka hajat pernikahan di
Penulisan Lakon Pedalangan Gaya
Desa Dawar Blandong, Kabupaten
Jawa Timur, Taman Budaya Jawa Timur.
Mojokerto, 17 Juli 2002, oleh Ki Surwedi
Kayam, Umar. 2001. Kelir Tanpa Batas.
4. Pergelaran lakon Rabine Sentanu dalam
Yogyakarta: Pusat Studi Kebudayaan
rangka hajat pernikahan di Dusun
UGM.
Plumpung, Desa Bakong Pringgodani,
Kecamatan Balongbendo, Kabupaten
Keeler, Ward. 1987. Javanese Shadow Plays,
Sidoarjo, 15 November 2001, oleh Ki
Javanese Selves. New Jersey:
Surwedi.
Princenton University Press.

Wisma Nugraha Christianto R

Humaniora Volume XV, No. 3/2003

About these ads

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 198 other followers

%d bloggers like this: