Catatan Dari Berbagai Pagelaran Wayang

Memahami penonton ‘tradisional’ pada suatu pagelaran wayang, memang menarik. Di wilayah kota besar, mungkin karena kesibukan sehari-hari masyarakat yang luar biasa, maka peri-laku penonton menjadi lain dari pada saat suatu pagelaran wayang di pentaskan di wilayah pedalaman. Cobalah simak, pernyataan asisten Ki Purboasmoro yang menyatakan komentarnya di bawah ini.

Pagelaran wayang Ki Purboasmoro di Taman Mini. Dari asisten Ki Purbo: Sanget sikses wau dalu saking semangat lan dukungan kathah para penggemar Facebook, Paguyuban Pecinta Wayang,penggemar TMII, lan sanes2ipun kathah. Jam 8 dalu, jam 9 dalu taksih sepiiiiiiiiiii sanget lan jawah, ning jam 10:00 pun kebuuuuuak lan kathah sanget pamirsa ingkang semangat lan komunikatif. (Terjemahan: Sangat sukses tadi malam sebab semangat dan dukungan banyak penggemar Facebook, Paguyuban Pecinta Wayang, penggemar TMII, dan banyak lagi lainnya. Jam 8 malam, jam 9 malam; masih sangat sepi penonton dan hujan. Tetapi, pada jam 10 sudah sangat penuh dan banyak sekali penonton yang sangat bersemangat dan komunikatif).

Pada pernyataan di atas, ada semacam kebimbangan (pada awalnya) tentang peri-laku penonton yang terlampau sedikit pada saat awal pagelaran wayang dimulai. Hal yang sama, juga terjadi pada saat dilakukan pagelaran wayang kulit purwa dalam rangka ‘Road to Bandung Wayang Festival’ di GSG ITENAS pada hari Senin malam, 6 Desember 2010. Sebagian panitia pelaksana, juga sempat was-was. Bahkan, saat Rektor ITENAS dan panitia memberikan sambutannya, penonton masih sangat sedikit. Tetapi, saat malam semakin larut, penonton menjadi semakin banyak dan memenuhi ruang pagelaran.

Jika suatu pagelaran wayang dilakukan di wilayah pedalaman, maka biasanya sejak sekitar jam tiga atau empat sore, di sekitar tempat pagelaran sudah dipenuhi para pedagang kaki lima dan anak-anak. Sejak sekitar jam tujuh malam, lazimnya tempat pagelaran sudah dipenuhi penonton, yang berasal dari berbagai kalangan yang berbeda. Jadi hiruk-pikuk penonton, anak-anak, dan para pedagang kaki lima, pada awal pagelaran wayang merupakan kekhasan yang tidak bisa diperoleh di wilayah kota. Jangan lupa, di wilayah pedalaman, gamelan dan wayang biasanya sudah ditata sejak pagi hari. Dan, sejak siang hari, semua penduduk yang tinggal di sekitar tempat pagelaran wayang bisa melihat seperangkat gamelan yang siap untuk ditabuh, serta wayang kulit yang sudah ditata dan sudah ‘disimping’ rapi. Bahkan orang tua yang sedang ‘momong’ anaknya, bisa menikmati. Jadi kegiatan membuat panggung, kegiatan mengangkut gamelan saat datang, kegiatan menata gamelan, serta kegiatan menata wayang dan ‘nyimping wayang’, semuanya sudah merupakan bagian dari pagelaran yang bisa dinikmati masyarakat sekitar.

Jangan lupa pula, bahwa pagelaran wayang yang dilakukan di wilayah pedalaman, biasanya bukan merupakan suatu pagelaran yang secara khusus hanya menampilkan wayang kulit purwa semata, melainkan juga dipenuhi dengan sejumlah pagelaran lainnya. Misalnya, ada pagelaran karawitan Soran oleh para pemuda/pemudi, pagelaran panembrama (koor) oleh para ibu-ibu, pagelaran karawitan oleh bapak-bapak atau remaja yang sedang belajar menabuh gamelan, dan/atau pagelaran ‘beksan’ (tari). Kegiatan-kegiatan yang dilakukan sebelum pagelaran wayang dimulai, lazim disebut ‘gebyakan’, yang secara mudah artinya ‘menampilkan secara meriah’ . Misalnya, menampilkan suatu hasil latihan kesenian daerah yang dilakukan di sekitar tempat pagelaran. Bahkan kegiatan menghias panggung dengan berbagai ‘uba-rampe’ (kelengkapan) dan ‘upa-rengga’ (hiasan), sudah merupakan bagian dari kegiatan pagelaran yang menyenangkan dan bisa dinikmati masyarakat sekitarnya.

Jadi pagelaran wayang, sebelum dimulai, seringkali merupakan suatu kesempatan yang dipandang tepat untuk menampilkan dan mempagelarkan hasil latihan berbagai bentuk kesenian tradisional. Hal inilah yang dengan segera membedakannya dengan pagelaran wayang yang dilakukan di wilayah kota. Pada pagelaran wayang yang dilakukan di wilayah pedalaman, penonton pada saat sore hari, biasanya adalah mereka yang berkepentingan dengan pagelaran awal, dan bukannya penonton wayang. Misalnya, para orang tua (bapak, ibu, saudara, kerabat) yang anak-anaknya tampil, atau teman-teman, orang tua, dan guru dari murid-murid sekolah yang saat itu tampil menari. Meskipun begitu, bisa saja mereka itu pada malam harinya langsung meneruskan acaranya dengan menonton pagelaran wayang.

Di kota-kota besar, pagelaran wayang lebih sering ditemukan sebagai suatu bentuk pagelaran yang bersifat berdiri sendiri dan tidak ada pagelaran lain yang mengawalinya. Bahkan pagelaran wayang seringkali sama sekali tidak melibatkan masyarakat kecil (misalnya: pedagang kecil). Karena itulah, mereka yang datang sudah bisa dipastikan adalah penonton fanatik pagelaran wayang. Karena mereka biasanya merupakan anggauta masyarakat perkotaan yang relatif sibuk dengan kegiatan sehari-hari, maka selepas makan malam mereka barulah mereka bisa ‘keluar’ dari rumah untuk menonton pagelaran wayang. Salah satu yang juga menjadi kekhasan penonton wilayah perkotaan, adalah mereka biasanya merupakan anggauta komunitas atau kelompok tertentu. Karenanya, mereka akan cenderung saling melakukan perjanjian lebih dahulu dengan teman-teman sekomunitasnya, jadi nonton wayang atau tidak. Seringkali faktor ‘siapa yang menjadi dhalang-nya’ juga memegang peran penting. Jadi rupanya, daya tarik dhalang menjadi sangat penting, dibandingkan dengan lakon atau cerita yang ditampilkan.

Tidak ada salahnya, jika kita mengeksploitasi ‘kerinduan akan suasana pedalaman yang sangat tradisional’. Misalnya dengan melibatkan lebih banyak masyarakat pedagang kaki lima, pedagang kecil, penjaja makanan dan minuman, penjual makanan ‘tempe mendoan’, penjual sate, penjual buku komik, penjual bakso, penjual bakmi, penjual nasi goreng, penjual mainan wayang karton, atau penjual mainan anak-anak tradisional. Mengapa harus demikian? Jawabnya, semua hal ini tidak bisa lagi dinikmati oleh mereka yang tinggal di wilayah perkotaan. Mereka semua itu, sebenarnya merupakan dasar terbentuknya konsep ‘total theater’, yang melibatkan banyak pihak dalam suatu pagelaran yang merakyat dan tanpa dibatasi oleh sesuatu yang bersifat formal. Pagelaran semacam ini, bukan lagi menjadi milik panitia semata, melainkan merupakan suatu ‘pagelaran milik bersama’, yang dinikmati bersama dan ditonton bersama pula, sambil melakukan berbagai kegiatan, seperti makan, minum, menikmati kanan kecil, berbincang/ngobrol, naksir seorang gadis atau cowok, pacaran, bertemu sahabat lama, momong anak, dan bahkan tidur di tempat pagelaran.

Karena ini pula, lalu tidak diperlukan tempat duduk seperti kursi dan ruang tertutup seperti gedung kesenian modern. Ruang terbuka seperti ‘pendhapa’ atau lapangan yang disulap dengan dibuat ‘tarub’ (tenda tanpa dinding samping) berukuran besar, merupakan ruang pagelaran yang sangat tepat. Sebaliknya, dinding pembatas ruang gedung yang megah dan kursi mewah, yang sangat formal, dengan segera akan berdampak sangat membatasi hubungan interaksi sosial dan kekerabatan antar penonton. Hal ini, juga akan berakibat pagelaran menjadi sangat tidak interaktif. Penonton akan sangat segan untuk berteriak gembira, segan bertepuk tangan, atau berusaha tidak menangis meskipun adegannya sangat menyentuh hati. Penonton tidak bisa dengan mudah dan bebas saling bertegur sapa, atau saling bertemu.

Karenanya, duduk ‘lesehan’ beralas tikar atau karpet mengelilingi panggung pagelaran, merupakan salah satu pilihan yang sangat tepat. Kalaupun disediakan kursi, hanya sebatas untuk mereka yang sudah sedemikian sulit duduk bersila. Penonton bisa dengan mudah berpindah tempat duduk, menemui teman atau sahabat, menidurkan anak di pangkuannya, makan dan minum sambil bercanda dengan beberapa sahabat, atau berkenalan dengan sejumlah orang yang duduk di sebelahnya, yang semula tidak dikenalnya. Alangkah menyenangkan jika pagelaran wayang seperti ini bisa dilaksanakan di wilayah perkotaan yang miskin dengan suasana tradisional pedalaman.

Jika kita mau belajar dari apa yang secara sangat tradisional dilakukan oleh masyarakat di wilayah pedalaman, maka patut pula untuk dipertimbangkan adanya sejumlah ‘pagelaran awal’, sebelum pagelaran utama (berupa pagelaran wayang) dipertunjukkan. Misalnya, dengan melibatkan murid-murid sekolah untuk melakukan pagelaran awal, juga anggauta komunitas pecinta kesenian tradisional dan keluarganya untuk menampilkan hasil latihan dan karyanya, atau sekumpulan pegawai instansi/lembaga untuk menampilkan suatu pagelaran kecil lebih dahulu. Jadi, seperti layaknya suatu pagelaran di wilayah pedalaman, suatu pagelaran wayang yang dilakukan di wilayah perkotaan, dengan sedikit penyesuaian, sebenarnya bisa dilakukan secara jauh lebih semarak dari pada sekedar menampilkan pagelaran wayang semata.

Hal lain yang patut juga diperhatikan, adalah adanya pernyataan yang menampilkan pesan, supaya pagelaran wayang tidak direcoki dengan adanya ‘bintang tamu’ atau ‘pelawak’. Sedangkan adegan tertentu, sebaiknya tidak terlampau panjang, seperti dinyatakan di bawah ini.

Saenipun nggih mboten ngangge bintang tamu utawi…pelawak biasanipun sok ceritanipun ical…goro goro utawi limbukan mboten sah dangu dangu nanging sak cekapipun…kados KI PURBO meniko goro goro lan limbukan cekak aos… (Terjemahan: Sebaiknya, ya tidak memakai bintang tamu atau pelawak, karena biasanya berakibat menghilangkan/merusak alur cerita. Adegan ‘goro-goro’ dan ‘limbukan’, cukup pendek saja. Seperti yang dilakukan Ki Purbo, adegan ‘goro-goro’ dan ‘limbukan’ cukup singkat saja).

Meskipun pada sejumlah pagelaran wayang semula ada semacam kesenangan, saat seorang dhalang ditemani beberapa bintang tamu atau pelawak, tetapi rupanya penonton menjadi semakin jernih dan kritis, sehingga akhirnya bisa membuat kesimpulan yang jauh lebih masuk akal. Yakni, pagelaran wayang sebaiknya tidak dirusak dengan kehadiran bintang tamu atau pelawak. Ini merupakan salah satu gejala yang positif dan sangat baik, karena membuktikan bahwa penonton lebih menyukai pagelaran wayang apa adanya, dan tidak dirusak oleh keberadaan bintang tamu atau pelawak.

Bintang tamu atau pelawak yang disertakan pada suatu pagelaran wayang, semula memang dimaksudkan sebagai daya tarik (untuk mengumpulkan/menarik penonton). Tetapi seperti dinyatakan oleh banyak penonton, karena mereka ini bukan penyaji pagelaran, melainkan merupakan orang yang ‘dicangkokkan’ pada pagelaran, maka mereka itu lalu bisa menjadi benalu yang menggerogoti pagelaran wayang dan yang pasti juga merusak reputasi dhalang. Karena, dhalang lalu dipandang sebagai orang yang tidak mempu mengumpulkan dan mempertahankan penonton pagelaran.

Dari bahasan di atas, jelaslah bahwa sejumlah pagelaran wayang yang dilakukan di wilayah perkotaan, dalam batas tertentu dan dengan penyesuaian seperlunya, sebenarnya bisa ‘diubah’ sehingga bernuansa pedalaman dan tradisional, sehingga bersifat menyenangkan masyarakat penonton yang tinggal di wilayah perkotaan. Semoga…..

Bram Palgunadi

http://www.facebook.com/note.php?note_id=179614858731437

2 Comments (+add yours?)

  1. Trackback: habillawa
  2. Trackback: Seluk Beluk WAYANG « habillawa

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: